Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Ingin Dia Enyah


__ADS_3

"Kita enggak pindah."


Sakura terkejut luar biasa mendengar perkataan Abimanyu. Tentu saja Sakura berpikir bahwa Abimanyu adalah pemuda generasi Z yang tahu betul tinggal serumah dengan mertua ataupun orang tua setelah menikah adalah neraka.


"Beb, kamu becanda, kan? Kita udah besar. Kita bisa tinggal sendiri, ngurus diri sendiri, sambil sesekali pulang kalo kamu mau."


Abimanyu fokus memisahkan manggis dari kulitnya untuk camilan Yunia. Meski dia baik-baik saja tapi anak itu masih terbilang sakit, apalagi karena Juwita tidak bisa mengurusnya.


Papa mau tak mau harus fokus menghadapi keluarga Sakura sementara Lila dan Nia diurus oleh Oma juga Ibunya Juwita.


"Beb, please. Aku enggak mau tinggal sama orang tua kamu atau orang tua aku juga. Kita tinggal di apartemen aku aja, okay? Biar kita bebas juga ngapa-ngapain."


Abimanyu suka dengan kata bebas tapi setelah pernikahan, ia terus terang tidak tertarik pada Sakura. Jauh lebih menyenangkan menggendong Yunia seharian, walau ia bosan dan pegal.


"Enggak ada diskusi, Sayang." Abimanyu membuang kulit manggis terakhirnya, lalu mengambil mangkuk isi buah manggis untuk Yunia. "Aku ke Yunia dulu."


"Beb!" Sakura menahannya. "Kita tuh baru nikah tapi jangankan malem pertama, waktu buat ngobrol aja enggak ada karena kamu malah sibuk ngurus orang sakit."

__ADS_1


Saat dia menyebut kata terakhir, Abimanyu tahu dia mengarah pada Juwita bukan Yunia. Dan itu membuatnya marah.


"Malem pertama kita udah lewat tujuh purnama, oke? Seenggaknya paham situasi, Sakura."


"Kamu enggak pertimbangan perasaan aku!"


Karena itu enggak penting buat aku, adalah hal yang hampir Abimanyu keluarkan jika tak buru-buru mengerem mulutnya.


"Nanti malem," Abimanyu merendahkan suaranya, "kita 'malam pertama' lagi. Aku janji enggak ngecewain."


Abimanyu buru-buru berbalik, muak mendengarkan dia bahkan sebentar. Tak tahu kenapa tapi detik setelah kata 'sah' diucapkan, Sakura menjadi wanita paling menyebalkan yang pernah Abimanyu temui dalam hidupnya.


*


Juwita tak bisa berlama-lama di rumah sakit. Meskipun seorang ibu butuh libur dari tugasnya, kebutuhan anak-anak terhadap ibunya tidak bisa diliburkan.


Malam hari setelah seharian penuh di rumah sakit menenangkan diri, Juwita pulang dijemput oleh Adji.

__ADS_1


Bima pergi ke rumah Ibu dan tidak ikut bersama Juwita, dia takut jika bertemu anak-anak Juwita, anak tirinya, mereka justru bertengkar.


Sepanjang perjalanan, Juwita benar-benar cuma diam.


"Juwita." Itu membuat Adji buka suara lebih dulu. "Mas setuju buat saling percaya satu sama lain. Tapi nahan-nahan padahal bisa kamu ungkapin itu masalah, Sayang."


Kalau Juwita tidak habis curhat pada Bima, nisaya sekarang mereka bertengkar hebat. Namun karena Juwita sudah lega, ia bisa menjawab, "Enggak pa-pa, Mas. Ada juga yang enggak diungkapin biar kamu enggak nambah pikiran."


Adji menghadapi lebih banyak orang dari Juwita jadi Juwita selalu berusaha menjadi istri yang pendiam, agar Adji tidak stres di rumah.


Setiba di rumah, sesuai dugaan anak-anak mencari ibu mereka. Juwita tidur di kamar mereka untuk meyakinkan bahwa ia ada di sana.


Saat Juwita terlelap, Adji diam-diam datang, memegang tangan Juwita yang ditempeli plaster bekas infusannya.


Adji mengusap-usap punggung tangan Juwita. Mengecup tangan dan keningnya.


"Kamu perempuan paling sabar yang pernah aku tau," bisik Adji. "Jangan nyerah, Sayang. Mas di sini buat kamu."

__ADS_1


Semoga dia tak lupa itu. Meskipun Adji merasa dia agak melupakanya.


*


__ADS_2