Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Salah Paham


__ADS_3

"Papa katanya enggak pulang hari ini." Juwita tentunya harus memberitahu anak-anak berita itu, termasuk Abimanyu. "Sini, Yunia biar aku yang gendong. Kamu telfon istrimu, siapa tau ada apa-apa."


Abimanyu menghindar tanda dia menolak. "Yunia biar sama gue."


"Kamu pengantin baru. Istrimu prioritas sekarang."


Abimanyu tetap menghindar. "Bulan madu gue udah lewat tujuh gerhana jadi gue santai."


Kesabaran Juwita selalu setipis kertas jika berhadapan dengan Abimanyu sekarang. "Denger, Abimanyu, aku enggak peduli kapan kalian pertama kali tidur bareng tapi kamu baru nikah, jelas-jelas istri kamu nuntut waktu. Kasih dia waktu berdua, oke? Sekarang siniin anak aku."


Anak itu menatap Juwita beberapa saat, tapi kemudian dia mengalah, menyerahkan Yunia yang tertidur pulas.


Tentu saja, Juwita cuma datang mengambil anaknya untuk membawa dia ke kamar, menyusul yang lain. Namun saat Juwita baru melangkah pergi, Abimanyu menahan bahunya.


"Yunia bakal bangun kalo lo banyak gerak, Juwi." Abimanyu berbisik saat tangannya mendarat di pinggang Juwita.


Bibir Juwita langsung terlipat ke dalam. Ia berusaha untuk menghadapinya sebagai seorang wanita yang tegas namun tidak menimbulkan keributan.


"Sampe kapan lo mau kayak gini?" Anak itu bertanya pelan tapi setidaknya dia tidak melakukan hal lebih dari memegang pinggang Juwita. "Lo pasti banyak pikiran, kan? Lo selalu kayak gitu, Juwi."


Kini Juwita sudah tak menangis lagi sekalipun ia masih merasa sedih. Dirinya sudah terbiasa menerima kenyataan bahwa Abimanyu berubah menjadi badjingan tak tahu diri.


"Kamu enggak mau bikin aku banyak pikiran? Kalo gitu jangan banyak tingkah."

__ADS_1


"Gue enggak pernah banyak tingkah. Lo yang nolak makanya jadi banyak yang enggak perlu."


"Kamu sinting, hah?" Juwita ingin sekali berteriak jika tak ingin Yunia tertidur di bahu kirinya. "Bi, seenggaknya sadar kamu itu lagi ngomong sama istri Papamu."


"...."


"Kamu kira aku bahagia denger kamu ngomong 'cerai aja sama Papa baru kita nikah'. Sampe neraka jadi beku pun aku enggak bakal pernah mau sama kamu, ngerti kamu?"


"...."


"Even kamu cinta sama aku dan aku bukan istri Papamu aku juga enggak bakal pernah bales perasaan kamu. Kamu ngerti enggak sih? Cuma orang gila yang ngotot biarpun udah ditolak, Abimanyu."


Pegangan Abimanyu mendadak berubah jadi cengkram. Juwita terkesiap syok saat lengan anak itu memeluknya, menarik Juwita dalam pelukan yang benar-benar tidak pantas!


"Abimanyu!"


"Terus aku harus ngerti perasaan kamu sementara kamu sama sekali enggak ngerti kalo aku enggak mau sama kamu?!"


"Kalo gitu enggak ada yang perlu ngerti." Abimanyu mengubur wajahnya di bahu Juwita. "Gue mau lo, mau lo enggak suka sekalipun."


"Abimanyu—"


Suara laptop terjatuh ibarat suara bom molotov di telinga Juwita. Matanya melotot horor akan kehadiran Sakura di sana, yang juga berdiri terpaku.

__ADS_1


Oh, tidak. Tidak tidak tidak tidak! Ini tidak boleh terjadi sama sekali!


"Sakura—"


"Aku ngerti sekarang." Perempuan itu berjalan meninggalkan laptopnya yang rusak. Dia berdiri di hadapan Abimanyu dengan kemarahan yang jelas. "Kamu selingkuh sama Mama kamu sendiri makanya kamu butuh cover, aku, buat nutupin kalian!"


Pertanyaan Sakura tadi seketika terjawab sekarang.


"Sakura, enggak gitu." Juwita dengan panik menyerahkan Yunia pada Abimanyu dan mendorong dia pergi, setidaknya mengamankan Yunia dulu. "Dengerin Tante dulu. Enggak kayak yang kamu liat."


"Aku jelas-jelas liat kalian pelukan mesra!" bentak Sakura kalap. "Tante tuh enggak malu apa?! Tante jelas-jelas udah punya anak tapi bisa-bisanya Tante selingkuh, itupun sama anak Tante sendiri!"


Oh tidak. Tidak tidak tidak tidak! Demi Tuhan, tidak dengan apa pun yang anak ini pikirkan!


"Sakura, Tante sama Abimanyu—"


"O my gosh," gumam Sakura mendadak, semakin syok. "Jangan bilang Yunia anak Abi?!"


"Ya Tuhan Sakura!" teriak Juwita frustasi.


"Itu harusnya make sense karena Abi selalu meluk dia dari awal aku dateng!" balas Sakura murka. "Dasar pela-cur! Bisa-bisanya Tante masih tinggal di sini, pura-pura jadi perempuan suci padahal Tante cuma cewek murahan! Aku bakal laporin kalian ke Om Adji!"


Hanya sesaat setelah itu, Abimanyu berdiri di belakang Sakura dan berbisik tanpa emosi.

__ADS_1


"Lo mau rasain jadi janda dua hari habis nikah?" ancam pria itu lembut.


*


__ADS_2