Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
152. Mission Complete


__ADS_3

Abimanyu menekan alat mendengarnya.


"Target lagi terlalu gembira."


"Mantap. Siap-siap misi keempat."


Tapi sebelum Abimanyu berkata siap, suara teriakan Nana hilang, karena wanita itu tiba-tiba jatuh pingsan.


"Code red! Code red!" teriak Abimanyu panik.


Dari luar, Banyu pun berlari panik memasuki ruangan, dan melihat bahwa Nana benar-benar pingsan.


Kompak saja, kedua anak itu mengembuskan napas kecewa.


Ibarat lagi asik-asik main game, mendadak listrik mati di pusat. Rasanya mau banting komputer saking jengkelnya.


"Yaelah!" Banyu membuang headsetnya sebal. "Belum misi keempat! Kecepetan lo pingsannya!"


Abimanyu menepuk dahi, geleng-geleng. "Gue belom ngerasa lucu udah pingsan. Hadeh."


"Iya, yah? Belum lucu."


Keduanya terkesiap, menoleh horor pada Cristian yang berdiri di pintu depan, bersedekap melihat mereka.


Tunggu, bukannya orang suruhan Pak Mahardika memastikan bahwa orang-orang di dekat sini sudah disingkirkan sementara?


Mereka katanya bakal berjaga sampai misi mereka berdua selesai.


Lalu kenapa—


"Tenang dulu. Gue ke sini cuma mau nonton." Cristian mendekat, melihat tubuh Nana yang kini dilompat-lompati oleh kodok, dan ada dua ekor ular melilit tangannya. "Well, gokil juga."


Banyu memiringkan wajah. "Lo bukannya temen dia?"

__ADS_1


"Gue temen baiknya. Temen yang baik mendukung temennya buat berubah."


"...."


"Pak Mahardika udah ngomong sama gue soal kalian. Lagian lo berdua kira gue mau ikut-ikutan ngelawan mantan presiden?"


Hmmm, masuk akal. Tidak ada yang namanya pertemanan jika sudah berurusan dengan nyawa masing-masing.


"Ngomong-ngomong, ini belum selesai? Gue mau liat, dong."


Abimanyu dan Banyu saling berpandangan, lalu mereka mengangguk, pertanda sepemikiran.


Satu per satu ular mereka ambil lagi—jelas mereka tidak berbahaya soalnya semua sudah jinak dan tidak punya taring ataupun racun.


Setelah dimasukkan ke kandang, kodok-kodoknya dibiarkan.


Banyu pun mulai menarik badan Nana ke kamar mandi, yang bathtub-nya telah diisi oleh sekumpulan cacing tanah.


Tak lupa keduanya foto-foto, buat kenang-kenangan nanti.


"Yaudah, Bang, kita cabut dulu."


Banyu dan Abimanyu pamit baik-baik, soalnya dia juga enggak ngajak ribut.


"Iya, hati-hati pulang."


"Oke, Bang."


Cristian lagi sibuk menahan tawanya sendiri. Melambaikan tangan pada kedua bocah gila itu, sebelum menatap Nana lagi.


Foto juga, ah. Buat kenangan-kenangan Nana nanti.


Habis itu Cristian berbaik hati duduk, menunggui Nana sadar.

__ADS_1


Itu butuh sekitar setengah jam sampai Nana tiba-tiba tersentak, berusaha bernapas dengan mulut terbuka.


Dia pucat.


"AAAAAAKKKKKHHHH!" teriak dia spontan, kayaknya refleks dari kejadian sebelum pingsan.


"Na, tenang dulu."


Dia berhenti berteriak, menoleh bingung pada Cristian.


"Kamu!" Nana tiba-tiba sesak napas. "A-ada kodok, Cris. Te-terus tiba-tiba ada uler, terus aku tiba-tiba—"


"Ada cacing juga, Na."


Nana diam, dengan gerakan terpatah dia menunduk.


Bersamaan dengan itu Cristian buru-buru menutup telinganya, takut jika harus ke THT gara-gara teriakan Nana.


Wanita itu kini terlihat sangat ketakutan. Jauh lebih ketakutan daripada saat dia dikurung di penjara itu, sebab di sana tak ada siksaan apa-apa selain kurungan.


Melihat Nana pucat seperti nyawanya akan tercabut, Cristian melipat tangan.


"Lo tau yang ngelakuin ini? Orang suruhannya Pak Mahardika. Lo baru mikir bales dendam tapi dia udah ngirim beginian ke elo. Na, lo masih mikir buat bales dendam?"


Nana menggigil ketakutan tanpa bisa menjawab.


Kalau dilihat dari eksprssinya, rencana Pak Mahardika kayaknya berhasil. Jangankan berpikir balas dendam, mungkin kedepannya Nana akan sulit tidur dan sulit makan sesuatu paling sebentar satu bulan.


Cuma butuh dua anak kecil buat menghentikan ocehan balas dendam orang ini.


Pak Mahardika memang sangat pandai menghina orang tanpa harus bicara merendahkan.


*

__ADS_1


__ADS_2