
Izin promosi dulu, yak 😊
Begitu pintu ruangan terbuka, Kalista langsung berdiri menyambut kemunculan Julio diikuti sekretarisnya.
"Pagi, Pak."
"Pagi, Adek," jawab Julio manis.
"Hehe, Kak Julio maksudnya."
Julio tertawa kecil. Sejenak dia bicara pada sekertarisnya tentang jadwal hari ini lalu membiarkan wanita itu pergi sementara Julio menuju mejanya.
"Aku denger hari ini ada yang ngadu," singgung Julio.
Kalista langsung cengengesan. "Bukan saya, Pak—Kak. Itu Sergio. Saya enggak ngadu, curhat doang."
Jawaban Kalista membuat Julio tertawa lagi. "Kamu ini emang cocok ngelawak, yah." Julio meletakkan tangannya di pinggang, menatap Kalista bangga. "Bagus. Lain kali kalo ada yang ngomong, ngadu lagi. Oke?"
"Hehe. Aku emang orangnya suka curhat, Kak."
Kalista memang dari dulu suka mengadu. Cuma, Kalista tidak pernah mengadukan soal diejek anak gundik. Selain dari itu, Kalista selalu mengadu. Dalam segala urusan malah. Saat masih di sekolah dulu, Kalista pernah disakiti secara fisik oleh anak laki-laki dan ia mengadu pada Bu Direktur sampai orang itu diskors.
Jadi tenang saja. Kalista bakal selalu mengadu untuk hal-hal yang mengganggunya.
"Tapi, Kak Julio serius enggak marah, kan?"
"Hm? Soal?"
__ADS_1
"Ya soalnya Sergio ngancem bakal mecat semuanya. Boongan sih tapi yah ... lebay."
Julio tertawa, lagi. "Jauh lebih mending mecat sepuluh orang daripada kantor kita kejatuhan bom dari langit."
Ringisan mewarnai wajah Kalista sebab tahu itu maksudnya pasti Rahadyan.
"Anyway," Julio menarik kursinya untuk duduk, "mobil baru kamu, itu harganya ngalahim mobil saya. Om Rahadyan beneran enggak mikir yah kalo manjain kamu."
"Besok aku ganti, Kak."
"Hm? Enggak usah." Julio tersenyum. "Pamer uang emang cara paling bagus nyumprl mulut orang."
Padahal Kalista tidak pernah berniat pamer. Ia pakai mobil itu ya karena itu yang diberikan Rahadyan. Bahkan Kalista pernah berkata mau jalan kaki saja agar tidak dikatai terlalu mengandalkan harta orang tua, tapi Rahadyan malah histeris. Dia bilang kalau Kalista mendengar sindiran orang soal betapa glamor hidupnya, maka semua orang itu bakal dia kirimi pembunuh bayaran.
Entah benar atau tidak, tapi Kalista tahu papanya memang kurang obat.
"Kalista, tolong bikinin minum. Cokelat susu."
Sekalian, Kalista membuat untuk dirinya sendiri juga.
"Silakan, Kak."
"Thank you." Julio fokus pada layar komputernya. "Ohya, Kalista, gimana minggu nanti? Kamu dateng, kan?"
Eh? Minggu nanti apa, yah?
"Ke acara ulang tahun Mami—aw, sori. Sergio belum bilang?" Julio menoleh. "Sori, sori. Aku kira tadi udah dikasih tau."
"Aku diundang ke acara ulang tahun Maminya Kak Julio?"
__ADS_1
"Kamu kan mau bantuin Sergio soal Astrid, right?" Julio mengambil cokelat buatan Kalista dan menyesapnya. "Nanti kamu dateng sebagai pacarnya Sergio. Tapi nanti Sergio ngajak kamu pura-pura enggak tau, yah. Aku beneran ngira udah dikasih tau."
Kalista pikir ajakan kencan. Tapi yah ia sudah berjanji pada Sergio jadi Kalista mengangguk. Gadis itu kembali ke kursinya, diam menunggu diperintah.
Cukup lama Kalista diam, membiarkan Julio fokus. Memandangi ekspresi Julio yang berubah-ubah saat melihat pekerjaannya itu sangat menghibur. Mau dia mengerutkan kening, mau dia berdecak kesal, bahkan ketika termenung, Kalista memuja ketampanannya.
"Kalista, minum."
Kalista beranjak lagi, buru-buru pergi mengambilkan air dingin. Saat memerintah singkat pun dia ganteng.
Hadeh, memang susah kalau berhubungan dengan wajah.
"Huft!" Julio mengembuskan napas kasar seraya menyandarkan punggungnya pada kursi. "Kamu bisa mijit?"
Kalista menyengir, langsung datang ke belakang Julio untuk memijatnya. "Capek, Kak?"
Julio mendongak ke belakang. "Kamu enggak marah disuruh-suruh?"
Haduh, cowok ganteng bisa saja. Dihamili pun Kalista mau, masa mijitin enggak bisa? Tapi tentu saja Kalista tidak mengatakan itu karena Julio bisa menganggapnya sosiopat.
"Kata Sergio kalo bos nyuruh jilat kaki juga harus mau, Kak."
"Sembarangan." Julio terkekeh.
"Ngomong-ngomong, Kak," Kalista sudah menahannya dari tadi, "aku mau nanya soal Sergio."
"Hm?"
"Kok dia dijodohin sama Astrid, sih? Kayak, emang harus yah mereka nikah?"
__ADS_1
*