Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Does Mommy Gonna Leave Us?


__ADS_3

Kedatangan Abimanyu jelas tidak disambut baik oleh Banyu dan Bima, namun mereka kompak diam demi Yunia. Itu memang curang karena begitu dalam gendongan Abimanyu, tangisan Yunia jadi reda. Lila bahkan tidak bisa cemburu padanya karena kasihan melihat si bungsu terus-terusan mengeluarkan air mata sampai hidungnya merah.


Mereka membiarkan Abimanyu keluar bersama Yunia, membawa anak itu ke taman bersamanya.


"Kamu kenapa nangis?" tanya Abimanyu sambil membelai punggung hangat Yunia. "Kangen sama Juwita?"


Yunia hanya berbaring lesu di bahu Abimanyu.


"Yuni, ngomong sama Abang. Kamu kenapa nangis terus belakang? Kenapa sedih terus?"


Bahu Yunia naik turun teratur. Tangan kecilnya memeluk Abimanyu erat, lalu perlahan bibir kecil itu melirih, "Ibu cedih."


Abimanyu merasa jantungnya tertusuk.


"Maaf." Abimanyu mengurai pelukan Yunia agar bisa melihat wajah manisnya yang malah bersedih. "Maafin Abang. Abang yang bikin Ibu sedih. Salah Abang."


Yunia justru memeluk Abimanyu lagi, melelehkan air matanya di kaus depan Abimanyu.


"Cakit," adunya dengan suara sendu. "Pala Yuni cakit."


Anak ini ... Juwita dulu pernah bilang bahwa Yunia anak yang spesial. Bukan karena dia bungsu tapi dia sangat pendiam dan cengeng tanpa suara. Saat bayi pun dia sangat diam tenang dan tak suka menangis kencang setiap waktu mengikuti Nia dan Lila.


Satu-satunya waktu dia menangis kencang adalah saat dia lapar. Sisanya tidak ada. Makanya Juwita bilang Juwita adalah tipe anak yang suka mengamati. Yunia mungkin yang paling mengamati ada masalah dalam keluarga sempurna mereka.


"Mungkin Yunia sakit kepala karena Abang." Abimanyu tersenyum memeluk tubuh kecil adiknya.


Abimanyu sangat mencintai semua adiknya, terutama yang perempuan. Tapi kalau harus jujur, Yunia memang spesial baginya. Dia membuat Abimanyu merasa hidup saat bersamanya, bahkan ketika Abimanyu tak tahu harus hidup seperti apa.


"Yuni mau Abang pergi juga?" tanya Abimanyu sekalipun tahu Yunia tak akan mengerti. "Ibu nangis, Ibu sedih karena Abang. Karena ada Abang. Kalo Abang pergi, Ibu enggak sedih lagi, enggak nangis lagi. Abang pergi aja, yah?"

__ADS_1


Yunia menggeleng. Justru bibirnya malah bergetar. "Hiks hiks."


"Jangan nangis. Nanti Papa sama Ibu jemput kalian lagi."


"...."


"Ssshhhh. Abang nyanyiin lagu Ibu jadi Yuni tidur yah? Mimpi indah."


Abimanyu membawa Yunia berbaring di lehernya lagi. Merasakan tubuh anak itu panas akibat tangisan. Dengan lembut Abimanyu menepuk-nepuk punggungnya, melirihkan lirik kesukaan Juwita saat menidurkan anak-anaknya.


Suara Abimanyu yang datar namun lembut berhasil menidurkan Yunia. Mungkin dia lekah menangis, juga lelah memikirkan kenapa orang-orang dewasa di sekitarnya tidak hidup damai saja.


Abimanyu tak tahu ada apa di kepala kecil Yunia, tapi ia tahu tangisannya yang tanpa henti itu adalah gambaran dari besar pikiran di sana.


*


"Really? Terus adekmu di mana sekarang?"


"Udah bobo sama Abang Abi."


Nama itu membuat Adji diam-diam bereaksi. "Abimanyu di sana? Sama kamu?"


"Enggak. Kata Abang Banyu Abang Abi di mobil terus Yuni tidur sama Abang."


"Gitu yah." Adji berusaha tersenyum. "Kalian baik-baik dulu sama Nenek, yah? Papa temenin Ibu dulu baru nanti Papa jemput kalian lagi."


"Papa," panggil Nia yang ikut memunculkan diri. "Does Mommy gonna leave us?" [Ibu bakal ninggalin kita?]


Adji terpaku. Tapi sebisa mungkin mengendalikan diri dan menggeleng. "No. No, Baby, no. It's not gonna happen. Ibu selalu sama kita. Selalu."

__ADS_1


"But she said she must go because she wants us to be happy." [Tapi Ibu bilang Ibu harus pergi karena Ibu pengen kita bahagia.]


Salah satu part menyakitkan jadi orang tua adalah ketika anak bertanya sesuatu yang sangat menusuk tapi kalian harus menjawab seolah itu baik-baik saja.


Lila dan Nia bahkan mungkin Yunia tidaklah bodoh. Mereka dengar perkataan Juwita hari itu meski mereka tidak paham seluruhnya.


Paling tidak mereka tahu bahwa Juwita mencoba pergi meninggalkan mereka semua.


"Ibu cuma marah," jawab Adji dengan dada sesak luar biasa. "Kalau lagi marah, Ibu ngomong sesuatu yang enggak pasti."


"Terus Abang yang pergi?" Nia bertanya polos lagi. "Papa, Abang Banyu sama Om Bima bilang Abang Abi enggak boleh di sini."


"What?"


"They said he's not belong with us." [Katanya Abang Abi enggak pantes sama kita.]


Lila cemberut. "Aku enggak mau Abang pergi. Abang Abi punya Lila. Lila cuma pinjemin Yuni aja."


"Ya, I like him too." Nia mengangguk pada Lila. "Kenapa kita enggak sama-sama lagi? Kayak dulu, kan?"


"Iya. Why Papa?"


Adji menelan ludah dan pada akhirnya menggeleng. "Papa ada kerjaan dulu. Nanti ngomong lagi, yah? Baik-baik di sana."


Keduanya kompak menjawab ya lalu mengobrol tentang mengapa mereka harus berpisah. Tentu saja pembicaraan itu didengarkan satu rumah.


Seluruhnya.


*

__ADS_1


__ADS_2