Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Adji Tahu


__ADS_3

Rencana pernikahan Abimanyu dan Sakura memang terlalu mendadak, terlebih dinilai dari situasi, keduanya tidak dalam posisi siap menikah. Abimanyu seharusnya sedang sibuk menulis skripsi sedangkan Sakura adalah mahasiswa semester lima. Mau tak mau, orang lain berpikir bahwa Sakura sedang hamil hingga orang tua mereka terpaksa harus cepat-cepat menikahkan.


Juwita sudah bilang ia tak mau ikut campur. Urusan pernikahan Abimanyu itu sepenuhnya diurus oleh Adji, dibantu oleh orang tua Adji yang buru-buru datang dari Amerika.


"Juwita, jujur sama Mama. What happened with you ... all?" Saat menyebut kata terakhir, Mama Mertua terlihat ragu.


Beliau sudah terbilang orang Amerika walau tidak secara keturunan, jadi sebenarnya Mama bukan orang ribet. Namun sepertinya situasi ini juga membingungkan untuknya.


"Nothing happened, I guess?" Juwita suka curhat pada Mama Mertua yang asik, tapi ia tidak mungkin jujur. "It's okay, Ma. Sakura enggak hamil, kayaknya."


Mama menatap Juwita skeptis. "Mama enggak ngomongin soal hamil tapi soal ... I don't know, Sweety, Mama ngeliat kalian semua jadi aneh. Terutama kamu, Adji sama ... Abimanyu."


Juwita tidak senang mendengar namanya dan Adji disandingkan dengan Abimanyu walau Mama pastinya tidak bermaksud ke mana-mana.


"Abi udah beda, Ma." Juwita berusaha memberi jawaban sedikit jelas. "Itu anak udah, yah mungkin ngerasa dewasa dan enggak butuh orang tuanya lagi? Mas Adji mau dia ngurus masalahnya sendiri so let him be whatever he wants to be."

__ADS_1


Mama menatap Juwita dan sadar kalau ada hal sangat besar yang tidak mau dikatakan keluarga ini, tapi Mama diam.


Membiarkan Juwita kembali ke sisi Adji, berhubungan sekarang mereka sedang di butik untuk menyesuaikan baju masing-masing.


Juwita langsung memeluk lengan Adji begitu mendekatinya. Mereka sedikit bebas dari anak-anak karena orang tua mereka berdua mengurus cucu-cucunya di sudut lain.


"Kamu suka ini?" Adji bertanya saat mereka diperlihatkan gaun untuk Juwita nanti.


Juwita tidak peduli pada gaun di pernikahan yang baginya bukan pernikahan. Pernikahan Abimanyu pernah ia tunggu-tunggu, lima tahun lagi mungkin saja, tapi sekarang Juwita cuma menunggu pernikahan Banyu dan Cetta, sepuluh tahun lagi, mungkin saja.


"Aku bisa make up sendiri."


Adji berputar dan menatap Juwita. Keningnya terlihat berkerut. Sejenak dia menatap ke sekitaran, pada keluarganya yang sibuk melihat sesuatu yang mau mereka lihat masing-masing dan tidak terlalu fokus memerhatikan keduanya.


"Aku ngindarin topik ini sama kamu, terus terang." Adji menangkup wajah Juwita, membuatnya mendongak. "Tapi kalo kamu mau bilang kamu enggak setuju, just say that, Sayang. At least kamu cerita."

__ADS_1


Nampaknya Adji salah paham kalau Juwita menahan diri tidak berpendapat karena tahu pendapatnya tidak akan didengar. Adji bukannya tidak terbuka dalam diskusi, tapi masalah pernikahan anaknya, terutama anak dari Melisa adalah sepenuhnya urusan Adji dan Juwita hanya bagian kecil dari itu.


"Aku cuma," Juwita menghela napas, meremas kecil tangan Adji yang memegang pipinya, "aku cuma sedih karena Abimanyu udah berubah. Tapi yah kamu bener. Urusan masa depan dia ya urusan dia. Kita enggak bisa terlalu ikut campur terus walaupun kita orang tuanya."


Saat itu, entah kenapa terasa aneh ketika Adji mengelus kecil wajah Juwita dengan ibu jarinya. Adji tersenyum, mengecup kening Juwita sebelum memeluknya tanpa alasan.


"Ada sesuatu yang lebih baik dibiarin karena enggak perlu diselesaiin," gumam Adji. "Abimanyu tau dia salah."


Pada saat pelukan Adji terlepas dan dia berbalik menuju pemilik butik lagi, Juwita hanya terpaku menatap punggung Adji.


Dia tahu.


Adji tahu mengenai alasan perubahan Abimanyu.


Ujung jemari Juwita mendadak terasa sedingin es batu.

__ADS_1


*


__ADS_2