
Waktu terasa cepat berlalu saat dijalani. Hari ini, atau lebih tepatnya pukul sembilan malam lewat dua puluh tujuh menit lima puluh satu detik, anak perempuan Adji lahir.
Itu proses yang tepat, menurut Adji. Hampir menyamai rekor waktu lahirnya Banyu yang dari awal Melisa tiba di rumah sakit, hanya butuh sekitar dua jam untuk pembukaan sepuluh, dan Banyu lahir.
Juwita tiba di rumah sakit jam enam seperempat, merasakan sakit kontraksi pembukaannya tidak separah yang mereka kira. Bahkan Adji sampai berpikir kalau Juwita mungkin akan melahirkan besok karena sangat jarang dia mengeluhkan sakit kontraksinya.
Ternyata, anak mereka lahir selamat di waktu yang sangat cepat.
Tapi, siksaan Juwita justru baru dimulai setelah itu.
Abimanyu, Banyu dan Adji menggigil tegang di depan ruang bersalin, mendengarkan tangisan Juwita yang jauh, sangat-sangat jauh lebih sakit daripada saat mengeluarkan bayi itu.
Dia mengalami pendarahan, plasenta Juwita tidak keluar hingga diperlukan tindakan untuk mengeluarkan itu.
Adji tak tahu bagaimana prosesnya sebab berbeda saat persalinan ia mendampingi, kini Juwita sendirian di dalam, bersama dokter dan asistennya.
"AAAAAAKKKKKHHHH!"
"Ssshhh." Banyu menggigil mendengar suara keras Juwita, menangis tersedu-sedu berkata kalau dia sedang dibunuh hidup-hidup.
"UDAH! UDAH JANGAN MASUKIN LAGI!"
Abimanyu malah sudah menutup wajahnya, tak bisa menahan tangis.
__ADS_1
"Maaaaaas!!! Dokter mau bunuh aku, Mas! AAAAKKKHH!"
Entah bagaimana rasanya tapi kalau sampai dia berteriak begitu, meracau dia sedang dimutilasii dan dokter sedang membunuhnya, itu pasti sangat sakit.
"Pa." Abimanyu tak tahan mendengarnya. "Do something. Gimana kalau dia teriak karena dokternya emang kasar? Masa Juwita sampe teriak-teriak mau mati gitu?"
Adji cuma diam, karena tangannya sedang sibuk menggihil sekarang. Jauh di hati Adji, ia takut luar biasa kalau Juwita sampai meninggalkannya di sini.
"ABIIII!" Suara teriakan Juwita di dalam membuat mereka tersentak. "AKU ENGGAK MAU BEGINI, BI! ABIMANYU!"
Dia selalu menyebut Abimanyu kalau ada sesuatu yang benar-benar Juwita tolak, dan mau seseorang bertindak paling cepat.
Kalau saja tidak ditahan oleh Banyu, Abimanyu mungkin menendang pintu buat melihatnya.
Darah dan plasenta itu tetap harus dikeluarkan dan mau tak mau Juwita harus kesakitan.
Adji menengok jam berulang kali. Proses pengeluaran darahnya jauh lebih lama dari proses kelahiran anak mereka. Sangat jauh lebih lama.
"Ma." Saking tak tahannya, Adji perlu mendatangi Mama cuma untuk minta dipeluk olehnya.
Karena tak tahu kenapa, malah Mama, Ibu which is para wanita itu yang lebih tenang.
"Enggak pa-pa, Dji. Emang begitu ngelahirin. Perjuangannya enggak sampe ngeluarin anakmu aja."
__ADS_1
Tapi lagi-lagi Adji diberi pengalaman yang tidak ada dalam historinya bersama Melisa.
Waktu Juwita teriak-teriak melahirkan, setidaknya Adji bisa sedikit menyebarkan diri. Mau tidak mau memang. Namun proses ini berbeda.
Entah sudah jam berapa. Adji rasa tengah malam baru akhirnya pintu terbuka, dokter keluar dengan wajah lelah.
Perawat pun segera menyampaikan kalau Juwita mau bertemu Adji, Abimanyu dan Banyu bersama.
Mereka bertiga masuk, menemukan Juwita yang terlihat habis melewati siksaan luar biasa, mata merah dan bengkak.
"Juwita."
"Huuuuuu~, hiks. Aku dimutilasii," isak Juwita setengah sadar. "Aku mau dibunuh."
Juwita cuma menangis. Padahal matanya terlihat sudah kering alias capek menangis, tapi dia masih melampiaskan sakitnya lewat tangisan.
"Juwita." Adji menunduk, membenamkan kecupan lama di kening Juwita, karena cuma itu yang sekarang bisa ia lakukan. "Mas di sini. Enggak ninggalin kamu."
Dia mengangguk meski sepertinya masih tidak waras akibat rasa sakit yang baru dialami. Tangan Juwita berusaha diulurkan, meraih ketiga tangan mereka.
"Jangan ke mana-mana," ucap Juwita, memegang mereka bertiga erat-erat. "Jangan ke mana-mana lagi."
Karena dalam perjuangan tadi, Juwita merasa seluruh dunia meninggalkannya, membiarkan ia disiksa hidup-hidup.
__ADS_1
*