
Begitu mendengar kalau hari ini Abimanyu tidak hadir di ruang klubnya, Juwita langsung diam. Merasakan firasat buruk yang langsung terhubung pada Ajeng.
Di situasi ini, mungkinkah Ajeng mengambil keputusan tidak waras menyakiti anak Adji?
Tapi itu tidak masuk akal, karena anaknya Adji akan selalu sepaket dengan bapaknya. Kalau Ajeng mau bapaknya, ya mau tak mau dia harus pura-pura suka pada anaknya.
"Saya ke sekolahnya dulu." Adji beranjak panik, disusul Banyu yang mengejarnya.
Juwita ikut beranjak. Berjalan cepat mengejar Adji.
"Aku ikut, Mas."
"Gak."
"Enggak boleh!"
Adji dan Banyu kompak menolak.
"Lo di rumah aja," ucap Banyu lagi. Lengkap dengan mata melotot tegas.
"Tunggu di sini." Adji masih santun, mengusap lengan Juwita untuk menenangkan. "Enggak ada apa-apa, jangan takut."
Tapi Juwita mencengkram tangan Adji yang mau melepaskannya begitu saja. "Kamu boleh iket aku di kamar selama kamu mau kalau aku kenapa-napa. Plis. Aku ikut."
"Juwita—"
"Mas." Demi apa pun Juwita ingin ikut.
Adji menarik napas panjang sebelum dia akhirnya mengangguk, membiarkan Juwita ikut.
Meskipun tahu sebenarnya Ibu dan Mama khawatir tentangnya, Juwita merasa harus ikut. Tidak akan ia biarkan Ajeng sukses dengan rencananya kali ini.
Mengganggu Juwita, mengganggu anak-anak tirinya, dan dia pikir tidak ada apa-apa yang akan terjadi padanya?
Kali ini akan Juwita pastikan dia mendapat pukulan kalau sampai menyentuh Abimanyu.
__ADS_1
Setiba di sekolah, Juwita mengikuti langkah Adji dan Banyu.
"Banyu." Juwita menarik tangan anak tirinya, tiba-tiba berbelok ke arah lain.
"Kenapa?" Banyu mengikutinya dengan patuh meski kebingungan.
Juwita hanya mau melihat jalur lain keluar sekolah yang biasa anak-anak gunakan—belakang sekolah. Karena bodyguard melapor jika Abimanyu tidak sekalipun melewati gerbang sekolah sejak dia datang.
Setahu Juwita, gerbang belakang sekolah itu selalu jadi jalan pintas anak-anak nakal.
Tapi ketika Juwita berada di belakang, alih-alih melihat tempat meloncat di pagar rusak, justru terdengar samar-samar suara percakapan ramai.
"Kamu denger?" tanya Juwita waspada.
"Hm." Banyu menengok ke kanan dan kiri. "Suara cowok. Banyak. Tapi kayaknya Abang gue enggak—"
Juwita menarik Banyu sekali lagi, mengikuti suara yang terbilang dekat itu.
Mana mungkin Abimanyu bergaul dengan anak nakal kalau otaknya cuma berisi voli.
Voli tidak dimainkan oleh anak-anak yang bosan memikirkan masa depan.
Itu hal yang Juwita takutkan.
Juwita melihat sebuah pintu usang tertutup. Yakin kalau suara-suara itu berasal dari sana.
Tanpa ragu, Juwita mendorong pintu terbuka, hanya untuk terkesiap menemukan sekumpulan remaja berseragam sekolah tengah teler bersama minuman keras.
Bau menyengat terasa di udara. Tapi yang paling membuat Juwita terkejut adalah Abimanyu ada di sana, tengah menggerayangi seorang wanita dewasa yang Juwita tahu bukan dari kalangan siswa juga guru.
"Bang!"
Juwita mengangkat tangan, menghentikan Banyu. "Panggil Papa sama yang kain."
Perhatian semua orang di sana tertuju pada Juwita.
__ADS_1
Tapi perhatian Juwita terfokus pada perempuan itu.
"Klimaksnya enggak lucu."
Juwita langsung menerjang wanita brengsek pengganggu hidupnya itu.
Sialnya Ajeng langsung menghindar, melompat keluar dari jendela sambil tertawa brengsek.
Juwita rasanya ingin meledak. "ANJING!"
Yang lebih sial, Juwita tidak bisa mengejarnya, karena yang harus Juwita lakukan sekarang adalah menarik Abimanyu pergi.
Jangan sampai Adji melihat anaknya ada di sini.
Jangan sampai.
"Ikut aku!"
Abimanyu meracau tak jelas.
Sempoyongan mengikuti Juwita sebelum dia ambruk di atas rumput belakang sekolah.
Juwita menutup mulut Abimanyu dengan tangannya, bersembunyi dari suara-suara yang mulai terdengar pertanda para siswa teler itu kedapatan mabuk.
"Juwita."
Juwita langsung menggeleng pada Banyu. "Jangan bilang. Diem."
"Tapi—"
"Diem, Banyu. Please."
Kelopak mata Juwita terpejam, memeluk Abimanyu sambil terus menutup mulutnya agar tak bersuara.
Mulut Juwita terbuka menarik napas, bukan karena ia tak sanggup bernapas sambil membaui aroma alkohol di badan anak tirinya, tapi karena rasa kecewa dan rasa bersalah menggunung karena telah membiarkan anak Melisa seperti ini.
__ADS_1
Maaf, Kak.
*