
Juwita tertegun.
"Lo pasti juga tau itu enggak. Gue enggak bahagia, Banyu apalagi, Cetta juga. Papa juga. Semua orang yang ngomongin lo, Oma Sarah, Oma Putri, mereka cuma bilang lo enggak pantes tapi kalo lo pergi, menurut lo mereka bahagia? Menurut lo mereka puas?"
"...."
"Mau lo ada, mau lo enggak ada, mereka enggak bahagia apalagi sedih. Mereka cuma butuh bahan omongan. Bahan buat dijelekin biar mereka bagus sendiri. Buat bikin mereka keliatan sempurna sendiri. Terus siapa sebenernya yang bahagia kalo lo pergi?"
Juwita meremas tangannya sendiri, satu sama lain.
Entahlah.
Tak tahu juga siapa.
Yang jelas, jika Abimanyu, Banyu, Cetta dan Adji tidak bahagia, maka apalagi Juwita.
Pertanyaan Abimanyu benar. Siapa sebenarnya yang sedang coba ia senangkan? Apa Ajeng yang sekarang mendekam di sel?
Pada akhirnya tidak ada yang senang. Tidak ada yang merasa bahagia. Kalau begitu, buat apa Juwita pergi?
"Bahkan kalo ada orang bahagia lo pergi, Juwita, emangnya mereka pantes lo kasih bahagia? Sementara dia bahagia sama apa yang bikin lo sedih."
Juwita tersenyum sendu.
Tidak, sih. Sebenarnya tidak ada orang penting yang ia bahagiakan ketika mengambil keputusan itu.
Tapi ....
"Papamu udah ngurus surat cerai." Juwita menepuk-nepuk punggung tangan Abimanyu di tali ayunannya. "Intinya, kamu baik-baik sekarang. Siapin diri buat lomba nanti. Itu aja."
*
Akhirnya, malam baru Juwita bisa pulang. Itupun setelah ia berusaha keras membujuk anak-anaknya buat ikut ke mobil yang menjemput mereka semua.
Tentu, bukan Adji yang menjemput.
Sekembali dari taman, Juwita sudah tidak bisa menahan diri. Ia masuk kamar mandi, memuntahkan semua makanan dan minuman yang terpaksa ia makan meski mual.
__ADS_1
"Juwita?"
Yuli bergegas datang.
"Palaku pusing banget." Juwita sampai terduduk di lantai kamar mandi, lemas bukan main. Baru juga duduk, Juwita mual lagi. "Huek!"
Yuli membantu Juwita sampai ia selesai muntah-muntah dan tidak bisa berdiri kecuali dipapah.
Di dalam kamar, Bima membawakan air hangat atas perintah Ibu, sementara Ayah sigap memijat-mijat punggung Juwita.
Juwita rasa ia masuk angin, juga karena luka di kepalanya baru-baru ini sembuh, baru lepas perban secara total jadi ia langsung muntah begitu pusing.
"Lo jangan-jangan isi, Wi."
Juwita menoleh kaget pada ucapan Bima. "Ngaco."
"Lah, ngaco? Lo udah kawin yaiyalah bisa jadi anak."
Ibu langsung melotot pada adiknya yang bicara tanpa disaring.
"Tapi orang hamil kan muntahnya pagi."
"Mitos dari mana itu?!" Bima langsung bereaksi keras.
Lalu menunjuk Yuli terang-terangan.
"Ini anak siang, malem, pagi, subuh, tengah malem, semuanya dia muntah-muntah. Anaknya mau sekalian dimuntahin kayaknya."
Yuli melotot kesal pada Bima, tapi Juwita sudah teralihkan oleh pikirannya.
Jangan bilang iya?
Kalau begitu Juwita ... bakal jadi janda saat punya anak? Tepat saat ia akan bercerai?
"Jangan nangis, Nak. Kamu telfon Adji dulu."
Juwita menggeleng, menutup matanya dengan lengan walau percuma, karena semua orang tahu ia menangis.
__ADS_1
"Enggak usah," bisik Juwita serak. "Aku capek."
*
"Papa, Cetta pulang!"
Adji tersentak ketika anak bungsunya melompat tiba-tiba ke pangkuan Adji. Tapi Adji langsung tersenyum, bersyukur karena sekarang tidak ada lagi anaknya yang marah atau memusuhi Adji.
Memang Juwita mood booster baru keluarga mereka.
"Papa, Kakak kapan pulang? Cetta mau ajak Kakak tadi, tapi Kakak enggak mau."
"Nanti, yah." Adji mengusap-usap kepala anak itu. Berpaling pada kedua anaknya yang duduk santai di sofa. "Kalian ngobrol sama Juwita?"
"Dia ngira Papa udah ngurus surat cerai."
"Lagian Papa ngapain sih bohong?" celetuk Banyu sebal. "Tinggal suruh pulang susah amat."
Loh, kapan Adji bohong soal mau cerai? Tidak pernah tuh Adji bilang cerai pada Juwita.
Juwita yang berpikir bahwa Adji mau cerai sebab dia sendiri berpikir kalau mereka harus pisah demi kebahagiaan semua orang.
Adji tidak pernah, TIDAK PERNAH, berpikir bahwa pisah membuat mereka bahagia.
Tapi Adji biarkan Juwita sejenak pergi, karena kalau dipaksa pun susah buat Juwita memahami. Dia butuh waktu buat merenungi, terutama soal betapa tidak pentingnya dia mendengarkan ucapan keluarga Adji yang di seberang sana.
"Kalian udah minta maaf?" tanya Adji, memastikan.
Alasan kenapa anak-anak ia kirim bertemu Juwita adalah agar Juwita lihat bahwa anak-anak ini tidak sedikitpun beranggapan kalau Juwita itu harus pergi.
Karena sepertinya dia luar biasa salah paham bahwa anak Adji, terutama Abimanyu, mau dia segera hengkang dari keluarga mereka ini.
Begitu Juwita lihat anak-anak menunggunya, baru Adji akan masuk, menarik dia kembali.
Adji tidak suka susah-susah soalnya. Kalau Adji turun langsung membujuk, Bima pasti menghalang-halanginya dengan alasan mau mengetes.
*
__ADS_1