
Abimanyu kembali mengepal tangannya kuat-kuat. Lengan kokoh yang dulu pernah Juwita buat merah oleh pantulan bola voli ini bahkan tiga kali lipat besar lengan Juwita. Lengan itu tidak mau melepaskannya dari tembok bahkan ketika Juwita mendorongnya.
"So that's how you're wanna play," gumam Abimanyu.
Gumaman yang membuat Juwita merinding oleh alasan tak diketahui.
Bahaya. Instingnya mengatakan akan ada bahaya.
"Kalo lo segitunya enggak mau gue pergi," Abimanyu tiba-tiba mendekat, "gue anggep lo diem-diem juga suka sama gue."
Juwita mendelik.
Tapi tak sempat ia membalas, suara Sakura tiba-tiba terdengar. "Kalian mau selingkuh siang-siang?"
Abimanyu melirik tajam istrinya. Walau dia kemudian melepaskan Juwita dan pergi begitu saja. Sakura berjalan mengikuti Abimanyu, tapi Juwita menangkap tangannya.
"Jangan main-main sama saya, Bocah." Juwita mencengkram lengan kecil itu kuat-kuat. "Sekali lagi kamu nuduh saya selingkuh—"
"Apa? Mau ngusir aku sama Abimanyu? Tante pikir aku takut sama Tante?" Sakura berusaha melepaskan cengkraman kuat Juwita. "Lepasin! Lepasin atau aku bocorin semuanya!"
Juwita mencengkramnya semakin kuat tapi kemudian melepaskannya. Membiarkan perempuan itu pergi meninggalkannya sendirian.
__ADS_1
Anak itu berbahaya. Istri Abimanyu, dia jauh lebih berbahaya dari pikiran Juwita. Abimanyu mungkin satu masalah tapi membiarkan anak itu ada di sekitar Abimanyu justru menciptakan masalah baru.
"Banyu." Juwita mengusap kasar wajahnya. "Udah aku bilang jangan kayak gini."
Entah keputusan Banyu di awal salah soal menjebak Abimanyu dalam pernikahan atau pasangannya saja yang salah pilih. Sekarang bukan hanya anak gila itu, istrinya pun menjadi beban bagi Juwita.
*
Abimanyu hari ini datang ke kampus setelah sekian lama tidak. Dia cuma datang bertemu dosen pembimbing skripsinya sebelum duduk di kantin. Saat dia duduk di tengah keramaian, banyak gadis melirik-liriknya penuh ketertarikan.
Tentu saja mereka tahu Abimanyu sudah menikah. Foto pernikahannya dipajang di sosial media pribadi Abimanyu. Tapi tidak ada juga yang tidak tahu dia playboy.
"Lo gue liat makin hari malah makin rusak, Bi." Olivia datang bersama makanannya, duduk di sebelah Abimanyu. "Sekarang apa lagi? Lo depresi karena diusir?"
"Gue enggak diusir."
"Hah?"
"Gue enggak diusir." Abimanyu menoleh pada Olivia. "Juwita enggak jadi ngusir gue."
Olivia tercengang. Sebagai sahabat sekaligus selingkuhan tetap Abimanyu bahkan setelah menikah, jelas dia dengar kabar dari Abimanyu langsung. Dia bilang kemungkinan akan diusir jadi dia mau pindah ke Amerika setelah selesai mengurus skripsinya.
__ADS_1
"Nyokap tiri lo kenapa labil banget?" Olivia mau tak mau menyalahkan Juwita. "I mean like, dia nolak lo, dia enggak seneng sama lo, tapi dia juga enggak biarin lo pergi buarpun udah jelas semuanya."
".... Berapa persen kemungkinan dia suka balik ke gue?" Abimanyu sekarang memikirkan itu.
Dia kini terlalu buta untuk peduli pada hal lain. Satu-satunya alasan yang terpikir karena batalnya pengusiran itu adalah Juwita diam-diam juga menyukainya.
Mungkin Juwita tidak menyadarinya? Mungkin karena dia merasa bersalah pada Adji, maka dia pikir itu hanya perasaan terhadap anak?
"Lima puluh persen?"
Balasan Olivia membuat Abimanyu berpaling. "Lima puluh?"
"Faktanya lo ganteng, Darling." Olivia mengedik ke sekitaran. Di meja arah jam dua, ada lima perempuan duduk dan lima-limanya berharap dicium oleh Abimanyu sekalipun cuma ditoilet cowok.
Tapi perkataan Olivia tidak membuat Abimanyu senang melainkan aneh.
Juwita tidak seperti itu. Juwita tidak mungkin hanya tergoda padanya hanya karena itu. Kalau iya, dari dulu dia sudah melakukannya.
Masalahnya kalau bukan, lalu apa alasan dia membatalkan keputusannya?
*
__ADS_1