Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
41. Lupa Mandi


__ADS_3

"Kenapa marah-marah?" tanya Adji waktu Juwita masuk kamar. Ternyata dia dengar suara Juwita dari lantai bawah.


Karena masih kesal, Juwita tertawa sinis. "Gak, ngetes vokal doang. Do re mi fa so la si doooo."


Adji malah tertawa hingga Juwita makin kesal. Tapi daripada buang-buang waktu, Juwita masuk kamar mandi, membersihkan diri dan keluar dengan wangi semerbak.


Mood Juwita setelah mandi sudah lebih baik. Kepalanya juga lebih rileks karena hawa dingin, hingga Juwita benar-benar tes vokal dengan nyanyian santai.


Ternyata Adji masih di sana, menyaksikan Juwita mondar-mandir berdandan.


"Sini saya bantuin ngeringin rambut."


"Loh, bisa?"


"Saya juga pake hari dryer kalo ngeringin rambut, Juwita."


Ya ada juga kan laki-laki yang mengeringkan rambut pakai angin pemberian Tuhan.


Juwita menyerahkan hair dryer ke tangan Adji, lanjut memakai skin care ke wajahnya.


Saking fokusnya menyenangkan diri sendiri, Juwita sampai lupa kalau ia dan Adji sedang dalam fase 'Menunggu Siapa Yang Mendekat Duluan'.


"Kamu sama Melisa kadang suka begini?" tanyanya iseng, biar tidak kering.


"Begini gimana?"


"Bantuin dia dandan atau apa gitu."


Adji mengangguk. "Kadang."

__ADS_1


"Ngapain aja?"


Dia berhenti sejenak, menjawab, "Catokin rambutnya, bantu ngolesin skin care di belakang. Emang kenapa?"


"Ya enggak pa-pa, nanya aja."


Adji kembali mengarahkan hair dryer ke rambut Juwita. Tapi pelan-pelan Juwita jadi sadar kalau setiap mengambil sejumput rambut Juwita, Adji sengaja mengelus kepalanya juga.


Muka Juwita jadi tegang. Sengaja dibuat cool padahal sebenarnya ketar-ketir.


Ini orang tua kalau tidak ngeselin kenapa bikin baper, sih?


Kok bisa-bisanya Melisa suka manusia modelan begini? Ya tinggal sosor kek, istri sendiri juga. Kenapa harus Juwita yang mulai duluan?


Memang dia kuat berhari-hari tidur bersama tidak melakukan apa pun?


"...."


"Kamu rajin ke salon juga?"


Juwita berdehem. "Dari lahir." Mau ke salon apa, Juwita sibuk cari uang buat Ibu.


"Kapan-kapan mau ke salon bareng?"


"Kamu nyalon juga?"


"Dipaksa Melisa dulu. Katanya ada juga perawatan buat laki-laki, enggak harus jadi banci." Terus Adji bercermin, memenangi wajahnya sendiri. "Tapi emang sih bagus. Masa perempuan aja yang harus cantik? Saya juga harus ganteng."


Kabur, ah.

__ADS_1


Juwita beranjak, mau pergi melihat Cetta daripada termakan umpannya Adji.


Iya, iya. Udah tau dia ganteng! Mukanya juga bersih macam orang China Korea. Enggak usah diperjelas!


"Mau ke mana?" Adji menahan tawa saat menarik Juwita duduk kembali. "Belum selesai ini. Duduk dulu."


"Riya dosa, Pak."


"Emang saya riya apa?"


Juwita berbalik kesal. Tak tahan jika tidak meninju dada Adji yang malah semakin tertawa.


Brengs*k memang suami orang. Lagian kenapa juga sih dia ini banyak tingkah? Harusnya dia kan lebih kalem, berhubung dia ini orang tua—tidak terlalu tua juga sih, tapi anaknya sudah tiga.


Masih saja suka narsis.


Tapi serius Adji itu ngeselin. Karena tangan Juwita yang meninjunya malah ditahan, dan secara sengaja dia mendekatkan wajah mereka.


Juwita menelan ludah waktu melihat jarak wajah mereka semakin menipis. Apalagi Adji secara jelas membuka mulutnya, siap mencium bibir Juwita.


Jantung Juwita sudah lebih ribut dari musik pengantin tenda biru. Tapi dengan sengaja Adji mundur, beranjak pergi.


"Saya lupa mandi."


Sumpah yah. Kalau dia tidak ke kamar mandi, detik itu juga Juwita pijak-pijak dia jadi rengginang.


Menyebalkan!


*

__ADS_1


__ADS_2