Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Selalu Juwita


__ADS_3

Banyu menghela napas panjang sebelum mendorong pintu kamar hotel di mana adik-adiknya tidur, juga Talisa menunggu. Gadis itu langsung berdiri, nampaknya masih khawatir kalau Juwita menyuruh mereka putus.


Ya, Banyu memang menjual nama Juwita agar Talisa mau merahasiakan hubungan mereka.


"Yang, gimana? Tante Juwita enggak nyuruh putus, kan? Iya, kan?"


"Gak." Banyu menggeleng, lalu pergi duduk di sofa.


Juwita memang tidak menyuruhnya putus tapi sekarang Banyu merasa bersalah.


Terus terang, usia Banyu sekarang tidak pada tempat ia mau mencari cinta sejati. Jelas tidak. Justru di lingkungan Banyu, lelaki di usianya, memacari perempuan memang cuma untuk kebutuhan nafsu.


Setidaknya lebih baik ada satu wanita yang bisa dipeluk dengan menjual sayang.


Sekarang gue beneran kayak si Bang-sat, pikir Banyu mengacak rambutnya kesal.


"Yang, kalo enggak terus kenapa kamu kayak marah? Serius, Tante Juwita ngomong apa?"


Persetan!


"Gue bohong," aku Banyu, tak mau mengkhianati Juwita cuma untuk nafsunya. "Juwita enggak ngelarang gue pacaran. Itu bohong."


"Ya bagus dong?" Talisa tidak langsung mengerti.


Banyu mengembuskan napas. "Talisa, sorry but I don't actually like you."

__ADS_1


"Eh?" Gadis itu tertegun.


"I mean we're done." Banyu mengangkat bahu, bingung harus apa sebenarnya. "Kita putus aja."


Talisa terlihat sangat syok. Mulutnya terbuka tapi tak bisa mengeluarkan kata-kata.


Butuh waktu untuk dia bisa berbicara. "Kamu tau, kayaknya bener kata orang," ucap dia kecewa. "Kalian udah enggak bener karena anak gadis jadi mama kamu."


Banyu kontan tersinggung. "Gue bilang bukan karena Juwita. Gue yang salah, bilang aja. Juwita aja enggak tau kita pacaran."


"Ohya? Jadi bukan Juwita yang ngajarin Abimanyu hamilin cewek terus nikah buru-buru kayak dia dulu? Bukan dia juga yang ngajarin lo makeout sama cewek terus segampang itu bilang putus?"


"Jangan seenaknya manggil nama Juwita kayak dia temen lo!" Banyu beranjak marah. "Besides, kenapa lo kaget banget dipacarin tapi enggak cinta, hah? Lo aja enggak punya kualitas buat orang suka sama lo. Sekarang mending pergi."


"What?" tanya Banyu gugup sekaligus malu memperlihatkan hal semacam itu pada bocah.


"Selalu Kak Juwita yang nanggung kalo Abang berdua bikin masalah," ucap Cetta malas. "Abang berdua sama aja."


"Cetta—"


"Shhh."


Cetta menepuk-nepuk punggung Yunia yang tampak ingin menangis, lalu berbaring memeluknya seolah tak pernah mengucapkan kalimat menusuk pada Banyu.


*

__ADS_1


Talisa meninggalkan kamar itu sambil berusaha menghentikan air matanya.


Ia tahu dirinya yang memulai. Talisa jatuh hati pada pandangan pertama gara-gara hormon remajanya, di pesta keluarga yang kebetulan Banyu hadiri. Banyu sudah berbeda dari Banyu yang dulu, saat dia masih SMP dan SMA. Dia menjadi sangat tinggi, putih, dan yah manis, tampan, blabla yang membuat dia seperti tokoh utama pria dalam novel romantis wanita.


Talisa tahu memang sudah aneh sejak awal. Banyu menolak mempublikasikan hubungan dengan alasan Juwita melarangnya pacaran dan blablabla dia pemalu dan sebagainya.


Tapi Talisa menolak disalahkan. Banyu seharusnya tidak melakukan itu kalau dia memang baik, kan?


Dikuasai oleh amarah, Talisa turun ke bawah, pergi mendatangi Sakura untuk memberitahukan semuanya.


"Kakak mungkin nganggep aku freak tapi aku cuma mau ngasih tau." Talisa menunjukkan fotonya berdua dengan Banyu sebagai bukti. "Aku pacaran sama Banyu, diem-diem karena dia bilang Tante Juwita ngelarang dia pacar."


"Apa?" Sakura jelas heran. Tapi dia mendengarnya karena Talisa terlihat habis menangis banyak.


"Kakak mending hati-hati. Terutama sama mertuanya Kakak, Tante Juwita. Semua orang ngomong dia nikah sama Om Adji cuma buat uangnya doang."


Sakura mendengarkan semua omongan Talisa yang membuatnya ingat akan kesan pertama bersama Juwita.


Ya, dia memang tidak ramah. Bahkan sekalipun ini hari pernikahan Sakura dan Abimanyu, Juwita sedikitpun tidak mengajaknya bicara.


"Iyuh." Sakura menggeleng jijik. Tak bisa membayangkan seburuk apa harinya kalau harus satu rumah dengan Juwita.


Sakura harus mengajak Abimanyu buru-buru pindah.


*

__ADS_1


__ADS_2