
"Padahal tadi ada yang warnanya merah," kata Rahwana, mencibir baju di pelukan Nabila. "Bisu, seleranya Om Zayn jelek banget. Harusnya tadi kamu beli yang merah aja, kenapa malah yang orange?"
Nabila tampak tidak peduli dengan pendapat Rahwana, tetap tersenyum cerah pada Zayn sebagai tanda terima kasih. Zayn hanya membalas dengan senyum kecil, lalu fokus pada jalanan di depan.
Sepanjang hari itu Nabila tak pernah melepaskan tangan Zayn. Bahkan ketika Zayn beberapa kali melepaskan, Nabila menunggu sampai Zayn menggenggam tangannya lagi.
Zayn memang berniat menjadi sosok yang penting bagi Nabila, tapi semua itu cuma untuk Nabila sendiri. Zayn tidak menyukai bagaimana dirinya malah ikut-ikutan terbawa suasana.
Begitu memulangkan keduanya, Zayn memilih langsung pergi, karena ia perlu mengingat dendam yang dititipkan padanya.
*
Nabila mendekap erat bajunya sampai-sampai dia lupa harus mengerjakan tugas yang banyak. Nabila hanya terlalu senang, sebab Zayn membuatnya merasa masih disayangi ketika ada banyak orang menyakitinya.
"Bisu!"
Suara Elis mengejutkan Nabila dari dalam kamar. Gadis kecil itu buru-buru menyembunyikan bajunya di tempat paling aman yang ia bisa, agar Elis tidak merusak baju itu lagi.
Setelah yakin, Nabila pun berlari turun.
"Kerjaan kamu kenapa belum selesai?!"
Nabila membungkuk, minta maaf lewat gerakan dan buru-buru pergi mengerjakan apa yang harus ia kerjakan. Gadis kecil itu tidak sadar bahwa sejak tadi Rahwana terus menatapnya lekat.
Kenapa? Itu yang sedang memenuhi kepala Rahwana.
Kenapa Bisu sangat bahagia dengan pemberian jelek Zayn? Bisu tidak pernah terlihat bahagia saat bersama Rahwana. Padahal Rahwana yang sering pergi membawakan dia makanan. Kenapa dia tidak pernah berlindung pada Rahwana tapi malah memilih Zayn yang sebenarnya ingin menyakiti dia?
"Rahwana, kamu ngeliatin apa?" tegur Elis tajam, karena merasa Rahwana sibuk melihat ke arah anak haram itu.
"Enggak, Mama." Rahwana menunduk pada makanannya. Tapi sesaat kemudian dia mendongak, "Ma, Fina udah enggak pulang lagi ke sini?"
"Nanti. Fina kan baru menikah, jadi dia sama suaminya dulu."
Rahwana jadi teringat pada perkataan Zayn. Dia bilang Rahwana saat besar nanti akan menikahi Bisu.
"Ma, menikah itu apa?"
Elis mengangkat alis atas pertanyaan polos anaknya, tapi kemudian tersenyum. Tangannya lembut membelai kepala Rahwana, lalu berkata, "Menikah itu artinya kamu mau jagain perempuan yang seumur hidup akan sama kamu."
"...."
"Kamu enggak boleh nyakitin dia, enggak boleh sengaja bentak-bentak dia, apalagi selingkuhin dia." Lalu Elis melirik Nabila karena mau tak mau teringat akan anaknya.
Anak yang dulu hanya satu-satunya ia lepaskan menikah muda karena lamaran dari anak orang baik-baik, tapi ternyata gadis kecilnya itu dihancurkan tanpa sisa oleh kelakuan-kelakuan keluarga sialan mereka.
"Perempuan yang menikah sama kamu nanti harus sayang sama kamu, dan sebaliknya kamu juga. Kamu harus selalu jagain dia dan dia juga harus selalu ada buat kamu. Kamu harus bikin dia bahagia dan dia harus bikin kamu bahagia. Itu namanya pernikahan, Nak."
Rahwana termenung.
Harus menjaga.
__ADS_1
Harus menyayangi.
Harus membuat dia bahagia.
"Dia harus jadiin aku nomor satu, Ma?"
"Iya. Itu harus."
Kalau begitu ....
*
"Mulai sekarang kita suami istri, Bisu."
Nabila memiringkan wajah heran pada ucapan Rahwana.
"Mulai sekarang aku suami kamu, kamu istri aku." Rahwana menunjuk dirinya sendiri, lalu pada Nabila. "Suami itu harus bikin istrinya bahagia, istri harus bikin suaminya bahagia. Kita sama-sama bikin diri kita dan satu sama lain bahagia. Jadi mulai sekarang kamu istri aku yah, Bisu?"
Nabila tidak mengerti tapi entah kenapa ia merasa Rahwana itu bodoh.
*
"Om Zayn bohong sama aku!"
Zayn mengangkat alisnya bingung. Baru saja kakinya berhenti berjalan, memenuhi panggilan Rahwana yang katanya mau bicara sesuatu tentang Nabila. Tapi tanpa basa-basi anak itu malah berteriak, menyalahkan Zayn.
"Bohong?" Zayn melipat tangan. "Om bohong apa? Om kan enggak motong tangan Bisu."
Apa yang bocah ini bicarakan?
"Kenapa bohong?"
"Aku udah ajak Bisu nikah!" Rahwana menggebu-gebu atas pernyataannya. "Aku bilang sama Bisu kita suami istri, tapi Bisu enggak mau! Dia diem aja! Bisu enggak mau sama aku!"
Zayn tahu anak kecil itu bodoh tapi tak disangka kalau kebodohan dia ternyata sejauh ini. Tentu saja anak sekecil Nabila mana paham kalau diajak menikah sekarang.
"Bisu lebih suka sama Om daripada sama aku!"
Zayn diam-diam menahan napas.
Tapi sesaat kemudian pria itu bisa mengendalikan diri, melipat tangannya di depan dada.
"Rahwana, laki-laki enggak usah banyak ngerengek," ucapnya tegas. "Cuma karena kamu ditolak sekali, kamu nyalahin Om? Itu kebiasaan perempuan nyalah-nyalahin orang. Kamu perempuan?"
Rahwana langsung terdiam. Tidak mau dibilang perempuan karena Rahwana laki-laki.
"Sini, Om kasih tau sesuatu." Zayn berjongkok, mengisyaratkan Rahwana datang dengan tangannya.
Anak itu pun mendekat, berdiri persis di depan Zayn.
"Kalo kamu mau Bisu ngeliat kamu, jangan suka maksa-maksa. Kasih perhatian yang enggak terlalu banyak. Secukupnya aja."
__ADS_1
Rahwana diam, enggan mengaku dia tidak paham soalnya nanti Zayn mengejeknya bodoh. Tapi karena Zayn orang dewasa, jelas dia paham anak ini tidak mengerti.
"Nih, Om kasih biskuit." Zayn merogoh sakunya, mengeluarkan dua bungkus biskuit cokelat yang jelas tidak akan ditemukan setidaknya di desa ini. "Kamu bakal kasih Bisu berapa?"
"Satu." Rahwana menjawab dengan sangat yakin. "Soalnya aku punya dua."
"Salah." Zayn mendorong biskuit itu ke dada Rahwana. "Dua-duanya punya kamu. Satunya kamu makan depan dia sampe habis, satunya lagi makan setengah baru kasih Bisu."
"Itu kan curang, Om."
Itulah trik, dasar bocah.
Jika Rahwana memberikan satu biskuit tiba-tiba pada Nabila, tentu saja dia akan senang, tapi dia tidak 'merasa ingin' hingga kebahagiaannya cuma sebatas berterima kasih. Akan tetapi kalau Rahwana memakan biskuit enak ini sampai habis, sampai Nabila diam-diam merasa ingin juga dan berharap dikasih, dia akan menganggap Rahwana sangat baik saat membagi sepotong dua potong saja.
"Kalo aku lakuin, Nabila bakal berenti suka sama Om kan?"
"Yap. Tugas Om memang cuma bantuin kamu bisa deket sama Bisu."
"Oke." Rahwana mengantongi dua biskuit cokelat itu, lalu pergi meninggalkan Zayn sendirian.
Zayn sedikit menoleh, memandangi punggung Rahwana yang semakin terlihat jauh. Dalam hati ia berharap trik itu berhasil.
Rasa senang Nabila pada Zayn harus sebanding dengan rasa senang dia pada Rahwana. Bukan berat sebelah.
Anak itu memang harus menganggap Zayn sebagai ayah pengganti, tapi dia tidak boleh melupakan Rahwana.
*
Rahwana menjalankan saran Zayn, memakan sebungkus biskuit saat Nabila sibuk menyapu halaman. Sesuai saran Zayn pula, Rahwana menghabiskan sebungkus biskuit itu sendirian.
"Rahwana." Mama melihat biskuit di tangan anaknya. "Om Zayn yang kasih?"
Anak itu mengangguk. "Iya."
"Kamu suka? Mau Mama minta Om Zayn beliin yang banyak?"
"Wah, beneran, Ma? Mau, mau!"
Mama tersenyum bahagia melihat anaknya senang. "Yaudah, tapi kamu janji jangan ngasih Bisu yah?"
"Iya!"
Malam harinya, Rahwana menyelinap ke kamar Nabila, ingin memberikannya seperti saran Zayn. Tapi Rahwana tidak memakan setengah dari biskuit itu. Semuanya utuh, mau ia berikan pada Bisu.
Rahwana hanya merasa kalau ia makan setengah nanti Nabila tidak akan puas.
"Bisu, ini buat kamu."
Nabila menatapnya dengan sorot mata bingung, lalu tanpa disangka dia menggelengkan kepalanya.
Menolak.
__ADS_1
*