Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Telah Kehilangan


__ADS_3

Juwita jarang mengkhawatirkan anak-anaknya sebagaimana ibu lain mengkhawatirkan mereka. Mungkin itu karena semua anak Juwita perempuan dan mereka semua tumbuh dalam kasih sayang keluarga sempurna. Maka justru karena itu, Juwita lebih banyak khawatir pada anak-anak tirinya.


Juwita sedikitpun tidak punya rencana soal masa depan Lila yang sebentar lagi akan masuk SD, karena semuanya urusan Adji. Tapi Juwita punya planing tentang bagaimana masa depan Cetta, masa depan Banyu ... dan sedikit perkiraan tentang masa depan Abimanyu.


"Aku mesti gimana, Mbak?" Juwita berdiri memandangi foto istri lama Adji, wanita yang telah membawa Juwita berdiri di tempat ini untuk menggantikan posisinya sebagai ibu dari anak-anak mereka. "Aku mesti gimana soal Abi?"


Justru karena ini kesempatan terakhir yang bisa Juwita berikan, ia benar-benar mau ini berakhir baik untuk mereka semua. Jadi tolong beritahu apa sebenarnya yang mesti ia lakukan?


"Ibu." Nia menegur Juwita dan memecahkan balon lamunan dalam kepalanya. "Ibu, Nia laper."


Juwita berjuang keras menetralkan emosinya agar bisa tersenyum pada Nia. "Laper, Nak? Tapi masih dua jam lagi sebelum makan malem, loh. Ibu kasih cemilan aja mau yah?"


"Um."


"Oke, sini. Bikin sama-sama. Ngomong-ngomong, Abang Cetta sama Abang Banyu mana?"


"Abang Cetta sama Yuni, katanya ngasih makan Mimi. Abang Banyu telpon pacarnya."


"Pacarnya?" Juwita mengangkat alis. "Pacarnya siapa? Abang enggak bilang?"

__ADS_1


"Gak. Katanya rahasia."


Juwita mengerutkan kening bingung, tapi ia putuskan tidak bertanya pada Nia. Mereka membuat camilan bersama-sama untuk semua orang sambil menunggu waktu makan malam tiba. Tadi Adji bilang mau membawa pulang makanan dari restoran saja, jadi Juwita hari ini tidak masak.


Setelah anak-anak berkumpul dengan tenang di ruang bermain, Juwita meninggalkan mereka dalam pengawasan Cetta. Pergi menghampiri Banyu yang lagi mengerjakan tugas di teras samping.


"Katanya ada yang jomblo tapi ternyata punya pacar diem-diem, rahasia."


Banyu mendengkus. "Boong doang gue sama Nia."


"Ohya?"


"Iya, Juwita. Lo cek dah tuh HP kalo enggak percaya."


Baru saja layar kuncinya terbuka, Juwita dihadapkan pada wallpaper Banyu yang berupa foto keluarga mereka berdelapan.


Ah, bersembilan karena Juwita yang berada di bagian paling tengah, duduk memegang pigura Melisa.


"Aku enggak bisa kayak gini terus," gumam Juwita saat matanya menatap foto Abimanyu tersenyum konyol di foto itu dan terlihat baik-baik saja. "Aku enggak bisa terus biarin Abi pergi. We're family."

__ADS_1


"Juwita—"


"Cahku." Juwita mengembalikan handphone itu bahkan tanpa sempat memeriksanya. "Aku enggak sanggup kalo keluarga kita enggak ada Abi. Aku enggak bisa. Dan aku Ibu kalian. Tugas aku mastiin keluarga kita enggak pecah berantakan bukan ngusir kalian satu-satu biar aku bahagia sendirian."


"Oke." Banyu menoleh, mengangguk pada Juwita seolah dia berkata dia sangat mengerti perasaan Juwita sekarang. "Lo segalanya buat rumah ini, Juwi. Segalanya. Karena lo ada, kita semua bisa ngumpul. Lo boleh ngambil keputusan yang lo mau."


Juwita tersenyum lembut. "Aku enggak pernah bersyukur kayak aku bersyukur punya kalian."


"As long as you're happy."


Juwita meyakinkan dirinya bahwa ia memang harus melakukan sesuatu. Bukan sekadar tentang ia tak mau kehilangan sahabat yang mengerti dirinya juga pendengar kekuh kesah hariannya, tapi juga karena Juwita mau keluarga titipan Melisa dan keluarganya sendiri utuh karena cinta.


Karena itulah Juwita putuskan kembali menemui Abimanyu esoknya, kali ini sendirian. Juwita tak memberitahu Adji bukan karena ia ingin membangkang namun karena Juwita tidak mau sampai masalah lain terjadi.


Banyu dan Cetta tinggal di rumah menjaga adik-adik mereka sementara Juwita berbohong ingin ke minimarket agar anak-anak mengerti.


Tapi ....


Setiba di kosan Abimanyu, di anak tangga tepat sebelum mencapai lantainya, Juwita berdiri kosong melihat Abimanyu mencium seorang perempuan yang jelas-jelas bukan calon istrinya, bukan pula perempuan saat Juwita memergoki dia pertama kali.

__ADS_1


Detik itu, jauh di hatinya yang terdalam, Juwita tahu bahwa ia telah kehilangan Abimanyu-nya dan mungkin dia tidak akan kembali.


*


__ADS_2