Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Keputusan yang Berubah


__ADS_3

Abimanyu datang ke rumah ibunya Juwita malam hari, karena Lila memanggilnya untuk memberitahu berita penting. Tentu saja itu soal Juwita akan menjemput dia besok dan katanya mereka akan terus bersama-sama, tidak ada yang perlu pergi.


Perkataan polos adiknya hanya Abimanyu respons senyum. Ia tahu itu tidak mungkin terjadi. Harus ada yang pergi dan itu pasti Abimanyu.


Setelah bermain dengan Lila sampai dia puas, Abimanyu mendatangi Yunia, menggendong anak itu walau dia kali ini tidak menangis.


Setidaknya Abimanyu merasa harus memuaskan diri bersama mereka sekarang.


Dari kejauhan Banyu menatap pemandangan itu. Sebagai adik Abimanyu, Banyu merasa sedih karena harus kehilangan dia. Bagaimanapun mereka tumbuh bersama. Tapi Banyu harus memilih.


Ini yang terbaik.


Atau setidaknya itulah yang diharapkan mereka. Namun di sisi lain sana, Juwita berhadapan dengan Sakura.


"Tante pikir bisa ngancurin hidup aku kayak gini?" Wanita muda itu menemui Juwita secara khusus untuk menegaskan keputusannya. "Enggak, Tante. Aku bukan menantu yang teraniaya sama mertuanya. Jangan harap."


"Tante rasa kamu masih salah paham, Nak. Tante sama Abimanyu—"


"Tante bakal dengerin kata pencuri kalo mereka bukan pencuri?" potong Sakura seolah dia jijik mendengar Juwita. "Faktanya, Tante, enggak ada yang suka sama Tante."


Juwita tertegun.


"Tante pikir aku enggak tau siapa Tante? Perempuan muda yang nikah sama duda kaya cuma buat uangnya. Tenang aja, Tante, plot klasik. Perempuan emang matre walaupun mereka enggak mau ngaku. Uang selalu nomor satu biar kita bahagia."


Sakura maju, menatap mata Juwita penuh keberanian.

__ADS_1


"Enggak usah bahas perasaan, soalnya kita berdua sama-sama enggak peduli, kan? Yang aku mau Tante tau, aku enggak bakal biarin Abimanyu yang pergi. Tante yang mesti pergi dari sini. Tante yang ngerusak semuanya, bukan Abimanyu."


Juwita mengepal tangannya kuat-kuat. "Jaga omongan kamu, Sakura."


"Enggak, Tante yang mulai sekarang harus jaga diri. Jangan kegatelan. Aku bisa bikin hidup Tante lebih ancur sekarang. Menurut Tante gimana keluarga Om Adji yang benci sama Tante tau kalau Tante selingkuh sama Abimanyu?"


Badan Juwita gemetar menahan marah. Tidak boleh. Jangan sampai berita memalukan ini keluar dari rumah ini, apalagi sampai diceritakan pada keluarga Adji.


Sangat banyak orang bodoh di dunia ini. Mereka yang mendengarnya pasti akan langsung menghakimi alih-alih peduli pada kronologis asli.


"Sakura—"


"Pela-cur," hina Sakura seraya mundur. "Karena suami Tante udah tua, Tante lari ke anaknya. Dasar murahan."


"SAKURA!"


Perempuan itu dengan lantang berkata, "Kalau Om ngusir Abimanyu, itu sama aja Om ngancurin hidup aku."


Adji yang tidak tahu tentang perkataan Sakura pada Juwita tentu saja bersikap baik karena Sakura sudah menjadi anaknya juga.


"Kamu kenapa ngomong gitu?" balas Adji halus.


"Karena Om bilang aku anak Om juga."


Sakura mengusap air matanya yang tiba-tiba terjatuh. Tentu saja Sakura merasa sangat tertekan. Ia ingin pergi tapi tidak sebagai korban. Kenapa mereka harus pergi, meninggalkan Juwita bahagia sendirian sementara dialah penyebab semuanya?

__ADS_1


"Om bilang aku boleh panggil Om sebagai Papa juga. Tapi mendadak Om mau ngusir anak Om. Kalau Abimanyu salah, Om, aku juga harus disalahin?"


Adji tak bisa membalas. Perkataan Sakura sangat masuk akal. Bagaimanapun Adji membiarkan anaknya menikah saat ia tahu anaknya sedang tidak waras. Walau Abimanyu yang berhak bertanggung jawab atas dirinya sendiri, tapi itu tidak berarti Adji harus mengabaikan menantunya.


"Please," pinta Sakura. "Please, Om, please. Jangan main buang anak Om kayak gini."


Juwita di belakang Sakura memejamkan matanya, ikut menangis.


Pikirnya yang sulit hanya merelakan Abimanyu, tapi Juwita lupa bahwa mereka secara sengaja membawa pemeran baru yang tentu saja punya perasaan.


Walau Sakura menyakitinya tadi, menyalahkannya karena tidak mengerti, tapi yang dia katakan benar. Yang salah hanya Abimanyu jadi kenapa dia harus menunggunya juga?


Itu seperti Abimanyu harus dipenjara, lalu Sakura dimasukkan juga cuma karena dia istrinya.


"Om, please."


Adji melihat Juwita. Memilih untuk menyerahkan keputusan padanya karena yang paling tidak bisa menahan adalah dia.


"Fine." Juwita menarik napas, mengalah pada keadaan.


Atau tidak.


Sebenarnya ia hanya takut jika keluarga Adji tahu. Jika sampai pembicaraan semacam itu bocor, suatu saat telinga Lila, Nia dan Yunia akan mendengarnya.


Suatu saat mereka akan dihina karena tuduhan ibu mereka berselingkuh dengan anak dari ayah mereka.

__ADS_1


Jauh lebih baik Juwita yang menderita daripada masa depan anaknya ternoda. Mereka bertiga harus hidup baik-baik saja.


*


__ADS_2