
Juwita juga tahu kok kalau keluarga Adji cuma bercanda. Orang waktu liat cermin Juwita juga sudah bisa melihat keindahan dunia yaitu mukanya sendiri.
Tapi yah namanya perempuan. Baper adalah kodrat.
Juwita jadi bete sungguhan dan tipis-tipis berpikir apa benar ia sejelek itu. Ya habis gimana coba? Masa satu keluarga tidak ada satupun yang mulutnya bisa jujur mengutarakan fakta.
Waktu masak, Juwita sengaja pakai masker untuk menutup wajahnya.
"Kakak, kok pake masker?"
"Insecure. Satu keluarga enggak ada yang mau jujur."
"Idih, baper." Banyu tersenyum mengejek. "Kalo cantik beneran ya berarti lo pede dong. Minder berarti secara enggak langsung lo ngaku."
"Karepmu ajalah. Capek aku ngomong sama kamu."
Juwita menghidangkan makanan untuk mereka, lalu beranjak pergi dengan makanannya sendiri.
"Kakak, Cetta ikut."
"Enggak usah. Aku lagi bete."
Cetta tetap ikut, mengambil piringnya dan buru-buru menyusul Juwita untuk makan di pinggir kolam renang dalam rumah.
Anak itu mengikuti Juwita kemanapun. Ya bagus sih karena dia jadi patuh kalau Juwita minta belajar sebentar, mengerjakan tugas matematika ringan, belajar bahasa Inggris simpel.
Dia patuh, tapi itu juga merenggut kebebasan Juwita yang pada dasarnya adalah anak gadis.
"Aku panggil kamu Bebek aja, yah? Ngikuuuuuut aja ke mana aku pergi. Cetta Bebek."
"Enggak mau."
__ADS_1
"Suka-sukaku dong." Juwita mencium wajah bocah itu setelah memastikan dia wangi, bersih, rapi, siap untuk tidur. "Ayok, waktunya bocan, Bebek."
"Cetta mau tidur sama Kakak."
"Enggak ada. Bobonya sama Abang."
"Sama Kakak."
"Gak."
Cetta meloloskan diri saat Juwita mendorongnya pergi, lari menjauh sambil berteriak keras. Spontan saja Juwita mengejarnya, tapi malah dibuat berputar-putar sampai Juwita ngos-ngosan sendiri.
Kalau Adji tidak turun menangkap Cetta, Juwita rasa tetangga sebelah mereka akan melaporkan ke polisi untuk tuntutan mengganggu tetangga yang beristirahat.
"Kamu kenapa?"
"Mau bobo sama Kakak."
"Besok lagi main sama Kakak. Mau istirahat juga Kakak Juwita. Kasian, loh."
"Yaudah, tidurnya sama Cetta aja."
"Sempit kalo kamu tidur di kasur juga."
"Papa aja tidur di kamar sebelah. Biar Cetta sama Kakak."
Adji mendorong pintu kamar anak-anaknya, memasukkan Cetta ke sana. "Nih, tidur sama Abang. Kalo Cetta tidur sendiri, Papa beliin playstation baru. Oke?"
"Janji?"
"Janji. Tuh, Banyu udah tidur kamu malah belum." Adji mencium kepala putranya dan memastikan dia berselimut. "Tos dulu."
__ADS_1
Juwita mencibir waktu melihat semudah itu dia menidurkan Cetta. Maksud Juwita, terus dari tadi dirinya lari-lari itu gunanya apa kalau dia langsung anteng disogok playstation?
Tapi yah apa bisa dikata. Beliau bapaknya.
Sebelum Adji muncul dari kamar mereka, Juwita sudah lari duluan ke atas. Mandi, menyegarkan diri, dan bersiap untuk tidur.
"Marah yah kamu?"
Juwita pura-pura tidak dengar.
"Beneran kamu marah?"
"...."
"Juwita."
Adji menarik lengannya agar Juwita berbalik, tapi dengan sengaja Juwita menutup wajah.
"Jangan marah, nanti saya beliin playstation juga."
"Enggak butuh."
Adji malah tertawa. Sebelum Juwita bisa berbalik menjauh, Adji sudah menarik tubuhnya lebih dekat, memeluk Juwita tanpa permisi.
Oke, aneh juga sih kalau dia permisi, tapi kenapa tiba-tiba?
"Kamu mau malem pertama kayak gimana?"
Juwita langsung mencibir. "Dih, katanya enggak mau kalo bukan saya yang mulai duluan."
"Yakan saya nanya doang, bukan ngajakin. Nungguin, yah?"
__ADS_1
*