
"Mas enggak ke kantor?"
"Saya kangen kamu."
Juwita tersenyum geli, tapi tidak protes waktu Adji menariknya dan mengunci pintu. Memang sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu sebagai pasangan.
Selama di rumah sakit, Adji tidak bisa berbuat apa-apa.
Memang ada banyak waktu buat Juwita di kamar. Dokter menyarankan buat Juwita tidak beraktivitas berat dulu, dan segera istirahat kalau muncul rasa sakit di kepalanya.
Karena Mama Mertua juga tidak rewel, Juwita serasa hidup tanpa beban.
"Mas enggak pa-pa aku enggak dateng ke nikahan Intan?"
Sepupu Adji yang waktu itu lamaran akan menikah dalam beberapa hari kedepan. Mengingat kondisi Juwita plus hubungan buruk yang dipicu Banyu, mertuanya bilang Juwita tidak usah datang.
Daripada pusing, katanya.
"Saya kalau bisa enggak dateng juga enggak mau dateng."
Adji sibuk mengusap-usap punggung telanjang Juwita yang tidur di atas tubuhnya.
"Mereka enggak peduli sama kamu, nganggep kamu cuma beban buat saya. Ngomongin kamu ini itu di belakang saya. Kalau bukan karena keluarga, saya juga enggak mau dateng sama sekali."
Juwita menipiskan bibir.
Sejak Banyu mengatai Oma Putri, memang tidak ada lagi keluarga Adji yang datang menjenguk Juwita.
Padahal sebelumnya cukup banyak, walaupun lebih banyak bicara dengan Adji.
__ADS_1
Memang kayaknya tipe keluarga Adji bukan tipe keluarga harmonis. Tapi tipe keluarga yang berkumpul demi pamer dan saling menghujat.
"Saya bersyukur Melisa ninggalin kamu buat saya." Adji membelai wajahnya tanpa melepas mata dari Juwita. "Jangan dengerin orang ngomong apa soal kamu. Melisa sama kamu, kalian berdua yang jadi pusat keluarga saya."
Juwita tersenyum. "Makasih yah, mau direpotin terus."
Untuk Ayah dan Ibu, juga untuk Juwita yang belakangan sering mendapat masalah, Adji belum pernah menyalahkannya satu kalipun saja.
Makanya Juwita bersyukur.
"Omong-omong, Mas, Ajeng gimana?"
Adji langsung menghela napas. "Enggak usah dipikirin. Itu urusan saya."
"Cuma mau tau aja kok."
Lagi, Adji menghela napas. Kentara tidak mau bicara, tapi pada akhirnya menuruti Juwita. "Dia enggak ngapa-ngapain belakangan. Itu jadi aneh karena kayaknya dia tau Nana udah sama saya."
Orang itu pasti akan mencari celah lagi. Dan Juwita akan segera mengetahuinya, sebab tidak ada hal yang sangat mau Juwita lakukan kecuali bertemu perempuan itu.
HP Juwita siialnya entah sedang di tangan Adji atau Abimanyu. Mereka berdua kompak tidak bilang.
"Papa." Pinth kamar tiba-tiba berusaha dibuka. "Papa, Kakak, Cetta mau masuk."
Juwita bergegas beranjak. Tapi lebih dulu memunguti beberapa pakaian. "Aku lagi enggak mau main. Kamu turun aja," usir Juwita jail.
"Cetta mau temenin tidur."
"Enggak mau. Mau tidur sendiri."
__ADS_1
Cetta semakin berusaha membuka pintu. "Aaangg, buka!"
"Gak."
Suara Cetta hilang, sebentar, lalu suara tangis pun mulai terdengar.
Juwita tertawa melihat bapaknya cuma tersenyum pasrah, buru-buru membuka pintu, mengambil anak itu ke pelukannya.
"Jail yah Kakak, Nak?" Adji langsung mengambil Cetta ke pelukannya begitu Juwita duduk di kasur. "Kalau Kakak nakal ambilin Pika sama anaknya Mimi. Entar nurut dia sama Cetta."
"Ajaran sesat." Juwita mencubit kedua pipi Cetta yang basah. "Kenapa sih kamu mau sama aku terus? Hm? Kenapa? Aku enggak mau sama kamu juga."
Bibir anak itu bergetar. Hidungnya sudah merah, menangis terisak-isak.
"Enggak ya? Sama Kakak Cetta yah, Nak?" Adji berusaha menenangkan.
Tapi Juwita malah menambah tangisan itu.
"Aku mau punya anak sendiri aja. Enggak mau sama kamu. Enggak mau."
Adji menggeleng heran. "Kamu kenapa suka banget bikin nangis anak saya?"
Juwita tersenyum polos. "Kalo udah gede, orang dewasa enggak boleh banyak nangis. Makanya pas kecil dipuas-puasin."
"Kamu udah gede masih sering nangis."
Senyum Juwita berubah pelototan. "Huh! Entar aku punya anak, enggak mau lagi aku sama kalian."
Selama sepuluh menit, Cetta menangis terisak-isak karena keusilan Juwita.
__ADS_1
*