Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Harus Sadar Diri


__ADS_3

Meskipun sempat terkena masalah di tengah jalan, mobil mereka akhirnya sampai di kediaman. Juwita mendorong kasar pintu mobil dan meninggalkannya begitu saja.


Pulang dalam keadaan marah adalah sesuatu yang Juwita benci tapi untuk satu ini, sebenarnya apa yang bisa ia lakukan selain marah?


"Abang Abi pulang lagi!" teriak Lila senang melihat Abimanyu menyusul tak lama setelah itu.


Juwita cuma bisa menelan ludah, berusaha agar setidaknya anak-anak lain tidak sadar bahwa ibu mereka sedang terlampau emosi.


"Mau peluk?"


Walau selalu ada satu yang sadar. Banyu datang, menawarkan lengannya terbuka.


Juwita langsung menenggelamkan diri ke pelukan anaknya. Merasa sedikit tenang ketika Banyu mengusap-usap punggungnya naik dan turun.


"Gue tebak, hasilnya enggak sesuai harapan?"


"Tapi seenggaknya aku punya ide. Versi marah. Super marah."


Banyu menjauh selangkah untuk melihat wajah Juwita. Memang dia terlihat marah karena tidak tersenyum, tapi Banyu pikir masih butuh waktu sangat lama untuk Juwita mau terima jika Abimanyu perlu ditampar bolak-balik.


"Lebih bagus dari ide gue bonyokin Abang sampe dia minta ampun?"


Juwita mengernyit jijik. "Jangan ngomongin soal itu lagi di sini."

__ADS_1


"Oke, intinya lo semarah itu. Terus?"


"Ambilin obat asma aku di atas." Juwita mengacak sekilas rambut Banyu sekaligus berlalu, tidak menjawab pertanyaannya.


Juwita memutuskan untuk diam saja sepanjang hari, duduk di sofa tanpa melakukan apa-apa sebab ketiga anaknya lebih suka bermain dengan abang-abang mereka.


Saat Juwita melihat Abimanyu tersenyum mendengar celotehan Lila, perasaan sedih Juwita berubah marah.


Dia sangat egois. Dari semua anak Melisa, Abimanyu adalah yang tertua dan sangat egois. Apa yang terlihat di matanya cuma perasaan dia sendiri. Mungkin itu manusiawi tapi Juwita rasa menjadi manusiawi bukanlah tugas seorang manusia.


Juwita tidak menikah karena cinta tapi ia bertekad menjalaninya sepenuh hati dan mencintai Adji juga anak-anaknya. Memang manusiawi seorang gadis yang bahkan tidak punya waktu pacaran malah menikah duda beranak tiga?


Tidak tapi Juwita menjalaninya.


"Mommy, you're shaking," tegur Lila yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan Juwita. "Are you okay?"


".... No." Juwita menggeleng, mengakuinya daripada ia menahan ini. "Ibu lagi ... capek jadi kalian sama Abang, oke? Ibu mau istirahat."


Banyu turun dari lantai atas dengan obat asma Juwita. "Gue udah telfon Papa," katanya saat memberikan obat itu. "Gue bilang asma lo kambuh so he's on the way."


"Thank you, Sweetheart." Juwita memang butuh Adji sekarang.


Wanita itu diam dan diam sampai pintu depan terbuka, memunculkan Adji yang nampak buru-buru datang.

__ADS_1


"Juwita." Adji menghampirinya sekalipun anak-anak berteriak menyambut kepulangannya penuh semangat. "Asma kamu kambuh? Mau ke dokter?"


Juwita menggeleng. Justru menarik Adji dan memeluknya erat.


Melihat hal itu, Banyu putuskan buat mengalihkan perhatian adik-adiknya agar tidak berlarian ke arah Adji dulu. Juwita selalu mengalah dan membiarkan ketiga anak perempuannya jadi princess, karena itu Banyu rasa sesekali membiarkan dia tidak diganggu adalah hal benar.


"Kamu mau ke kamar?" bisik Adji lembut, menyadari gelagat istrinya yang ingin manja. "Mandi bareng, mungkin?"


Juwita melirik Abimanyu saat itu. Mata mereka bertemu dan sangat jelas.


Detik itu, Juwita benar-benar sudah memutuskan. Ia harus membuat Abimanyu tahu, sadar diri, posisi Juwita di rumah ini seperti apa.


Kalau dia tidak melihat Juwita sebagai mamanya melainkan gadis asing yang bermesraan dengan papanya, maka setidaknya dia harus terus melihat 'perempuan asing' itu terlalu menyukai papanya untuk peduli pada anak bau kencur.


"Aku mau di sini," gumam Juwita, secara sengaja meremas otot punggung Adji. "Enggak intim banget. Just ... love me here."


Adji mengangguk, memeluk erat tubuh istri kecilnya. Meskipun Adji bisa mendengar suara para tuan putrinya iri dan cemburu, Adji dan Juwita sepakat bahwa punya anak bukan berarti harus selalu mengalah pada mereka.


Ada waktu di mana Juwita ingin jadi satu-satunya dan itu tidak mahal bagi Adji memberikannya.


"Mas sayang kamu." Adji mengecup puncak kepalanya sambil terus membelai punggung Juwita. "Sayang banget."


Juwita tersenyum. Ia tahu itu.

__ADS_1


*


__ADS_2