Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
part 12


__ADS_3

Amukan Abimanyu berlangsung selama tiga jam. Itupun Abirama harus menyuntikkan obat penenang pada ayahnya baru dia sedikit melemah sebelum tubuhnya diikat oleh rantai agar tidak memberontak lagi.


Sementara itu Rose duduk menyesap tehnya tenang.


"Kalian tahu kenapa penerus Paman tidak ada yang berasal dari keturunannya?" kata Rose pada semua orang yang kelelahan setelah menangani Abimanyu. "Karena Paman tidak punya keturunan."


Semua orang terlalu capek menjawab.


"Lalu kenapa Paman tidak punya? Apa Paman mandul?" Rose mengangguk. "Benar. Paman melakukan operasi vasektomi saat usianya masih dua puluhan tahun. Saat itu Paman tidak sengaja menghamili Rashi yang masih jadi simpanannya. Saat tahu Rashi hamil, Paman langsung menggugurkan kandungan itu, lalu melakukan operasi. Dan setelah menikahi Rashi, Paman memastikan wanita itu tubektomi."


Dengan kata lain Mahesa Mahardika menutup semua peluang dirinya punya anak. Semua istrinya mandul, Mahesa mandul, dan Tuhan tidak memberi keajaiban apa pun untuk Mahesa punga anak setelah anak dari Rashi digugurkan.


Semua itu karena .... "Paman tahu dia hanya manusia."


Rose tersenyum kecil. "Paman tahu jika dia punya anak, hak atas hidupnya akan direnggut oleh anak itu. Paman harus menyayanginya, Paman akan melakukan apa saja demi anak itu. Tapi Paman tidak boleh melakukannya. Paman seseorang yang tidak boleh memiliki kelemahan serapuh itu."


Maka dari itu Mahesa sampai akhir hayatnya tidak memiliki keturunan dan penerus seluruh kekuasaannya adalah anak-anak terpilih yang telah dia persiapkan.


"Aku sudah punya firasat kamu pasti berkhianat jika anakmu terluka karenaku." Rose kini sudah berjongkok di depan Abimanyu. "Tapi aku berbaik hati membiarkan kamu tetap di sini."


Sesaat setelahnya tamparan Rose memalingkan wajah pria itu.


"Lalu setelah semuanya, kamu masih tidak tahu terima kasih?"


"Rose—"


"Diam, Olivia, karena aku juga punya dugaan kamu berkhianat jika aku membunuh orang bodoh ini."


Olivia langsung mengunci mulutnya. Dia jelas tidak bisa membantah itu sebab alasan paling utama Olivia berada di sini adalah karena Abimanyu juga berada di sini.


"Tatap mataku, Abimanyu." Rose mencengkram rahang Abimanyu. "Lihat aku dan tunjukkan nafsumu itu lagi. Katakan kamu rela membunuhku demi anakmu. Jika kamu mengatakannya, aku akan melepaskan kamu dan membiarkan kamu melakukannya."


Abimanyu mungkin sudah bisa berpikir setelah lama memberontak. Otaknya sudah lebih jernih mencerna situasi dan sadar meskipun Rose bisa pingsan hanya karena berjalan santai, ujung kuku Abimanyu tidak bisa menyentuh Rose, apalagi menyakitinya.


Pria itu tertunduk lemah, lalu pelan-pelan isak tangisnya terdengar.

__ADS_1


"Bila," rintihnya tak kuasa. "Anak saya disiksa sama mereka, Rose."


Abimanyu sudah tidak punya kuasa hingga hanya mengadu.


"Anak saya masih tujuh tahun. Saya enggak tau dia di mana. Saya enggak tau dia dikasih makan atau enggak. Dia pasti takut."


Dia pasti sakit.


Abimanyu merasa ingin mencabut nyawanya sendiri saat ia memikirkan betapa sakit anak itu sekarang. Dan ... dan jemari yang terpotong itu ....


"Aaaaaaaaarrrrrggggg!" Abimanyu berteriak purus asa. Tubuhnya terbujur lemas di kaki Rose, merintih akibat rasa takut di tubuhnya. "Saya mohon," isak Abimanyu. "Saya mohon, Rosella. Saya bakal nukar semuanya buat Bila. Saya mohon."


"...."


"Kalo ini karma buat saya, tolong saya aja. Jangan anak saya. Jangan Nabila."


Rose beranjak. "Kamu pikir selalu bisa semudah itu? Karena itulah seseorang benar-benar harus berpikir. Menyesal sekarang memang berguna? Kenapa kamu tidak merasakan lagi, kepercayaan diri kamu dulu saat mau membuat anak itu?"


Perkataan Rose hanya menambah keputusasaan Abimanyu.


Rose melirik pria yang menangis dengan kepala tertunduk di lantai. Dia benar-benar sudah putus asa sekarang.


"Bukankah aku sudah mengatakan? Olivia juga sudah mengatakan. Anakmu pasti akan melihat neraka."


"Princess." Banyu menghentikan ucapan menyakitkan itu. "Udah. Abimanyu udah ngerti."


Namun diluar dugaan, Rose ternyata emosi. Alis perempuan itu langsung menulik tajam. "Mengerti? Apa maksudmu dengan mengerti? Maksudmu hanya dengan mengerti maka semua hal selesai?!"


Rose berjalan cepat menuju Banyu, menyambar kerah pakaiannya hingga pria itu oleng.


"KAMU TAHU KUTUKANKU?! KUTUKANKU ADALAH LAHIR DI DUNIA SIALAN INI! DAN KAMU BILANG ABIMANYU SUDAH MENGERTI JADI SUDAH?! BEGITU KATAMU?!"


"Rose." Olivia berusaha menghentikan dia, takut jika Rose pongsan akibat marah namun dihentikan oleh isyarat Banyu.


"ORANG-ORANG SEPERTI ABIMANYU ADALAH ORANG YANG HARUS DIINJAK-INJAK SAAT DIA MENYESAL! OH, AKU JUGA INGIN MENGINJAK ISTRINYA, ORANG YANG MEMINTA HAL KONYOL ITU DULU! KARENA KEEGOISAN MEREKA, KARENA HAL YANG MEREKA SENDIRI TIDAK BISA MENANGGUNGNYA, SESEORANG HARUS MENDERITA!"

__ADS_1


Rose mundur. Mencengkram jantungnya sendiri dan tampak kesakitan. Tapi perempuan itu terlalu emosi untuk peduli.


"Kamu pikir hidup bisa semudah itu? Aku lahir dari rahim adiknya Mahesa Mahardika. Aku besar di gendongan Mahesa Mahardika. Dan saat aku tahu bayaran dari hidupku yang luar biasa adalah perjuangan yang bahkan tidak sanggup ditanggung tubuhku, menurutmu aku bisa kabur?! Ke mana aku bisa pergi selain duduk menerima takdir, hah?! Ke mana aku bisa lari?!"


"...."


"Tidak ada tempat! Aku harus di sini, menjadi pewaris Pamanku yang sialan terlalu luar biasa itu, atau aku lari hanya untuk dikejar-kejar oleh pembunuh yang dendam pada Pamanku! Menurutmu pilihanku ada?! Menurutmu aku bisa melakukan hal lain?! TIDAK ADA! Dan semua itu berawal dari keegoisan ibuku yang mau melahirkan aku!"


Rose sudah sesak napas. Tapi perempuan itu menarik napas dan berusaha menenangkan dirinya sendiri.


Kini tanpa berteriak dia menatap Abimanyu.


"Kamu tahu, Abimanyu? Jauh di lubuk hatiku, aku senang melihatmu begini. Karena hanya dengan begini kamu mengerti seharusnya kamu tidak sembarangan memaksa seseorang lahir di dunia untuk menanggung bebanmu."


Rose kembali menarik napas, menghembuskannya perlahan.


"Beritahu pada seluruh dunia. Mulai hari ini aku akan memburu semua orang yang mengaku sebagai bagian dari Kelompok Anti-Mahardika. Barang-barang dari negara yang mengakui secara terbuka ketidaksetujuan terhadap Paman, semuanya dinyatakan ilegal."


Rose keluar dari ruangan itu sendirian sebelum beberapa pengawal datang menjaganya.


Langkah kakinya menuntun Rose ke dalam kamar utama istana, duduk di tepi tempat tidur bersama inhaler. Setelah napasnya membaik, Rose menutup wajahnya sendiri seolah tak ingin tembok dan tirai tahu bahwa ia menangis.


"Beban peninggalan Paman sangat berat untukku, Ma. Aku selalu menyesali hidup yang Mama berikan. Ini hidup terburuk."


Rose terpejam.


"Tapi aku baik-baik saja," katanya kemudian. "Aku baik-baik saja, Paman."


Walau berat, walau sakit, walau membuatnya tidak bisa bernapas, Rose akan berusaha baik-baik saja.


"Tetap hidup, Bocah." Rose mendogak. "Pastikan dirimu tetap hidup. Aku pasti akan menyelamatkan kamu sekalipun itu ke dasar samudera."


Bukan karena Rose khawatir apalagi peduli pada nasib bocah bernama Nabila itu. Sama sekali bukan.


Namun Rose ingin dia pulang, ingin dia berdiri di depan Abimanyu dan Rara, agar mereka berdua melihat 'karma' yang terpaksa harus ditanggung anak mereka, karena keduanya tidak bisa menyelesaikan karma mereka sendiri.

__ADS_1


"


__ADS_2