Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
109. Iya Gue Salah


__ADS_3

Kepekaan mertua dan orang tuanya Juwita bisa dirasakan esok hari ketika mendadak mereka bilang ingin meninggalkan rumah.


Mama beralasan kalau mau traveling sekalian mengunjungi rumah keluarga yang jauh, akan kembali nanti sebelum lebaran.


Sedangkan Ibu beralasan rumah sudah kotor, Ayah mau buka toko, dan katanya Bima tidur di rumah sendirian jadi harus pulang.


Juwita tidak menahan. Paham betul kalau memang urusan Abimanyu ini harus dibahas secara pribadi saja, dan sebisa mungkin tidak banyak yang tahu.


Menegur anak dan menyebarkan aibnya biar dia malu lalu menyesal itu beda yah.


Menegur itu sayang, menyebar aib itu pelecehan.


"Ibu hati-hati." Juwita mencium kedua orang tuanya sebelum mereka pergi diantar oleh supir.


Beberapa jam setelahnya Mama pun berangkat, naik mobil bersama Papa dengan bekal seadanya.


Juwita mengantar keduanya sampai mobil mereka tak terlihat, baru ia masuk, pertama-tama mencari Abimanyu dulu.


Anak itu tidak ke sekolah, padahal Banyu berangkat. Dia tidak muncul sarapan juga. Adji diam, tidak banyak komentar setelah berpesan dia akan pulang cepat.


"Unyil, kamu mainnya hati-hati, yah!" teriak Juwita dulu, harus memastikan si Bocil main dengan aman di ruang peliharaannya itu.


"Iya, Kakak!"


Bagus.


Si Unyil sudah dikendalikan, maka sekarang waktunya bertemu Pak Raden.


Juwita berjalan ke kamar Abimanyu di lantai dua, mengetuk pintu kamarnya namun tidak dibukakan.

__ADS_1


Begitu Juwita buka, terlihat jelas Abimanyu bergelung dalam selimut di ranjangnya, terlihat seolah tidur padahal pasti tidak.


Orang banyak gerak macam dia mana mungkin bisa tidur sampai siang. Apalagi dari kemarin dia cuma tidur juga. Tingkahnya cuma menunjukkan jelas ada masalah dalam hatinya karena kesalahan dia diketahui banyak orang.


"Kamu enggak ngomong sama aku?" tanya Juwita, langsung pada point-nya.


Dari omongan dia kemarin saja sudah jelas Abimanyu kembali membencinya.


"Abimanyu."


Dia tidak bergerak seincipun.


"Lebih ada gunanya kamu ngomong sama aku daripada kamu sengaja diem yang ujung-ujungnya bikin berantem," ucap Juwita tegas.


Selimut dia langsung tersibak, dan Abimanyu turun dari kasurnya.


Kentara pikirannya memang sedang kacau sampai-sampai dia tak sadar menatap Juwita seperti menatap musuhnya sendiri.


"Terus lo mau ngadu sama Papa? Mau pura-pura ngajak gue temenan terus cepu ke Papa? Gitu maksudnya? Kenapa enggak sekalian lo posting aja? Bikin berita kalo gue mabok, gue ngomong suka sama lo! Bilang!" teriaknya.


"Itu bukan aku yah, Bi. Bukan aku yang ngomong ke—"


"Terus siapa yang ngomong, Juwita? Banyu? Atau Sandy? Oh, atau Om kesayangan lo?"


Juwita mengatup mulut. Menyabarkan diri karena demi Tuhan, anak di depannya ini bicara begini karena takut.


Dia takut pada Adji, dan satu-satunya pelampiasan dia memang cuma Juwita. Walau itu tidak adil buat Juwita, sebagai orang tua, mau tak mau memang dirinya yang harus mengalah.


"Kenapa lo enggak sekalian ngomong gue naksir sama lo?"

__ADS_1


Abimanyu menunduk di depannya, menatap lurus-lurus mata Juwita.


"Enggak sekalian lo ngadu kalau gue naksir sama bekasnya Papa? Siapa tau kita bisa threesome."


Sebelum Juwita bisa sadar, tangannya sudah melayang ke wajah Abimanyu, menampar anak itu keras-keras.


Padahal dalam kepala Juwita berulang kali ia bilang, anak ini sedang tidak waras.


Dia belum ada di usia bisa berpikir sehat. Mamanya baru mati, dia punya ibu tiri dan dia suka pada ibu tirinya.


Jangan marah pada orang gila, Juwita! Demi Tuhan, jangan marah!


"Itu buat apa?" Abimanyu bertanya tanpa emosi. Malah semakin menunduk, mengulurkan tangan ke wajah Juwita. "Buat apa, Mama?"


Mata Juwita nyaris tak berkedip. Ia cuma diam melihat anak tirinya semakin membungkukkan badan, hingga pelan-pelan napasnya menerpa bibir Juwita.


Gestur itu ... dia mau mencium Juwita.


Tapi ....


"Jadi gitu cara kamu nunjukin kamu nyesel?"


Juwita bergumam tenang biarpun jarak wajahnya dan Abimanyu sudah terlalu dekat.


"Bikin kesalahan makin banyak, bikin diri kamu makin nyesel biar apa? Biar kalo orang bilang kamu salah, kamu bangga bilang 'iya gue salah', gitu?"


Abimanyu membeku.


*

__ADS_1


__ADS_2