Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
You Stupid Biitch


__ADS_3

Abimanyu menunjukkan kartu hitam yang Adji berikan dan seketika itu ia dibiarkan lewat, diantar menuju ruangan khusus bertemu pemilik bangunan ini. Niat Abimanyu ingin langsung bertemu Mahardika, tapi ternyata orang itu sedang tidak ada di pulau hingga ia bertemu dengan kepala organisasi.


"Nama lo?"


Dari usianya, dia hanya sepantaran Abimanyu. Ada banyak tato di tubuhnya juga tindik di mana-mana, yang paling mencolok adalah tato elang kecil di sudut alisnya. Namun meski masih muda, dia terlihat mengintimidasi dan sulit dibantah.


"Abimanyu," jawabnya dengan nada sedikit ragu. "Saya—enggak, maksudnya, gue ke sini mau nyewa pengawal. Yang paling mahal kalau bisa."


"Spesifik masalah lo apa dulu," balas pria itu.


Abimanyu merogoh saku jaketnya, mengeluarkan dompet untuk mencabut foto di sana. Foto keluarganya di mana Juwita juga ada.


"Hari ini, sekitar empat jam lalu, ada orang ngikutin nyokap tiri gue. Gue mau dari sudut mana pun dia diawasin jangan sampe ada orang lain yang deketin dia lagi. Juga, gue mau tau siapa yang ngikutin dia."


Orang itu mengamati foto Juwita lalu menoleh pada pria yang berdiri di belakangnya. "Panggil Q ke sini."


Tak lama seorang pria lain datang bersama laptop kecil di tangannya. Dia duduk, tak banyak bicara langsung bertanya lokasi tempat Juwita diikuti.


Abimanyu mengamati dari layar laptop itu memang sungguhan ada pria yang sengaja mengikuti Juwita.


"Lo bisa dapet informasi lengkap soal dia?" tanya Abimanyu, sedikir tak sabar menghajar orang sialan itu.

__ADS_1


Situasi keluarganya sedang tidak baik-baik saja dan sekarang malah dia datang membuat keadaan makin tidak baik-baik saja.


Suara ketikan keyboard sejenak memenuhi keheningan, diakhiri dengan satu suara Q menekan enter dan muncullah profil seorang pria.


"Namanya Surya." Q menoleh pada Abimanyu. "Kayaknya satu kampus sama lo, bro."


Abimanyu mematung. Ia sudah cukup yakin bahwa itu mungkin saingan bisnis Papa atau seseorang yang dendam dari masa lalu tapi ... apa katanya?


Satu kampus? Mereka satu kampus?


Pria bertato elang yang melihat Abimanyu sibuk terpatung akhirnya buka suara lagi. "Cari tau motifnya."


Q kembali sibuk mengutak-atik sesuatu, memunculkan sejumlah hal di layar tapi kali ini dia menggeleng.


"Hah?" Abimanyu merespons. "Maksudnya dia cuma disuruh?"


Q menunjuk ke layar. "Beberapa hari yang lalu terus hari ini, satu akun bank transfer uang ke Surya. Agak terlalu banyak buat anak kuliahan biasa yang kayaknya pengangguran. Totalnya udah dua puluh juta. Cuma dari satu akun."


"Siapa?" serbu Abimanyu langsung.


"Hmmmmm, ini agak repot." Q menatap Abimanyu penuh selidik. "Atas nama Abimanyu."

__ADS_1


Eh?


*


"Abimanyu." Di tempat lain, Cetta dan Banyu sama-sama mendengarkan hal sama dari orang berbeda. "Ini akun bank Abimanyu, kan? Dia yang transfer ke rekening-nya Surya."


Teman Banyu yang membantu mereka melacak penguntit itu kini justru memuntahkan informasi omong kosong.


Setidaknya bagi Cetta dan bagi Banyu.


Rei menggaruk kepalanya yang gatal akibat fakta ini. Dia setidaknya juga tahu bahwa Abimanyu itu kakak dari kedua bocah ini dan kalau Abimanyu memberikan uang pada si Penguntit Surya, berarti penjahat itu ya suruhan kakak mereka sendiri.


"Ini ilegal sih tapi karena lo berdua ada, yaudah gue kasih liat." Lalu Rei kembali melakukan sesuatu dengan komputernya, mengirim uang dari akun Abimanyu yang dia retas ke akun Banyu.


Untuk memperlihatkan lebih jelas bahwa ini sungguhan milik kakak mereka.


Banyu mengeluarkan ponselnya, melihat jelas bahwa itu memang dikirim dari akun milik Abimanyu.


"I'll kill him." Banyu mencengkram kuat ponselnya. "You stupid biitch."


*

__ADS_1


Dukung karya author dengan like👍, vote dan komen, yah😊🙏🙏


__ADS_2