Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Mulai Muak


__ADS_3

"Juwita, gue putus."


Juwita yang super duper capek tapi harus membuatkan jus untuk anak-anak tentunya tidak berharap mendengar kalimat itu.


"Kenapa?" tanya Juwita dengan nada hampir lowbatt.


"Gue enggak mau lo kecewa sama gue." Banyu berucap gugup. "You know like ... gue enggak mau bikin lo mikir gue ngebebanin lo atau breng-sek kayak Abang. Seriously, gue enggak mau nyakitin lo, apalagi bikin lo nangis."


"Oke, oke. Relax, Baby." Juwita menepuk-nepuk punggungnya. "Aku ngerti. Yang penting kamu enggak bikin nangis anak orang kan? Specially sepupu kamu. Sekarang ke kamar, tidur."


Juwita terlalu capek buat menunggu respons Banyu. Ayo percaya padanya karena Juwita tidak bisa mengurus setiap detil hidup semua anaknya, bahkan kalau ia adalah super mommy.


Ditinggalkan Banyu begitu saja, masuk ke kamar membawa dua gelas jus untuk dua anak lebih besar, dan jus dalam dot untuk Yunia.


"Sayang." Juwita menggendong Yunia yang terasa panas seperti batu habis dijemur. "Palamu sakit, Nak? Enggak flu, kan?"


Air mata Yunia berjatuhan tanpa ucapan. Dia sakit setelah melewati pesta yang melelahkan buat tubuhnya sekaligus buat energinya sebagai introvert akut.


Biasanya jika Yunia sakit maka dia digendong sepanjang waktu oleh Adji, tapi Adji juga sedang luar biasa capsk menghadapi semua tamu. Dia mengurus pernikahan sendiri jadi tentu saja dia tepar.


"Lila, Nia, tidurnya sama Abang Cetta yah, Nak. Ibu jagain Yunia dulu."


Mereka berdua menghabiskan jusnya sebelum berlari pergi, masih punya tenaga buat itu. Sementara Juwita sudah tidak punya jadi ia duduk di sofa dalam kamar anaknya, mengusap-usap punggung Yunia.


"Ssshh, Sayang. Jangan nangis yah, nanti kepalanya tambah sakit."


Yunia lebih banyak menangis daripada bicara sejak bayi, jadi yah tentu dia tetap menangis.


Ketika Juwita menahan semua lelah dan sakit kepalanya untuk tetap terjaga demi Yunia, pintu kamar mendadak terbuka ... oleh Abimanyu.


"Yunia sakit?" Abimanyu melangkah masuk. "Biar gue gendong."


"No need to." Juwita sedang tidak ingin terlibat drama apa pun dengan anak ini.


"Satu rumah tau Yunia lebih suka digendong cowok. C'mon, Juwita. She's my sister. Gue khawatir."

__ADS_1


Juwita punya sejuta hal untuk dikatakan karena ia sangat lelah dan tidak mau diganggu, tapi menahan itupun adalah tugasnya sebagai ibu.


Dipindahkan Yunia ke pelukan Abimanyu yang langsung mendekap anak itu.


"Hiks."


"Sssshhh. Abang peluk kamu." Abimanyu setidaknya sungguh-sungguh menjaga anak itu.


Dia lupa dirinya adalah anak Juwita, anaknya Adji, tapi setidaknya dia tidak lupa bahwa dia kakak dari adik perempuannya.


"Sakit, yah? Maaf yah, Abang bikin capek."


Juwita memejamkan matanya untuk menahan sakit kepala berat juga. Tapi ia tak bisa tidur jika anaknya sakit. Jika terjadi sesuatu pada Yunia sementara Juwita malah tidur, ia seketika menjadi ibu jahat.


"Kamu mestinya di kamar," gumam Juwita lemah, pada Abimanyu. "Istrimu gimana?"


"Entah."


Jawaban breng-sek.


"Lo nangis?"


Pertanyaan tiba-tiba itu tentu saja membuat Juwita heran. "Aku capek, bukan nangis."


Haruskah dia bertanya hal tidak penting?


"Tadi." Abimanyu menoleh. "Tadi mata lo merah. Kayak lo habis nangis."


"...." Juwita diam karena mendadak ingat. Lalu gumamnya, "Same shiit different person."


"Hah?"


"Banyu pacaran diem-diem sama Talisa, padahal dia enggak ada rasa."


Abimanyu malah tersenyum. "Lo kira di dunia cuma gue yang sampah?"

__ADS_1


"Jangan ngajak aku berantem sekarang, Bi, karena jelas-jelas adek kamu seenggaknya punya batas."


"Ya, batas buat dia sebenernya masih punya cewek."


Juwita terheyak. Oh, tidak lagi. Jangan lagi soal kebrengsekan seseorang karena Juwita sungguhan sudah muak. "Abimanyu, jangan macem-macem—"


"Suci buat lo cuma soal enggak suka sama lo, kan? Ya, gue enggak suci karena demen istri bokap gue sendiri. Banyu yang punya pacar lain and he slept with her, literally, itu masih masuk hitungan suci."


"...."


"Lo enggak mikir itu anak beneran cuma punya pacar anak SMP yang punya susu gede, kan?"


Sangat lelah, sakit kepala, khawatir anaknya sakit, menghadapi pernikahan yang sejak awal rasanya menuju perceraian—ya, Juwita sedang dilanda badai masalah itu dan sekarang ia berada di ujung batas.


Dan batasnya baru saja putus.


"What the fvck is going on with you guys, hah?"


Juwita tak tahu bahkan harus merasa apa sekarang.


"Kayaknya kalian berdua cuma mau mamerin ke semua orang kalo aku ini orang enggak becus yang bikin kalian rusak. Enggak sekalian aja kamu sama Banyu narkoba, Bi, biar satu keluarga Papamu bisa buktiin kalo Juwita si Pretty Biitch ini emang enggak pantes jadi mama tiri kalian. Oh, enggak. Juwita enggak pantes hidup karena dia cuma bawa sial!"


"Ya." Abimanyu dengan mudahnya mengangguk. "Mungkin emang dari awal lo harusnya enggak jadi istri Papa."


Juwita tahu Abimanyu mengatakan itu karena dia egois. Dia ingin bilang seharusnya tidak menjadi istri Papa agar dia punya kesempatan.


Dia cuma mengatakan itu karena memikirkan diri sendiri.


Tapi untuk pertama kali setelah bertahun-tahun ... Juwita dibuat berpikir bahwa mungkin memang seharusnya ia tidak menikahi Adji.


Bertanggung jawab akan anak orang lain adalah hal yang terlalu berat Juwita tanggung.


Dan ia mulai muak.


*

__ADS_1


Juwita izin lelet update dulu yah menjelang lebaran soalnya. buat mengisi kekosongan kalian bisa baca karya-karya Candradimuka lainnya. langsung buka profil aja 😊


__ADS_2