Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Menikah untuk Cerai


__ADS_3

"Abang." Tangan kecil itu memukul-mukul wajah Abimanyu. "Abang, angun. Abang."


Abimanyu butuh waktu lama untuk meresponsnya. Mengerang pelan saat merasakan lengannya pegal, karena menjadi bantal bagi Yunia semalaman.


"Abang."


"Iya." Abimanyu menarik Yunia dalam pelukan erat, lalu memejamkan mata lagi karena ngantuk.


"Abang, kata Ibu angun."


"Hm."


Pintu kamar Abimanyu mendadak terbuka, memunculkan sosok Adji yang sudah berpakaian lengkap meski tak memasang jas-nya.


"Abimanyu, kamu mau Banyu yang ijab kabul?" tanyanya lantang.


"What?" Abimanyu mengernyit setengah sadar. "What are you talking about—"


"Ini jam tujuh."


Abimanyu terlonjak. "Shiit!" Dia sepenuhnya lupa jika hari ini adalah pernikahannya.


Dan jelas Abimanyu juga tidak akan tahu bahwa sejak tadi dia sudah berusaha dibangunkan, namun karena pintu kamarnya terkunci, sangat sulit membangunkannya. Jika Adji tidak mencari kunci serep, mungkin mereka akan terus mengira Abimanyu tidak bernapas lagi.


Adji bergegas mengambil Yunia. Menyerahkannya pada Juwita agar anak itu dimandikan dan dipasangkan baju.


Semua orang harus menunggu setengah jam sampai Abimanyu muncul, dengan jas pengantin tapi rambut acak-acakan. Adji melihat anaknya dan menyadari bahwa itu adalah bukti dia tidak diurus oleh ibunya.

__ADS_1


"Maaf," gumam Juwita, yang sadar diri bahwa setidaknya rambut itu pasti akan dikomentari dan dikait-kaitkan dengan ketidakbecusan seorang istri muda.


"Enggak pa-pa." Adji balas bergumam, mengerti bahwa Juwita dan Abimanyu berhenti saling bicara sejak berhari-hari.


Anak-anak memilih menempel dengan Adji juga kakek mereka, jadi Juwita lebih sibuk mengurus printilan barang anak-anak yang perlu dibawa.


Saat Juwita memasukkan semuanya dalam bagasi mobil, Ibu diam-diam mendekati Juwita.


"Juwita," panggil Ibu pelan, seolah tak mau orang lain mendengar. "Ibu tau kamu musuhan sama keluarga suamimu, tapi inget ini nikahan pertama anak pertama kamu juga. Senyum."


"Bu, aku enggak—"


"Senyum."


Juwita menarik sudut bibirnya dan tersenyum. "Aku tau, Bu. Tenang aja."


"Yap."


Juwita masuk ke mobil, duduk di samping Banyu sebab kursi depan diisi oleh anak-anak. Diam-diam, tangan kanan dan tangan kiri Juwita mersih tangan Banyu juga Cetta. Menggenggamnya bersamaan berharap ia diberi kekuatan.


Pernikahan ini sudah Juwita setujui, tapi ia sekarang merasa sedang menuju ke neraka bukan pernikahan.


"Lo ngerasa aneh?" bisik Banyu agar hanya mereka yang dengar. "It feels weird to me because ... gue malah mikir mereka bakal cerai, cepet ... atau agak kurang cepet."


"Stop talking like that." Juwita menelan ludah sebab ia juga berpikir sama.


Ia benar-benar berpikir kalau Abimanyu dan Sakura akan bercerai entah kapan itu, Juwita sangat yakin bahkan sampai ia berani bersumpah pada Tuhan. Dan meski begitu mereka tetap pergi ke sana untuk berpura-pura merayakan.

__ADS_1


"O my God," gumam Juwita, menguatkan genggamannya pada tangan kedua anak tirinya. "Banyu, say something."


Apa saja. Apa saja yang membuat Abimanyu terdengar sangat mengerikan agar Juwita kembali marah dan bukan larut dalam perasaan aneh ini.


Demi Tuhan, siapa sebenarnya ibu di dunia ini yang mau mengantar anaknya pergi meloncat ke jurang? Jadi tolong katakan sesuatu agar Juwita jadi ibu pertama yang melakukannya tanpa rasa ragu.


"Well," Banyu meremas tangan Juwita balik, tersenyum hangat, "lo nikah sama Papa tanpa cinta tapi ujung-ujungnya betah. Siapa tau ...."


Itu bukan sesuatu yang Juwita harapkan tapi Juwifa mengangguk menerimanya, merasa sedikit tenang.


Benar. Siapa tahu pernikahan ini mengubah Abimanyu. Lagipula pernikahan ini tetap terjadi maka Tuhan pasti merestui. Artinya, ada sesuatu yang baik dalam pernikahan itu.


Mungkin.


"Kak Juwita." Cetta membuka suaranya yang mulai langka. "You're doing great."


Juwita tersenyum lebar. Seketika memeluk Cetta walau dia terlihat risi. "Cahku ini emang. Tau banget nenangin."


"Ugh."


Banyu yang melihat Juwita setidaknya tenang pun menghela napas.


"Siapa tau, huh," pikir Banyu skeptis. "Abang gue jelas bukan badboy yang jadi goodboy gara-gara cewek."


Sementara Juwita tenang, Banyu sebenarnya sangat yakin bahwa nasib perceraian Abimanyu sudah ditentukan dari surga. Tinggal tunggu tanggal sidangnya.


*

__ADS_1


__ADS_2