Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
part 11


__ADS_3

Elis terbelalak dengan perkataan Zayn.


"Kamu kira saya mau?! Gak! Urusan begituan urusan kamu!"


Menganiaya anaknya Abimanyu tanpa rasa kasihan sangat berbeda dengan memotong jari. Jelas bukan karena Elis kasihan, tapi karena Elis jijik membayangkan darah.


Zayn tergelak keras. "Tante nih bisa mukulin anak tujuh tahun sampe dia enggak mau ngomong lagi, tapi masa motong jari kelingking aja enggak bisa?"


"Pokoknya enggak! Kamu aja!"


"Tante nih sama aja kayak Sakura. Giliran kerjaan kotor dilimpahin sama orang lain semua."


Tapi Zayn tak protes, beranjak setelah menenggak habis wine di gelasnya. "Nanti ada yang ngeliat saya di sini jadi saya pamit dulu."


Elis cuma membiarkan, menuangkan kembali wine ke gelasnya sambil mengingat masa-masa di mana anak perempuannya masih ada.


Dia dulu anak yang manis, anak yang seharusnya baik-baik saja andai seseorang tidak merusaknya. Tapi kehidupan Sakura mulai berubah neraka sejak Abimanyu masuk dan diperparah oleh Rara.


Mereka yang membuatnya menderita akan Elis buat sama menderitanya.


Sementara itu, Zayn menarik pintu terbuka. Rahwana di depan pintu terlalu terkejut untuk bisa bersembunyi. Anak itu seketika membeku, takut melihat tatapan dingin Zayn padanya.


"Mama—" Rahwana mau berteriak, meminta bantuan Elis karena entah kenapa ia merasa nyawanya terancam.


Tapi sebelum itu terjadi ....


"Ssshhh." Zayn membekap mulutnya, mengangkat dia dengan mudah untuk pergi.


Zayn membawanya sangat jauh, masuk ke hutan agar tidak ada yang melihatnya. Di tengah kegelapan itu, Zayn melempar Rahwana ke dekat pohon.


"Kamu ternyata nakal yah, Bocah." Zayn berkacak pinggang. "Nguping karena kepo itu kebiasaan perempuan, Rahwana. Kamu emangnya perempuan?"


Rahwana menggeram. Matanya melotot dan tangannya terkepal. Sekitaran tempat ini benar-benar gelap hingga matanya sulit melihat, tapi bermodalkan cahaya rembulan di balik awan, Rahwana masih bisa melihat jelas seringai Zayn.


"Om selama ini pura-pura?!" teriaknya penuh tanya. "Om nyuruh aku baikin Bisu padahal Om mau nyakitin dia?!"


Zayn cuma tersenyum.


"Emang salahnya Bisu apa?! Kenapa Mama sama Om mau nyakitin Bisu?! Bisu itu ... Bisu udah capek! Aku tau! Aku liat Bisu capek! Kenapa Om jahat?!"


".... Karena," Zayn berjongkok, "karena dia lahir buat disiksa."


Rahwana tercengang. "Om nyuruh aku jagain Bisu!"


"Emang. Kamu harus selalu jagain Bisu. Om enggak bohong."


Tangan Rahwana semakin terkepal kuat. "Om nyuruh aku jagain Bisu tapi Om mau potong tangannya Bisu!"


Zayn terkekeh. Pria itu tampak sangat geli sampai-sampai dia menutup mulutnya.


Apakah semua bocah memang sebodoh ini? Dia pikir cuma karena Zayn menyuruh melindunginya, berarti dia benar-benar bisa melindunginya?

__ADS_1


"Aku enggak bakal biarin!" teriak Rahwana keras. "Enggak ada yang boleh nyakitin Bisu!"


".... Oke." Zayn menjatuhkan tubuhnya di tanah, melipat tangannya di depan dada. "Om enggak bakal motong tangannya Bisu."


Rahwana mengerjap.


"Tapi kamu harus janji enggak ngomong apa-apa ke Bisu. Kalo kamu bilang, Om bakal langsung potong dua tangannya Bisu. Di depan kamu."


Rahwana terus mengepal tangannya kuat-kuat. Ada ketakutan di tubuhnya yang tidak bia dia tahan hingga gemetaran. Namun Rahwana akhirnya bergumam, "Om sumpah?"


"Ya, Om sumpah."


Rahwana semakin mengepalkan tangannya kuat-kuat, mendongak pada Zayn yang berdiri melipat tangan. Apa dia memang semenakutkan ini? Zayn selalu tersenyum dan terlihat selalu menuruti perkataan Mama. Kata Mama, Zayn itu orang yang sangat penting bagi Sakura.


Namun apa dia memang semenakutkan ini? Bisakah Rahwana percaya pada sumpah pria menakutkan ini?


*


"Permisi, paket." Seorang kurir menekan bel depan pagar kediaman megah itu.


Direspons oleh penjaga keamanan yang langsung berlari ke pagar namun tak membukanya.


"Paket, Pak."


"Atas nama?" tanya Tomoya datar.


"Atas nama Bu Nayla."


Jika itu atas nama Juwita atau atas nama Rara, Tomoya diperintahkan untuk memeriksanya dengan sangat detail. Tapi karena itu atas nama Nayla, wanita yang paling, paling, paling sering berurusan dengan jasa antar paket, Tomoya mengendurkan pengawasan dan menerimanya.


"Mbak, ini ada paket."


Nayla langsung menoleh. "Loh? Aku ada paket yah hari ini?" Saking banyaknya, Nayla kadang-kadang tidak tahu kapan paket-paketnya datang dan malas memeriksa.


Diambil saja benda itu, membukanya langsung.


Hanya sedetik setelah kotak dalam paket terbuka, jeritan keras memenuhi kediaman itu.


Cetta bergegas turun dari lantai atas mendengar suara istrinya. Pihak keamanan pun ikut bergerak, merespons suara yang menandakan sesuatu berbahaya itu.


"Sayang—"


Nayla berlari kencang ke pelukan suaminya. Menggigil ketakutan yang menurut Cetta tidak biasa.


"Nayla, kamu kenapa?" Juwita ikut turun dari atas.


Nayla menoleh pada ibu mertuanya itu, menunjuk takut-takut pada kotak di meja.


Juwita dan Cetta bergerak memeriksanya. Hampir sama seperti Nayla, Juwita mundur, berteriak histeris.


Hanya Cetta yang suaranya tak terdengar, namun rahangnya mengeras kuat.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Tomoya selaku kepala keamanan.


"Panggil Abimanyu," perintah Cetta seketika.


Tomoya tertegun melihat isi kotak itu juga. Buru-buru dia berbalik, memerintahkan anak buahnya untuk menyusul kurir tadi.


"Amanin kotaknya dulu," kata Tomoya. "Jangan biarin Bu Rara ngeliat."


Terlambat.


Suara teriakan histeris Juwita dan Nayla membuat Rara dari rumah seberang langsung keluar. Wanita itu tampak pucat saat mendekat, merasa harus tahu apa yang membuat ibu mertua serta adik iparnya berteriak sekencang itu.


"Apa yang enggak boleh saya liat?" tanya Rara, mengejutkan mereka.


"Bu—"


"Tomoya, kamu mau nyembunyiin apa? Jangan-jangan soal Bila? Apa?! Bila kenapa?!"


"Rara." Cetta berusaha mencegahnya tapi Rara mendorong tubuh pria itu, pergi menuju kotak di atas meja.


Kening Cetta dan Tomoya kompak berkeruf, sama-sama memejamkan mata mereka erat.


Tidak bisa lagi dicegah saat Rara akhirnya melihat potongan jari-jari kecil berlumur darah itu. Disertai segenggam rambut hitam dan sehelai foto seorang anak kecil meringkuk di tanah.


Berbeda dari Juwita dan Nayla, Rara tidak menjerit seketika. Wanita itu meraih selembar foto di sana, mengamati dengan jelas bahwa itu memanglah malaikat kecilnya.


Bayinya.


Buah hatinya yang selalu datang ke pangkuan Rara sambil berkata, "Mama, Bila kangen Papa peluk Bila. Tapi Bila tahan kok tungguin Papa. Mama peluk Bila gantiin Papa dulu yah?"


Rara menggigit bibirnya. Dari foto ini, terlihat sangat jelas badan anaknya yang memerah seperti habis dicambuk. Dia meringkuk di tanah seperti serangga dan rambutnya dipotong sembarangan sampai-sampai rumput liar terlihat lebih rapi daripada rambutnya.


Napas Rara mulai tak beraturan. Dunianya yang sudah porak-poranda mendadak rubuh tanpa bekas.


"Rara—"


"AAAAAAAAAAAAAAARRRRRRGGGGGGGGGG!"


Teriakan itu melolong panjang, menyayat hati siapa pun yang dapat mendengarnya.


*


Banyu, Rendi, Olivia, Abirama dan dua penjaga lain masing-masing memegangi anggota tubuh Abimanyu agar tidak bergerak.


"Argh!" Abimanyu kesetanan memberontak, menatap Rose dengan hasrat membunuh yang jelas. "Lepas! Lepasin gue, bangsat! Anak gue nungguin gue!"


Rose melipat tangan, menatapnya tanpa ekspresi. "Anti-Mahardika sialan. Aku cukup berbaik hati membiarkan mereka tapi sekarang aku mulai kesal."


Olivia mendengar ucapan Rose tapi sekarang sangat sulit menahan Abimanyu bahkan dengan mereka semua.


"Abimanyu!" teriaknya keras-keras, berharap kewarasan di sana mendengar. "Tenangin kepala lo! Lo pikir bisa nyelametin Bila kalo nyerang Rose?!"

__ADS_1


Abimanyu tetap berusaha memberontak. Yang terbayang di kepalanya hanya foto anak gadisnya terluka dan potongan tangan di kotak misterius itu.


*


__ADS_2