Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
63. Juwita Adalah Candaan


__ADS_3

Juwita agak khawatir dengan dua anak itu pergi. Bisa terjadi apa-apa tanpa mereka tahu dan Juwita takut bukan main.


Tapi untungnya mereka cepat kembali, hingga Juwita tak perlu terlalu sesak oleh rasa cemasnya.


Dirinya kembali turun ke bawah untuk memasak, kali ini sudah memberitahu untuk tidak beli makan di luar.


Anak-anak itu selalu terlalu cemas sampai mengira Juwita tidak lagi bisa masak. Which is mereka perlu belajar sebab perempuan macam Juwita bicara melakukan ini dan itu hanya dalam satu waktu.


Ketika terdengar suara mobil di luar berhenti, Juwita siap menyambut kedua bocah sontoloyonya. Sekalian mau minta HP-nya yang dicolong Abimanyu.


"Bocahku, darling-ku, baby-ku, kalian udah pula—AAAAAAKKKKHHHH!"


Juwita terbirit-birit lari ke sofa, melompat pada Adji.


Tentu saja Adji yang dilompati terkejut, bahkan sikut Juwita mengenai perutnya sampai Adji mengerang kesakitan.


"Kamu kenapa—"


"AAAAAA, JIJIK, JIJIK, JIJIK! JANGAN KE SINI!"


Tapi Juwita terus menjerit histeris hingga Adji menoleh, menemukan Banyu datang dengan kotak akuarium berisi sepuluh ekor kodok merah.


Hadeh, dua bocah itu. Adji sih tidak bakal heran kalau mereka bahkan membawa anak buaya ke rumah, tapi tetap saja, sekarang Melisa yang pemberani sudah berganti jadi Juwita yang jijikan.


"Bawa piaraan kalian ke dalem," perintah Adji segera.


Karena sebenarnya dua bocah itu tidak sengaja, Banyu langsung prgi membawa peliharaan barunya ke dalam ruangan khusus peliharaan.


"Tuh, udah enggak ada. Jangan takut."


Sayangnya Juwita tetap menjerit.


"Juwita, Juwita. Udah, hei. Udah enggak ada."


Juwita malah menjerit sambil mengusap-usap tubuhnya. "Iyuh, iyuh, iyuh! Jijik, Mas! Iyuh!"


Susah untuk tidak tertawa.

__ADS_1


Demi Tuhan, ini perempuan terlihat tomboi tapi kura-kura dia geli, ular dia kaget, kodok malah dia jijik. Sementara Melisa yang terlihat seperti perempuan feminin malah berani dengan semua jenis binatang.


"Lebay banget sih lo." Banyu mencerca pedas. "Kodok doang lo teriakin."


"KAMU GURITA AJA DITERIAKIN!"


Banyu kena mental.


"Lagian kenapa sih kalian tuh pada enggak normal?! Kenapa gitu, kenapa?!" Juwita merintih seolah ingin menangis. "Aaaaaakkkkhhhh, Mbak Melisaaaaaaaa!"


"Udah, udah." Adji menepuk-nepuk punggung Juwita di pangkuannya. "Telinga saya bisa pecah kamu teriak mulu. Udah."


"Tapi enggak usah kodok juga dong dipelihara, Mas! Please deh, ah! Pleaseeeeee! Pleaseeeeeee!"


"Buat makanan Pika itu."


"Pikachu yang kena makan!"


Juwita menangis. Tapi kali ini tangisannya bikin ketawa, karena dia terus berceloteh memanggil Melisa sambil berkata suaminya Melisa dan anak-anaknya tidak normal, tidak waras.


"Kakak, Cetta udah selesai mandi!"


Muncul pemiliknya Pika.


"Loh, kok Kakak nangis lagi?"


Juwita tersedu-sedu di pundak Adji macam anak kecil. "Kakak sama bapakmu enggak normal. Pika-mu mau dimakan kodok."


"Enggak boleh!"


Cetta langsung berlari mengecek Pika-nya. Sungguh Juwita berharap anak itu menangis kencang karena takut Pikachu-nya dimakan jadi buang saja kodok-kodok tadi.


Tapi harapan Juwita terkhianati ketika Cetta datang dengan kodok di tangannya.


"Kakak, liat deh kodok barunya Cetta."


Jeritan Juwita kembali terdengar. Sambil menangis dan memelik badan Adji erat-erat.

__ADS_1


"Enggak mau, enggak mau, enggak mau! Mas! MAAAAAAASSS!"


Adji ketawa, karena dia menang banyak. Enak badannya dipeluk-peluk.


Tapi Adji masih berbaik hati beranjak, menggendong Juwita menjauh.


Cuma Adji sengaja mengisyaratkan Cetta mendekat.


Waktu kodoknya bunyi, suara teriakan Juwita sudah ibarat di depan toa.


Tak tahu berapa lama Juwita dijahili, tapi demi Tuhan Juwita merasa mau mati. Sampai-sampai waktu mau makam, Juwita tidak bisa menyendok.


Sibuk tersedu.


"Emang kalian tuh enggak pantes idup," isaknya dengan muka penuh air mata. "Dasar brengsek! Bapak sama anak sama aja!"


"Lonya penakut banget," balas Abimanyu. "Gitu doang sampe konser."


"Kayaknya aku mesti ke dokter telinga, Pa." Banyu mengusap telinganya seolah gatal. "Budek lama-lama."


"Kakak, kok enggak makan?"


"Gak mau." Juwita menjawab ketus. "Makan aja sendiri."


"Kakak ngambek, yah?"


"Ya menurut situ?"


"Mau Cetta ambilin kodok?"


Satu rumah ini sudah menganggap penderitaan Juwita sebagai candaan.


Padahal Juwita serius, njir! Juwita lebih suka memandangi buaya atau ikan hiu daripada kodok.


Duh, Tuhan. Sudah bentuknya mengerikan, wujudnya menjijikan, pergerakannya tidak terduga, terus Juwita disuruh suka?


*

__ADS_1


__ADS_2