
Dia tidak bisa.
"Terus Papa mau bilang kalau yang aku lakuin selama ini cuma ngabisin waktu, enggak berguna sama sekali, makanya aku kalah?!" teriakan Abimanyu menggema di seluruh rumah hingga Juwita harus menutup telinga Cetta.
Duh, kenapa Adji malah mengajak anaknya bertengkar.
Tidak. Mungkinkah tanpa diajak pun anak itu malah bereaksi terlalu keras?
"Yang Papa pentingin cuma urusan Juwita! Cuma istri baru Papa! Papa enggak pernah peduli mau aku kerja keras, mau aku susah, mau aku berusaha!"
Juwita memejamkan mata, tak suka dengan bagaiamana mereka bertengkar di bawah.
Jangan sampai besok dia menolak pergi karena ini. Juwita sudah berusaha keras memperbaiki hubungan mereka.
"Papa marah?" Cetta mengerjap polos pada Juwita. "Abang nakal, yah?"
"Bukan, Sayang." Juwita mengusap-usap dagu Cetta. Mengecup keningnya yang terasa dingin bekas mandi. "Cuma ngobrol sedikit. Emang suaranya Abimanyu gede, makanya kayak gitu."
Tapi sepertinya Cetta tidak sebodoh itu untuk percaya. Meski dia putuskan tidak bertanya, diam sampai seluruhnya hening.
Juwita melihat Adji naik ke lantai tiga dengan langkah tak setenang biasanya, sementara Abimanyu malah berlari keluar rumah.
Ketika Juwita ingin memastikan keadan Banyu setidaknya baik, ternyata anak itu duduk membungkuk di kursi belajar, tengah menangis memegangi foto Melisa.
__ADS_1
"Mama bilang lo bakal jagain kita." Banyu berucap dingin. "Tapi ujung-ujungnya cuma bikin masalah."
Bibir Juwita tak bergerak membalas. Hanya menutup pintu lagi, dan ia putuskan tidak memasukkan Cetta ke sana.
Dengan atmosfer seberat itu, Juwita malah takut Cetta harus melihat kedua kakaknya tertekan.
"Kakak?"
Juwita tersenyum kecut. Memeluk Cetta erat-erat saat ia sadar bahwa menyusup di tengah keluarga orang tidaklah semudah yang diharapkan.
*
Adji bukan anak bau kencur yang baru lahir kemarin. Pria itu sudah tahu pasti akan muncul masalah demi masalah dengan kedatangan Juwita. Bahkan jika Juwita adalah gadis baik yang tidak suka membuat masalah.
Tapi menghadapi langsung dengan membayangkan itu agak sedikit berbeda.
Karena khawatir, Adji bergegas keluar. Menduga Juwita mungkin sedang di dapur bersih-bersih, tapi ternyata malah tidur dengan Cetta di sofa.
Adji mengambil Cetta dari atas tubuh Juwita, membawa anak itu ke kamarnya. Gantian Adji mengambil Juwita, membawa dia naik ke kamar mereka.
Jujur saja, ada ketakutan dalam diri Adji karena kepergian Melisa. Juwita tetap bukan ibunya anak-anak dan Adji takut itu membuat mereka jadi tidak bisa saling menerima satu sama lain.
Tapi Juwita terlihat berusaha keras meruntuhkan hal itu.
__ADS_1
*
Juwita tidak tahu bagaimana suasana hati semua orang pagi ini, namun memang ada yang bisa dilakukan selain pura-pura semua baik-baik saja?
Maka, pagi ini pun Juwita meramaikan suasana.
"Bocah-bocahku ganteng, bangun semua, Sayang."
Juwita mendorong pintu kamar anak-anak tirinya, sambil bertepuk tangan.
"Bangun, bangun, bangun! Semuanya bangun! Rise and shine! Burung pipit aja udah bangun, masa kalian sontoloyo enggak bangun? Bangun!"
"Berisik!" teriak Banyu murka.
Namun Juwita melempar toples berisi gurita hingga Banyu menjerit histeris.
Abimanyu adalah anak yang tidak perlu dibangunkan sebab dia pasti bangun buat lari pagi. Jadi Juwita langsung membawa Cetta pergi gosok gigi.
"Ini hari Minggu, Anj*ng!" Banyu menggaruk kepalanya sambil mendumel jengkel. "Lo tidur aja kek sampe siang! Pusing banget gue serumah sama lo!"
"Kita mau pergi yah hari ini, jadi bangun, makan, mandi, siap-siap."
"Bodo amat!"
__ADS_1
"Ya aku sih sama kamu bodo amat juga." Juwita menjulurkan lidah mengejek.
*