Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
69. The Real Boss


__ADS_3

Juwita memang belum tahu banyak mengenai circle-nya Adji, karena itu Juwita rasa harus memastikan. Feeling Juwita masih berkata kalau itu dari lingkungan Adji, berhubungan dengan Adji, mengincar posisi di sebelah Adji.


Kalau tidak ada, ya mungkin saja perasaan asal-asalan Juwita memang harus ditepikan, lebih mendengar dua bocah sontoloyonya saja.


Masuk akal juga kalau itu musuh Juwita secara pribadi, karena dia tahu Adit.


Intinya, ayo pastikan dulu.


Esok hari Juwita berbenah, Cetta menangis mau ikut.


"Mau pergi juga, hiks. Mau sama Kakak!"


Padahal Juwita memang mau ngajak, ternyata Mama dan Papa malah melarang.


Juwita tahu mereka kira Juwita dan Adji mau pacaran. Berpikir kalau pengantin baru mau keluar jadi anak titipkan dulu ke mertua.


Padahal tidak.


Ya amsyong, ngapain? Pacaran ternikmat adalah pacaran di kamar. Bukan di kantor.


Tapi bebas dari Cetta bukannya buruk juga. Juwita realistis saja, kadang suka capek sampai muak melihat Cetta.


Manusiawilah, yah.


"Babay." Juwita dengan sengaja melambaikan tangan. "Bye-bye, Pikachu. Aku mau pergi sama Papa, enggak ajak-ajak kamu. Bye-bye. Byeeeeeeeee."


Hingga muka Cetta malah semakin jelek. Dari yang awalnya menangis keras jadi menangis tanpa suara saking sedihnya.


Bagi Juwita, itulah hiburan dunia. Makin ia buat menangis biar makin puas.


"Muach, muach, muach. Aku ciaobela dulu. Babay. Babay yang ditinggal. Daaaaaaah."


Mulut Cetta terbuka lebar menangis, menyembunyikan wajah di leher omanya karena sedih.


Melihat dia mulai terlalu menangis, Juwita kabur ke mobil, disusul Adji yang cuma menggelengkan kepala, serasa malah punya anak perempuan tambahan.


...*...

__ADS_1


Tiba di kantor Adji, Juwita mau turun langsung waktu orangnya malah menahan.


"Jangan sok amnesia." Adji memasangkan jaket tebal, kacamata, masker, plus topi. "Ayok."


"Leher enggak dipasangin tali, Mas? Siapa tau aku lari."


"Mau?"


Juwita mengerucutkan bibir, tapi turun daripada panjang.


Serasa dirinya selebritis di bandara memakai semua embel-embel itu, apalagi waktu orang kantor Adji semuanya menoleh.


Juwita pasrah mengekori Adji, mulai mencari satu per satu ekspresi wajah perempuan yang terlihat antagonis, cantik, dan sombong. Biasanya sih yang begitu jabatannya tinggi.


Kayak sekretaris.


"Pagi, Pak."


"Selamat pagi, Pak."


"Morning, Pak."


Oke, tipe bos yang cukup ramah pada karyawan. Juwita suka pria ramah dan tidak sombong.


Di lantai atas sama lagi. Juwita pikir mereka akan masuk ke ruangan tertentu di mana tumpukan dokumen menunggu, tapi Adji ternyata malah pergi ke tengah ruangan yang diisi banyak kubikel.


Di sana, Adji menepuk tangannya beberapa kali buat menarik atensi. "Morning all," sapanya sangat humble.


"Morning, Pak."


"Sebelum saya denger laporan, saya mau perkenalin. Ini istri saya, mukanya enggak usah diliat, namanya enggak usah ditau. Pokoknya istri saya."


Juwita menatap cengo. Apalagi karyawan Adji malah mengeluh sambil agak bersorak biar muka Juwita diperlihatkan.


"Oke, persingkat aja. Erna, laporan kamu."


Adji cuma berdiri di sana, satu per satu menyebut nama karyawannya dan bertanya laporan, lalu mereka berbicara satu sama lain di tempat terbuka itu.

__ADS_1


Juwita rasa itu cukup lama, sekitar empat puluh menit sebelum Adji mengajaknya pergi.


"Udah?" tanya Juwita heran. Memastikan karena kayaknya Adji dari tadi cuma dengar curhatan.


"Udah."


"Gitu doang?" Dia kan bos, yah?


"Emang kamu ngarepin saya apa?"


"Ya apa gitu. Enggak ke ruangan kamu? Kayak di film-film gitu banyak tanda tangan segala macem."


Adji tertawa. "Saya enggak punya ruangan. Cuma datang nanyain kabar begini, pergi."


Juwita nge-lag, tapi pelan-pelan mengacungkan jempol. "The real boss, okay. Mantap."


Karena Juwita tidak paham, ya pokoknya puji saja.


"Ya masa saya bayar orang kerja terus saya juga duduk kerja? Kan pembodohan namanya."


"Iya, sih. Tapi kok kamu pulang sore terus?"


"Karena banyak. Ayok, yang satu udah nunggu. Nanti jam sebelas saya ada meeting. Jam dua saya ada tamu di Depok. Jam lima nanti ada meeting lagi."


Oke, kerjaan dia bukan duduk, tapi keliling jalanan.


Juwita bersabar mengikut, menatap satu per satu perempuan yang paling dekat dengan Adji, meski Adji bilang dia tidak punya sekretaris.


Wakil-wakil Adji (CEO dan Direktur) di perusahaan yang punya sekretaris. Adji sendiri bilang tidak butuh, dan bisa langsung dihubungi.


Juwita melihat dunia yang agak baru baginya. Sisi Adji yang cukup ramah, lugas, dan membaur bersama seluruh pegawainya.


Di semua tempat, Juwita melihat karyawan Adji semuanya berani menyapa, dan Adji menyebut nama mereka seperti teman.


Apa jangan-jangan dugaan Juwita salah? Mungkin memang itu musuh pribadi Juwita?


*

__ADS_1


__ADS_2