
Juwita memegang setir mobilnya sambil berulang kali mengatur napas. Sebenarnya saat Juwita hamil anak ketiganya, Juwita 'positif' mengidap penyakit asma yang lumayan memburuk setelah melahirkan. Maka dari itu Adji sering mewanti-wanti untuk Juwita jangan sampai membiarkan dadanya terasa berat, secara fisik ataupun mental, sebab itu akan berbahaya.
Juwita sedang berusaha keras sekarang.
Fokus menunggu Abimanyu memasukkan barang-barang ke dalam mobil sesuai perintahnya.
"Lo jalan duluan," ucap anak itu setelah selesai. "Gue naik motor jadi—"
"Masuk." Juwita tidak mau mendengarnya. "Biar Banyu yang ngambil motor kamu nanti. Masuk."
"Juwita, lo—"
"STOP CALLING MY NAME AND JUST SIT DOWN!"
Juwita tak bisa menahannya lagi. Rasa frustrasi dan kemarahan tak lagi bisa ia bendung dan semakin besar seiring Abimanyu melawan ucapannya.
"KAMU ANAK KECIL YANG ENGGAK PAHAM OMONGAN ORANG TUA, HAH?! MASUK! AKU ENGGAK PEDULI SOAL MOTOR KAMU! BUANG AJA KALO PERLU!"
Abimanyu menarik kasar pintu mobil, duduk disusul bantingan pintu.
__ADS_1
Tangan Juwita kembali menggigil saat ia menjalankan mobil. Napasnya mulai terasa sesak disertai isak tangis samar. Matanya berusaha fokus ke depan, berusaha menjalankan mobil dengan stabil meski pikirannya kacau.
Semua baik-baik saja, semua pasti baik-baik saja dan akan baik-baik saja. Juwita meyakinkan dirinya, mengingat Adji dan anak-anaknya untuk percaya pasti itu benar.
Namun sebagaimana perempuan emosi pada umumnya, bibir Juwita memuntahkan perasaan itu.
"Aku capek," ucapnya tersekat. "Aku capek sama kamu. Semua hal baik-baik aja kecuali kamu. Seakan-akan kamu emang enggak bahagia kalo keluarga kita baik-baik aja."
"...."
"Kamu pikir aku lupa, huh? Hari pertama aku dateng ke rumah kalian, kamu perlakuin aku kayak orang yang harusnya enggak di sana tapi aku tahan karena Mama kamu. Aku sedikitpun enggak pernah pengen nyakitin kalian, nyakitin kamu, ngambil tempat Mama kamu, jadi aku berusaha jadi sahabat bukan Mama kamu. Biar kamu tau kalau aku di sana bukan buat ngerusak apa-apa tapi buat nambah kebahagiaan kalian."
"...."
"...."
"Tapi waktu Papamu mau nyerah soal kamu, aku di sana, mastiin kalo kamu tetep sama kita. Karena aku percaya kamu waktu itu masih belum paham pentingnya keluarga buat kamu."
Juwita merasa tenaganya semakin terkuras dan ia tahu seharusnya tidak mengemudi sampai gemetaran ini berhenti, namun emosi membuat Juwita tetap melanjutkannya.
__ADS_1
"Orang-orang selalu bilang kalo Banyu itu yang paling egois. Ya, dia emang egois. Dia enggak banyak temen, sibuk ngurus dunianya sendiri, ngomong seenaknya aja TAPI Banyu jelas mikirin keluarganya, tau kalau keluarganya itu penting buat dia!"
Ketika suara Juwita meninggi kembali, itu seperti pemicu bagi ledakan Abimanyu juga.
Pemuda itu menoleh dan balas berteriak, "Lo pikir gue enggak nyoba?! Lo pikir gue mau kayak gini?!"
"TERUS SIAPA YANG HARUS TANGGUNG JAWAB SOAL KAMU?!" Juwita memukul setirnya frustrasi. "AKU YANG HARUS TANGGUNG JAWAB SOAL KAMU LAGI?! HARUS SELALU AKU YANG TANGGUNG JAWAB SOAL KAMU, BI?!"
"Kalo lo enggak mau ya tinggalin gue sendiri!"
"Aku mau ninggalin kamu dari pertama kamu nolak aku, tapi aku masih di sini karena AKU ISTRI PAPA KAMU!"
Abimanyu mengepal tangannya. "Lo selalu jadiin itu alesan buat ngurusin gue. Lo cuma istri Papa bukan nyokap gue. Lo enggak ngerti soal apa-apa, cuma nyuruh gue ngertiin perasaan lo yang enggak mau keluarga impian lo tuh hancur. Juwita, lo pikir gue bahagia duduk di keluarga yang bikin gue sakit hati?"
Juwita menginjak kuat rem di kakinya, tak peduli jika itu mengundang siraman klakson. Wanita itu menoleh, menatap wajah pemberontak di sampingnya.
"Kamu pikir aku mau jadi keluarga kamu?" ucap Juwita nyaris tanpa suara. "Kamu pikir aku beneran mau jadi mama tiri yang selalu jadi sasaran emosi kalian? Kamu pikir cuma kamu yang ngerasa enggak bahagia?"
Juwita sudah ingin pergi jauh sejak pertama kali ia merasakan penolakan. Namun Juwita memaku kakinya sendiri di tempat ini dan berjuang keras untuk bisa bahagia di sini.
__ADS_1
Jadi ia benar-benar tidak mau mendengar rengekan manja dari anak sulung gagal ini, tentang dia tidak bahagia.
*