Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
part 4


__ADS_3

"Nabila di tempat terpencil," ucap Olivia setelah seminggu penuh melakukan pencarian bersama timnya. "Tempat yang enggak ada CCTV, enggak ada kamera, kemungkinan bahkan enggak ada jaringan."


Abimanyu mengepal tangannya kuat-kuat. Ia rasanya ingin mengacak-acak dunia ini untuk menemukan putrinya tapi tentu saja ia tidak bisa melakukan itu.


"Kalo gitu fokusin pencarian ke hutan-hutan sama gunung." Abimanyu menoleh pada bawahannya. "Kirim beberapa juga ke laut. Peta lokasinya bakal Abirama kirimin ke HP kalian."


Rendi baru akan berkata siap saat Olivia menahannya.


"Gue belum bilang sisanya," kata perempuan itu. "Maksud gue kemungkinan dia ada di tempat terpencil, enggak ada jaringan ... sudut bumi entah di mana."


Abimanyu merasa nyawanya tercabut. "Maksud lo Bila mungkin udah di luar negeri?"


"Setengah negara itu bagian Mahardika kan? Setengahnya lagi Narendra. Kalo lo jadi mereka, lo mau nyembunyiin anak yang bakal dicari sama tentara negara di kandangnya sendiri? Itu goblok namanya."


Rose menopang dagu. "Banyu."


Adik Abimanyu yang juga tampak kosong itu bahkan menjawab Rose tanpa semangat. "Ya?" Lalu dia mengerjap, seakan tersadar. "Iya, Princess?"


"Panggil perempuan itu," kata Rose.


"Perempuan? Rara maksudnya?"


"Ibunya Bila sakit," timpal Abimanyu. "Jangan ngelibatin dia dulu."


Rose tertawa. "Aku tidak menyuruh Ranaya datang. Maksudku perempuan itu." Rose mengerling. "Wanita yang bersembunyi di belakangmu."


Banyu tersentak tapi seketika mengerti. Perempuan yang Rose maksud adalah Kisa.


Di sisi meja, Olivia yang menangkap maksud perkataan Rose ikut tertegun. Detik itu juga Olivia tersadar.


"Ah, jadi gitu." Olivia menutup wajahnya ketakutan. "Dendamnya Sakura yang lo bilang bisa mikir? Tapi kalo ngelibatin Kisa lagi berarti kemungkinan musuhnya Faksi Anti-Mahardika?"


Abirama tercengang. "Bukannya FAM udah bubar habis tragedi dulu? Mereka udah dinyatain hilang setelah dipukul mundur sama Narendra, kan?"


"Kamu memang anaknya Abimanyu. Kebodohanmu dan dia sama saja." Rose tertawa geli. "Tidak seperti orang bodoh macam kalian, orang pintar itu tahu cara bersabar. Mau memakan waktu bertahun-tahun, selama tujuannya tercapai, dia akan menunggu waktu yang tepat."


Perempuan yang kini menyandang gelar sebagai Perdana Menteri itu beranjak dari kursi kebesarannya. Berjalan menuju jendela yang langsung menyuguhkan pemandangan taman istana negara.


"Tujuannya sangat jelas sampai aku mau tertawa kencang." Rose melirik Abimanyu yang nampaknya sudah menyadari jelas semua ini. "Berkhianat pada negara sebagai ganti anakmu. Kira-kira apa pilihanmu, Abimanyu?"


Tentu saja kalau dia memiliki berkhianat, dia dan keluarganya akan dieksekusi massal.


"Rose."


"Hm?"


Abimanyu mengeraskan rahang. "Enggak lucu."


".... Tentu saja." Rose tersenyum kecil. "Aku tidak melucu."

__ADS_1


Hanya karena Rose tersenyum, bukan berarti ia melucu.


"Olivia, pastikan untuk menemukan anak itu bahkan di lubang cacing sekalipun. Nama baik perdana menteri kalian dipertaruhkan kalau seeorang anak pun tidak sanggup ditemukan."


Abimanyu menutup wajahnya, berusaha menenangkan diri walaupun rasa takut melingkupi dadanya.


Bila-nya. Nabila-nya tersayang. Di mana dan sedang apa dia? Dia pasti marah pada Abimanyu karena tidak datang menolongnya.


"Papa, kenapa Papa enggak pernah pulang lama? Kenapa cuma boleh dua jam aja sehari? Bila juga mau tidur sama Papa."


"Bila mau ikut Papa ke istana?"


"Bukan gitu, Papa. Bukan Bila yang ikut Papa. Bila maunya Papa sama Bila."


"Nak, Papa kerja jagain banyak orang, juga jagain Rose. Biar negara ini baik-baik aja, biar nanti kalo Bila udah besar, Bila bisa bebas ngapain aja."


"Papa jagain Bila kalo pergi? Biarpun Papa enggak ada di sini?"


"Iya. Papa bakal selalu, selalu, jagain Bila sama Mama. Biar Bila selalu baik-baik aja. Jadi Bila jangan sedih kalo Papa jarang pulang, yah? Semuanya buat Bila sama Mama."


Saat anak itu tersenyum dulu, apakah dia meyakini di hatinya bahwa itu benar? Lalu sekarang, saat dia sendirian di sana, apa dia merasa terkhianati oleh papanya ini?


Nak, tungguin Papa.


*


Selama seminggu belakangan Nabila sudah berusaha untuk mengurangi pukulan yang diberikan padanya, tapi karena tubuh kecilnya belum terbiasa, Nabila masih harus menerima pukulan yang dilakukan atas dasar hukuman dari kesalahan.


Hanya butuh waktu setengah bulan kurang, tangan halus Nabila kini kasar, kering, dan memiliki banyak bekas luka.


Tidak ada obat yang diberikan untuknya. Karena jika Elis melihat luka Nabila, itu cuma membuatnya mendelik kesal atau jijik.


Malam ini Nabila lagi-lagi punya luka baru. Tangannya terkena minyak panas tadi dan terasa sangat perih hingga ia membawa semangkuk kecil air ke kamar, merendam tangannya demi meredam rasa perih.


"Bisu."


Nabila menoleh, menemukan Rahwana diam-diam masuk ke kamarnya, lagi.


"Tangan kamu kenapa?" tanya anak itu.


Cuma dia satu-satunya di tempat ini yang masih mengajak Nabila bicara walau hanya sesekali.


Nabila mengangkat tangannya, menunjukkan luka merah di sana tanpa bicara.


"Kalo ditanya kamu jawabnya pake mulut. Kalo enggak kamu nanti dipanggil Bisu terus."


Nabila menunduk sedih. Ia sendiri tidak tahu kenapa mulutnya kaku.


"Udahlah, terserah kamu." Rahwana meletakkan sesuatu di lantai. "Nih, permen dari kota."

__ADS_1


Nabila langsung mengambilnya, memasukkan itu ke mulutnya. Rasa manisnya membuat Nabila tersenyum.


Rahwana mengamati senyum di wajah manis anak itu.


"Aku enggak ngerti kenapa Mama bilang kamu penyakitan." Rahwana mengerjap. "Mama sama Papa kamu orang jahat yah?"


Nabila mengangguk. Pukulan keras di tubuhnya telah mengacaukan banyak hal dalam otak anak itu. Sekarang Nabila sudah meyakini bahwa ia punya Papa dan Mama yang sangat jahat hingga Nabila sendiri tidak bisa mengingat bagaimana rupa mereka.


Lagipula kalau ia ingat tubuhnya pasti akan dipukuli lagi.


"Kamu pasti penyakitan karena Mama Papa kamu jahat. Kalo kamu udah lama tinggal di sini kamu enggak bakal penyakitan lagi."


Nabila tertegun.


Kepalanya langsung bergerak-gerak cepat menggeleng.


Tidak mau. Ia tidak mau tinggal di sini lama-lama.


"Tapi kalo kamu pergi, Mama bakal pukul kamu. Kalo kemarin besi, mungkin nanti besi panas."


Otak Nabila langsung membayangkan bagaimana rasanya ia dipukuli besi panas. Rasa perih akibat minyak di tangannya mendukung imajinasi itu hingga mendadak Nabila menangis.


Bahkan tangisannya sudah tanpa suara.


Anak itu terlalu takut mengeluarkan suara dan memberi alasan bagi Elis memukulnya lagi.


*


Esok hari, Nabila tidak menyangka bahwa ia akan jatuh sakit. Tubuh anak itu panas membara saat ia justru merasa kedinginan.


Apalagi fakta bahwa Nabila cuma tidur telentang di atas selembar tikar, tanpa bantal apalagi selimut, membuatnya merasa semakin sakit.


Ada ingatan samar di kepalanya. Sebuah bayangan yang ditutupi kabut ketakutan saat ia berada dalam kondisi sama, namun juga berbeda.


Di bayangan itu, Nabila merasakan sebuah tangan besar nan hangat menyentuh keningnya. Sentuhan yang seolah-olah mengangkat semua rasa sakit Nabila.


"Pegang tangan Papa," ucapnya samar-samar. "Papa ambil sakitnya Bila yah? Papa kuat jadi enggak bakal sakit. Biar Papa yang gantiin Bila."


Nabila membuka matanya. Menemukan kenyataan bahwa tidak ada yang memegang tangannya apalagi bersedia mengambil rasa sakitnya.


Yang ia temukan justru tatapan kesal Fina sambil melempar sebuah kain.


"Anak kecil nyusahin. Kerjaanmu tuh banyak, bukannya dikerjain malah ngeles sakit."


Nabila merasakan air matanya panas mengalir sampai ke telinga, namun ia tak bisa bersuara apa-apa.


Setelah berselimut tipis dari kain bekas yang diberikan, Nabila berusaha unruk tidur namun kepalanya yang sakit, demamnya yang tinggi dan gigil tubuhnya membuat itu terasa sulit.


Tidak ada siapa pun yang bisa menyelamatkan Nabila saat ia tersiksa di tempat itu sendiri.

__ADS_1


*


__ADS_2