Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
111. Surat DO


__ADS_3

Juwita kira yah, Adji mengambil waktu diam dulu untuk menenangkan diri atas masalah keluarga mereka. Tapi ternyata Juwita terlalu naif. Begitu Adji pulang, dia bawa hadiah buat Abimanyu.


Surat DO.


"Saya enggak tau kamu mikirin apa di kepala kamu, tapi karena kamu masih tanggungan saya, keputusan saya juga nentuin hidup kamu." Begitu yang Adji katakan pada anak sulungnya.


Ternyata di logika Adji, kalau Abimanyu bersalah, ya dia harus tanggung jawab sekalipun itu berarti putus sekolah.


Banyu terlihat diam saja waktu Adji berkata begitu. Dulu dia sempat menangis di kamar bersama foto mamanya, tapi sekarang Banyu cuma duduk di sebelah Juwita, makan dengan tenang bersama Cetta.


Yang Juwita takutkan sebenarnya Abimanyu sakit hati. Iya, Juwita tahu dia salah. Tapi menurut Juwita, dia bisa diberi kesempatan dan dibimbing buat menyadari caranya mendisiplinkan diri.


Tapi yah Adji benar. Adji bapaknya. Keputusan Adji juga penting.


"Menurut kamu gimana?" tanya Juwita pada Banyu ketika Adji sudah naik, dan Abimanyu kembali ke kamarnya. "Abang kamu enggak cerita apa-apa sama kamu?"


"Gak." Banyu makan es krim tanpa ekspresi terbebani. "Lagian kalo gue pikir-pikir ya Papa mana mungkin nyuruh Abi berenti sekolah buat nganggur. Kalo menurut Papa gitu ya yaudah."


Santuy kali ini anak berpikir. Tapi kalau dipikir begitu juga ya dia benar.


Iya sih. Adji juga pasti bukan ke sekolah Abimanyu buat mengakui perbuatan anaknya dan minta anak itu dikeluarkan seperti anak-anak lain dengan tujuan Abimanyu jadi pengangguran bodoh.


Adji pasti punya pertimbangan.

__ADS_1


Juwita menghela napas, mengusap-usap kepala Banyu hingga anak itu berjengit.


"Apa, sih?!"


"Enggak." Juwita menopang dagu. "Mikir aja kalo seenggaknya kamu lagi waras."


Bisa stres Juwita kalau Abimanyu menggila, Cetta memang tidak waras, Adji juga pusing, terus anak ini malah ikutan berbuat sontoloyo.


Ya setidaknya Juwita ada teman bicara.


"Kamu tau enggak HP-ku ke mana? Plis dong balikin."


Banyu menghela napas kesal. "Gue balikin tapi ada syaratnya."


"Kalo lo ada apa-apa lagi, langsung ngomong. Jangan lo sembunyiin, sok-sokan mau nyelesaiin sendiri tapi nyusahin."


"Heh, Bocah! Congormu, yah." Juwita mendelik, tapi kemudian cuma bisa mengembuskan napas jengkel. "Iya, iya, aku cerita. Buruan balikin sini. Aku mau telfon orang."


Banyu berdecak samar. Beranjak pergi ke kamarnya yang membuktikan ternyata dia pemegang handphone Juwita selama ini.


Juwita kira itu Adji kalau bukan Abimanyu.


Jelas saja Juwita langsung kegirangan memegang handphone-nya lagi. Biarpun itu cuma android biasa yang harganya cuma dua puluh lima persen harga HP-nya Banyu, tapi Juwita beli sendiri. Jadi ia sayang.

__ADS_1


"Lagian lo kenapa enggak minta handphone ke Papa, sih? Ribet amat jadi orang."


Juwita mencibir. "Kamu nanti kalo besar, nikah sama perempuan, kamu capeeeeeeeeek banget kerja terus tau-tau pulang, istrimu di rumah gampang banget minta-minta. Kamu seneng enggak?"


Ya tidak tahu sih Adji biasa saja atau tidak, namun Juwita merasa tidak punya hak di hartanya Adji.


Kewajiban suami kan nafkah, yah. Nafkah itu kan sesuatu yang dibutuhkan buat bertahan hidup. Juwita makan enak, Juwita tidur di kasur empuk, Juwita tidak kehujanan, Juwita tidak ngutang. Semua nafkah Juwita terpenuhi.


Rasanya tidak enak minta-minta.


"Tapi kan perempuan emang tugasnya di rumah. Kalo lo enggak kerja terus lo enggak minta, duit lo dari mana?"


"Ya itu tergantung personal." Juwita sudah fokus pada layar ponselnya. "Enggak salah sih minta sama Papamu. Tapi akunya enggak mau. Enggak suka aku minta-minta. Kecuali kalo makan, aku minta ke Papamu. Itu wajib soalnya."


Banyu menatap Juwita dari samping. Mengamati wajah perempuan itu yang entah kenapa membuatnya tenang.


Rasanya seperti menatap Mama. Apalagi kalau dia berceloteh, biarpun kadang-kadang ngeselin juga.


Diam-diam Banyu buka handphone, mencari-cari handphone yang bisa ia hadiahkan buat Juwita.


Kalau Juwita tidak suka minta-minta, Banyu tidak suka kalau Juwita tidak pakai sesuatu yang bisa dia pakai.


*

__ADS_1


__ADS_2