Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
136. Trio Sontoloyo


__ADS_3

Adji dan keluarganya memang punya masalah serius dengan selera. Bagaimana bisa dia menyiapkan sebuah pesta pernikahan sementara Juwita sebagai tokoh utama tidak rahu sama sekali?


Ibu, Ayah, Yuli, Bima, bahkan Sandy dan Adit itu tahu sedangkan Juwita tidak tahu sama sekali. Walaupun Ayah Ibu mengaku mereka baru tahu setelah Banyu dan Abimanyu habis dari rumah waktu itu.


Tapi tetap saja, selera kejutan mereka super duper aneh.


Tentu saja, Juwita tetap menjalaninya full senyum. Pokoknya karena tidak cerai, Juwita super bahagia.


Jam lima pagi Juwita sudah disuruh berkutat dengan MUA di ruang ganti. Ditemani oleh tiga anak tirinya yang masing-masing masih sibuk main gadget, Juwita berdandan selama nyaris tiga jam.


Yang bikin Juwita kesal, lima menit Abimanyu, Banyu dan Cetta sudah siap.


Lima menit. Sedangkan Juwita tiga jam.


"Sumpah, lo jelek banget." Banyu menatap Juwita prihatin. "Muka lo kayak kue tepung."


"Kakak kayak badut!" Cetta malah ikut-ikutan. "Mulutnya warna merah."


Juwita mau melotot, tapi mukanya terasa sangat berat bahkan buat berekspresi. Pada akhirnya Juwita bersabar, keluar dari ruangan dituntun oleh Yuli dan Mama.


Perasaan Juwita tidak enak luar biasa. Bukan karena apa pun tapi ia gugup dan tidak siap mental.


Mana waktu turun, ternyata memang banyak orang.


"Aku mau pingsan," ucap Juwita diam-diam.


Yuli dan Mama hanya tertawa kecil. Menemani Juwita berjalan di atas karpet menuju ke tempat Adji berdiri, menunggu dengan senyum.


Tepat ketika Juwita akan naik ke pelaminan, lampu tiba-tiba mati, lalu berganti temaran.


Semua orang menoleh pada proyeksi yang tiba-tiba muncul, di mana sosok Cetta terlihat.


"Cetta sayang Kakak."


Anak itu tertawa manis di videonya.

__ADS_1


"Cetta sayang Mama, sayang Papa, Kakak juga. Kata Oma, Mama yang suruh Kakak jagain Cetta, jadi Cetta mau Kakak sama Cetta terus. Sampe Cetta besar, Kakak sama Cetta harus sama-sama."


Cetta melambai-lambai bersama Pika di tangannya.


"Muach, love you, Kakak."


Bukan cuma Juwita, Adji pun terkejut melihat hal itu.


Mereka tidak bilang akan menampilkan sesuatu, apalagi sampai membuat video. Apalagi tadi anak-anak juga terlihat malu mengungkapkan perasaan mereka ke Juwita.


Ternyata penggantinya adalah video?


Sosok Cetta berganti menjadi Banyu di video itu.


"Gue inget waktu pertama kali lo dateng, gue enggak suka."


Banyu melipat tangan dan seolah tengah memandang Juwita dari video rekaman itu.


"Gue udah denger kenapa Papa nikah lagi, gue juga udah tau kalau Mama yang minta. Tapi tetep aja, gue enggak suka. Yang kalau dipikir-pikir, gue enggak tau juga kenapa enggak suka. Pokoknya gue enggak suka sama lo, Juwita."


"Pelan-pelan, gue jadi terbiasa. Gue selalu nyariin lo tiap pagi. Ngeliat lo jailin Cetta, ngeliat lo teriak-teriak takut kodok, ngeliat lo masak sambil nyindir-nyindir. Gue juga suka banget kalau malem, kita duduk berdua di kolam renang, terus gue dengerin lo curhat soal masalah lo. Gue suka denger lo ngomong. Gue suka ngeliat lo ngoceh-ngoceh. Mirip sama Mama."


Juwita terpaku.


"Waktu lo bilang lo bukan pengganti Mama, gue setuju. Lo orang baru, enggak perlu gantiin siapa-siapa. Lo punya tempat sendiri di keluarga kita. Tempat di sebelahnya Mama, yang kita semua setuju itu buat lo."


Banyu tersenyum.


"Gue sayang lo, Juwita. Lain kali kalo ngambek yang pinter dikit."


Napas Juwita tersekat. Matanya memanas diiringi rasa hangat di hatinya.


Mulut Juwita bahkan terbuka dan terkatup. Bahkan jika ia tahu Banyu sudah menyayanginya, Juwita merasakan sesuatu yang luar biasa, sebab ia mendengarnya secara langsung.


Tapi itu belum selesai. Kini Juwita terfokus melihat Banyu berganti menjadi Abimanyu.

__ADS_1


Berbeda dari kedua sebelumnya yang tersenyum, Abimanyu terlihat datar.


Dia sempat kaku, tapi memaksakan diri berkata, "Gue sering bikin lo nangis."


Juwita sudah nyaris menangis. Cuma sedang berusaha tidak menangis karena make-upnya nanti luntur.


"Gue sering ngomong enggak enak cuma buat manas-manasin lo. Walaupun gue tau duduk permasalahan gimana, gue malah ngerasa tetep harus nyakitin lo dulu. Harus bikin lo sakit dulu, cuma buat bikin gue puas ngelampiasin marah gue."


"...."


"Tapi lo enggak pernah marah. Lo cuma sok asik, besoknya lo lupain, kayak enggak ada apa-apa. Lo selalu kayak gitu. Kayak waktu kita lari pagi bareng, atau kayak kemarin lo enggak nanyain apa-apa padahal lo berhak. Lo selalu maafin gue."


"...."


"Gue tau pasti gue yang paling nyusahin. Gue yang paling sering bikin masalah, gue yang paling sering bikin lo malu. Lo bilang lo ngandelin gue, tapi nyatanya yang selalu bikin masalah gue, yang selalu nyelesain pasti elo."


Abimanyu menghela napas di video itu.


"Gue mau bilang, gue minta maaf. Tapi lo tau, gue udah sering minta maaf terus ujung-ujungnya gue ulang lagi. Gue udah sering bilang bakal jagain lo, ujung-ujungnya gue nyusahin lagi. Lo yang jagain gue."


"...."


"Kalo harus bilang sesuatu, gue pengen bilang: Juwita, senyusahin apa pun gue, bisa enggak lo tetep sama kita? Karena lo sama Mama, cuma kalian berdua yang mau sabar gue repotin terus."


Abimanyu tersenyum pada akhirnya.


"Gue minta maaf, lagi."


Video berakhir dan pencahayaan seluruh ruangan menyala.


Juwita menyeret gaunnya pergi ke kedua anak sontoloyo itu, memeluk mereka erat-erat.


Di depan seluruh tamu undangan, Banyu dan Abimanyu balas memeluknya. Memamerkan hubungan yang selama ini sering dianggap tidak harmonis oleh orang lain.


*

__ADS_1


__ADS_2