
"Kamu belum bawa baju, kan?" tanya Adji mengikuti Juwita masuk.
"Iya." Juwita cuma bawa beberapa baju di tas, karena berpikir masih harus bolak-balik juga ke rumah dan rumah sakit.
"Ini lemari istri saya." Adji menggeser pintu lemarinya ke samping, menampilkan sebuah ruangan kecil berisi deretan baju dan cermin besar. "Istri saya bilang baju-bajunya boleh kamu pake. Lagian enggak ada anak perempuan di sini. Sayang kalau disimpan."
Istri orang ini pasti wanita yang legowo luar biasa. Maksud Juwita, apa dia tidak berpikir 'tolong simpan dan ingat aku'?
Dia malah seperti menyuruh Juwita mengambil tempatnya.
"Enggak pa-pa? Mungkin lebih baik disimpan buat kenang-kenangan?"
Adji tersenyum samar. "Saya juga bilang begitu, tapi beliau bilang yang pergi tetep pergi mau ada kenangan juga. Kamu pake bajunya pun enggak bikin istri saya otomatis dibuang, kan? Justru bagus, katanya."
Begitu, yah? Juwita tidak mengira perempuan yang waktu itu ia temui punya pribadi luar biasa.
Sekali lagi harus dipertanyakan kenapa tiga anaknya jadi setan padahal ibu ayah mereka begini.
"Habis ganti baju, ayo turun makan. Tadi saya bilang ke anak-anak buat tunda sarapan biar bisa makan bareng."
Makan bersama tiga anak setan, kah? Hah, Juwita sudah lelah duluan.
Tapi ia segera ganti baju, memakai salah satu dress santai di lemari Melisa, istrinya Adji, lalu turun.
__ADS_1
Sengaja Juwita pakai, untuk melihat reaksi anak-anaknya Adji. Mungkin Adji dan Melisa baik-baik saja. Bagaimana dengan anak mereka?
"Baju Mama." Sesuai dugaan, mereka mengenalinya.
Juwita pura-pura tidak sadar, membantu asisten rumah menyiapkan makanan di meja.
"Kakak." Cetta menyengir lucu. "Kakak pake baju Mama, yah?"
Jangan pernah lagi percaya pada cengiran lucu bocah setan ini. "Iya, Kakak pinjem, yah?" balas Juwita berusaha santai.
"Tapi, Kakak."
"Hm?"
"Kalo Mama yang pake, ada boingnya."
Dua bocah setan itu mengajari setan kecil mereka sesuatu yang haram!
Juwita tersenyum dengan sudut bibir kaku, berkedut menahan kesal. Bocah yang tadi ia pecundangi, plus bocah yang mempecudanginya, mereka kompak menutup mulut tertawa.
Kalau Cetta yang bicara, sebagai bocah kecil, jelas sulit protes.
Adji langsung menutup wajahnya dengan kesan 'aku menyerah'.
__ADS_1
"Cetta." Anak kedua, Banyu, memanggil adiknya tiba-tiba. "Enggak boleh gitu."
Juwita melotot karena yakin dia pasti akan menambahkan.
"Ngomentarin badan perempuan itu pelecehan seksual namanya. Semua orang beda-beda. Ada yang besar, ada yang rata. Enggak boleh diejek."
Cetta mengerjap polos. Tiba-tiba cemberut. "Mau yang besar."
"Kalian—"
Ucapan Adji terpotong oleh tawa keras Abimanyu. Anak SMA yang kata Adji baru kelas satu itu kini memegangi perutnya, tertawa terpingkal-pingkal.
Juwita mengepal tangan kuat-kuat. Nampaknya kalau tidak dipukul sekarang, ketiga bocah ini akan terus mengejeknya rata.
"Abimanyu, Banyu, Cetta." Juwita memanggil ketiganya penuh ketegasan.
Mungkin karena terkejut, mereka langsung menoleh. Merinding melihat Juwita tiba-tiba tersenyum manis.
"Bukan enggak ada boingnya, Sayang," ucap Juwita lembut tapi dingin. "Boingnya buat Papa, bukan kalian. Maaf, yah."
Abimanyu dan Banyu tercengang. Cetta menatap papanya, yang tahu-tahu sudah diguncang oleh tawa.
Detik ketika tawa itu mengeras, Juwita sadar kalau barusan ia bukan memukul mereka, tapi memukul diri sendiri.
__ADS_1
Aakkkkhhhh! Kenapa malah mengatakan itu?!
*