
"Mas habisin uang buat orang tua kamu, sejak di rumah sakit—tapi gantinya kamu ngurusin semua hal di rumah ini."
Adji meremas lembut tangan Juwita.
"Kamu ngurusin hal-hal yang enggak bisa aku liat karena sibuk. Aku cari uang, Juwita, di luar. Aku ngelakuin banyak hal biar makin banyak uang masuk ke kantong pribadi aku tapi itu baru ada gunanya begitu sampe ke rumah. Masuk ke kamu."
Juwita menggeleng. "Makasih, Mas, tapi itu enggak kedengeran kayak fakta."
Dia sepertinya terlalu lelah sampai dia bahkan enggan melihat semua usahanya sendiri. Adji mengangguk, tidak memaksakan apa pun.
Kembali Adji meraih mangkuk mi tadi, mengaduk-aduknya agar tercampur dengan lelehan keju.
"Mas jujur sama kamu, Mas nikah sama kamu karena Melisa."
Adji menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri karena ia juga lapar, sekaligus memancing Juwita agar ikut lapar.
"Terus terang, waktu itu Mas enggak kepikiran mau nikah. Tapi karena Melisa nyuruh Mas, wasiat dia, mau enggak mau. Mungkin cuma buat ngelampiasin sedih Mas waktu itu."
Ketika Adji membawa makanan ke mulut Juwita, kali ini dia membuka mulut, menerimanya.
"Mas juga mikir kalau kamu masih anak-anak, even itu dua puluhan. Beda umur kamu sama Abimanyu cuma empat tahunan. Apa bedanya kamu sama Abimanyu yang egois?"
Adji mengusap noda kecil di sudut bibir Juwita yang mulutnya bergerak-gerak mengunyah.
"Mas yang maksa kamu masuk ke keluarga ini. Dengan dalih bakal nyelamatin Ibu kamu, Mas maksa anak remaja jadi orang tua dari anak remaja yang labil, rada gila."
"Dan aku enggak becus," gumam Juwita. "Ujung-ujungnya enggak ada yang bener."
__ADS_1
"Mungkin. Mungkin aja." Adji mengusap-usap pipi wanita itu. "Tapi, Juwita, enam tahun—menuju tujuh tahun, kamu masih berusaha nanggung tanggung jawab kamu sebagai istri Mas."
Adji mengecup keningnya lembut.
"Kamu udah usaha, Sayang. Udah berulang kali. Bertahun-tahun. So kalau itu gagal, itu bukan salah kamu. Kamu enggak bisa nolak apa yang udah ditakdirin buat kita."
"Maksud Mas kita berdua ditakdirin buat punya masalah kayak gini?"
"Ya. Mas ditakdirin punya anak modelan kayak Abimanyu, Banyu, Cetta. Plus tiga bidadari cantik." Adji tersenyum. "Mas juga ditakdirin buat ngabisin hidup Mas bertahun-tahun sama Melisa, ditakdirin buat ngelepasin Melisa, dan sekarang ditakdirin buat punya istri yang lebih muda dan keras kepala."
Juwita memukul bahu Adji sebagai respons.
"Mas menderita mikirin Abimanyu," ujar Adji terus terang. "Dia ... yah, tiap kali Mas mikirin dia kayak ada racun di badan Mas yang pelan-pelan makin kuat. Mas juga mikir kalau Mas dikutuk karena punya anak kayak dia."
Juwita langsung mengangkup wajah Adji, mengusap-usap pipinya sebagaimana dia tadi melakukan itu.
"Aku tau. Aku tau, Mas. Makanya aku—"
"Balik."
"Apa?"
"Balik," ulang Adji. "Mas sayang sama Abimanyu tapi bukan berarti Mas enggak pernah ngerasa dikutuk punya anak kayak dia."
Adji menarik napas, mengebuskannya perlahan. Lengannya kini melingkari punggung Juwita, menekan kening mereka satu sama lain.
"Itu artinya orang tua. Kesialan terbesar kita itu punya anak yang bikin ngerasa sial tapi pada akhirnya kita sayang sama dia. Tapi bukan berarti karena sayang itu ngilangin fakta kita ngerasa sial. Kamu ngerti?"
__ADS_1
"...."
"Orang tua juga punya perasaan sendiri, Juwita. Punya hati sendiri. Punya kemauan sendiri. Punya keegoisan sendiri. Bukan berarti karena kebanyakan kamu sabar sama anak-anak, kamu jadi nganggep diri kamu enggak butuh perasaan buat diri sendiri."
Adji mengusap-usap punggung Juwita.
"Relain Abimanyu. Kamu enggak nyuri apa-apa cuma karena dia pergi. Melisa juga enggak punya hak marah sama keputusan kamu karena kamu juga orang tua Abimanyu. Jangan ngorbanin perasaan kamu sendiri buat hal yang enggak perlu."
"Tapi—"
"Abimanyu anak aku, bukan kamu." Adji menepuk-nepuk punggungnya. "Kamu juga enggak boleh protes sama keputusan aku soal dia. Oke?"
"...." Walau sempat hening lama, Adji merasakan Juwita pelan-pelan mengangguk.
"Aku enggak selingkuh," gumam Juwita takut. "Aku enggak selingkuh sama sekali. Mas, aku enggak—"
"Juwita, Mas percaya sama kamu. Selalu." Adji melepaskan pelukan itu agar bisa menatap mata Juwita. "Kecuali Mas liat kamu secara langsung selingkuh, enggak ada yang bakal ngancurin kepercayaan Mas. Jangan dengerin orang lain soal Mas, Mas juga enggak dengerin orang lain soal kamu."
Juwita mengangguk.
"Mas bakal telfon Ibu nanti." Adji kembali memeluk istrinya yang nampak sudah lebih baik itu. "Sementara biarin anak-anak sama Ibu kamu, hm? Tenangin diri dulu."
"Maaf, Mas."
"Sshh, nanti. Itu urusan nanti."
*
__ADS_1