Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
121. Setelah Mama Harus Juwita


__ADS_3

"You know, Sweety, I can go back and take care of your kids," ucap Mama lewat sambungan telepon. "So you can go and fix anything that you need to fix with her."


Dia yang Mama maksud jelas saja Juwita.


Tawaran itu mungkin tidak buruk. Kalau Juwita pergi, Adji bisa saja menyusulnya ke rumah, tinggal dengan mereka beberapa saat untuk membicarakan masalah dengan tenang sekaligus sama-sama saling memahami.


Mungkin jika Adji yang pindah sebentar ke rumah Juwita, ia bisa lebih memahami sudut pandang istrinya lewat keseharian yang dia jalani sebagai anak perempuan tunggal.


Tapi Adji punya pendapatnya sendiri.


Adji ingin melakukan dengan caranya sendiri.


"No need to, Mom. Just enjoy your trip."


Mama menghela napas di seberang sana. "Semua bisa terjadi dan yah, enggak ada yang tau masa depan. But I know one thing. Kamu sama Juwita, Mama yakin bukan ketemu buat pisah secepet ini. Percaya sama Mama."


Adji tidak terlalu putus asa karena memang meyakini itu. Sejak awal Adji meyakini itu dan sampai sekarang belum berubah sedikitpun.


Terutama sejak Juwita berhasil membuat dua anaknya yang paling bermasalah menjadi luar biasa sayang padanya. Sejak saat itu justru Adji yakin bahwa hidupnya akan dihabiskan bersama Juwita.


Setelah basa-basi sedikit dengan ibunya, panggilan terputus. Adji memasang kancing kemejanya, berbenah sebelum turun ke bawah.


Rumah mendadak sepi lagi, seperti ketika Melisa baru pergi. Dapur kosong, makanan yang bisa dikatakan sarapan tidak ada, dan semua orang melakukan apa yang mereka mau.


Kemarin Adji memang membawa Abimanyu pergi, tapi Banyu pindah ke kamar lain bersama Cetta, dan sedikitpun tidak bertegur sapa dengan Abimanyu.


Nampaknya Banyu marah pada Abimanyu karena secara tidak langsung dialah penyebab Juwita pergi. Adji juga bukannya tidak tahu bahwa Banyu yang paling banyak menangis karena kepergian Juwita itu.


Warna rumah mendadak luntur lagi.

__ADS_1


Suara Cetta tak terdengar, suara siapa pun tak mewarnai udara. Semuanya kosong.


"Cetta." Adji merasa harus melihat anak bungsunya itu. "Cetta, Nak. Sini dulu."


Tidak ada suara.


"Cetta, Papa manggil. Sini dulu."


Tetap tidak ada suara.


Adji beranjak dari kursi, membawa sereal yang ia seduh dengan susu dingin buat anaknya. Khawatir jika dia lapar, meskipun dia akan tinggal di rumah bersama Abimanyu dan Abimanyu sudah terbiasa mengurus makanan adiknya.


Ternyata Cetta sedang di ruang peliharaan. Anak itu duduk melihat akuarium kodoknya, yang Adji masih ingat jelas bikin Juwita berteriak-teriak histeris.


"Cetta, sini makan dulu."


Anak itu ternyata memang sengaja tidak mau jawab.


"Cetta."


"Enggak mau." Cetta bergeser menjauh bahkan sebelum Adji berjongkok di dekatnya. "Papa pergi aja."


"Kamu kenapa?" tanya Adji lembut.


Dia tahu-tahu menangis. Menangis nyaris tanpa suara tapi terlihat jelas di wajahnya. "Mama pergi, Kakak juga pergi. Papa enggak jagain Mama sama Kakak."


Jantung Adji rasanya tertusuk. Padahal bukan Adji sengaja membiarkan semua orang pergi.


"Kakak cuma pulang ke rumahnya sebentar. Nanti dia pulang lagi ke sini."

__ADS_1


"Kalo sebentar kenapa bawa koper?!" teriak Cetta, menolak dibohongi.


Meski suara Cetta tinggi, Adji tetap mengontrol suaranya agar tenang. "Itu hadiah buat Ibu-nya Juwita."


"Papa bohong. Papa tukang bohong." Cetta menangis semakin deras. "Abang Banyu enggak nangis kalo Kakak nanti pulang. Kakak pergi soalnya Abang Abi jahat."


"Enggak kayak gitu."


"Cetta enggak mau sama Papa." Anak itu beranjak, lari meninggalkan Adji.


Sereal itu ditinggalkan, bahkan tidak dilirik meski mungkin dia lapar.


Adji pada akhirnya menghela napas, bangkit dan pergi lagi ke ruang makan yang masih kosong.


Diletakkan sereal itu di dalam kulkas, lalu Adji naik ke kamar Banyu.


"Banyu, nanti suruh adekmu makan. Papa tinggalin sereal di kulkas."


"Hm."


Kalau ada masalah dalam keluarga, kayaknya laki-laki bakal selalu jadi sasaran penyalahan. Abimanyu tak mau bicara, Cetta kabur darinya dan Banyu tidak mau berbalik.


Biar begitu Adji tetap meninggalkan rumah buat bekerja, minta pada agensi terbaik yang ia tahu untuk mengirimkan asisten rumah tangga sementara ke rumah, mengurusi anak-anaknya yang pasti butuh dibantu berbagai hal.


Tapi waktu Adji pulang, Banyu repot-repot menunggunya cuma untuk mengatakan satu hal:


"Papa enggak usah repot-repot nyewa orang. Yang ngurus rumah habis Mama itu Juwita."


Dia tak mau tugas Juwita diambil alih oleh siapa pun, yang memberi kesan Juwita sudah tidak ada.

__ADS_1


*


__ADS_2