Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
143. Kamu Sinting, Yah?


__ADS_3

Abimanyu menemani Juwita sampai wanita itu tidur, baru ia keluar meninggalkannya. Tak lama Adji pun naik, membersihkan diri, tak lupa turun mengambilkan buah-buahan untuk Juwita makan meski mungkin nanti dia tolak juga.


Adji pun naik ke kasur, mendekatkan dirinya pada Juwita. Diusap-usap kepala wanita itu, mencium pipinya berulang kali.


Dia paling senang kalau diperlakukan begitu oleh Adji.


Bahkan Juwita langsung berbalik, membaringkan wajahnya di dada Adji sambil minta punggungnya ditepuk-tepuk.


Adji menuruti kemauan Juwita sambil bermain handphone, masih belum mengantuk, juga sekalian membangunkan Juwita nanti agar dia makan sedikit sebelum lanjut tidur.


Ternyata, Juwita malah bangun duluan.


"Mas."


"Hm?"


"Mau sate."


Adji menengok jam seketika. "Ini jam dua belas malem loh, Sayang."


"Mau sekarang."


"Enggak bisa besok?"


"Sekarang."


Adji menghela napas. Mana bisa menolak kalau Juwita sudah bersuara merengek.


Tapi waktu Adji mau beranjak, Juwita ternyata ikut bangun.


"Mau ke mana?"


"Ikut." Juwita buru-buru mengambil kardigan, lalu datang memeluk lengan Adji. "Ayok."


Adji cuma tersenyum kecil. Mengusap-usap punggung Juwita sambil mengajaknya berjalan.


Anak-anak jelas sudah pada tidur, jadi memang cuma mereka berdua yang berjalan.


Suasana sepi tengah malam itu tidak terasa menakutkan bagi Juwita. Malah, Juwita menikmatinya. Berjalan perlahan, memeluk lengan Adji dan bersandar padanya.


"Mas."


"Iya?"

__ADS_1


"Mas pernah kepikiran enggak sih kenapa aku sama Mas bisa ketemu?"


"Gak."


"Kok gitu?!"


"Soalnya saya sama kamu udah ketemu, udah bahagia bareng, udah nikmatin waktu bareng. Ngapain dipikirin lagi?"


"Jawaban kamu tuh enggak ada perasaan!"


"Perasaan saya emang cuma buat kamu, buat anak-anak sama buat diri saya sendiri. Ngapain pake perasaan di jawaban?"


"Mas, akh! Kamu, mah!"


Adji terkekeh kecil. Malah sangat menikmati ekspresi Juwita yang sebal bukan main padanya.


"Yaudah, saya pikirin dulu jawaban yang pake perasaan."


Juwita melepaskan pelukannya dari Adji, melipat tangan dan cemberut. Ia berjalan cepat-cepat meninggalkan Adji biar dia tahu Juwita sedang marah.


Tapi selalu dan selalu, Adji itu punya cara tersendiri membujuk Juwita tanpa harus berkata 'saya salah saya minta maaf'.


Yang Adji lakukan malah menarik tangan Juwita tiba-tiba, membuatnya nyaris terpeleset. Di saat itu, dia sok-sokan memeluk punggung Juwita, tapi juga sengaja membuatnya agar terjatuh.


"Kamu ih!"


Adji tertawa. Membantu Juwita berdiri, sebelum tiba-tiba memeluknya.


"Saya bersyukur punya kamu." Adji bergumam dengan bibir mencium ubun-ubun Juwita. "Saya luar biasa bersyukur punya kamu di hidup saya. Orang selalu bilang kalau kamu cuma numpang apa yang saya punya sekarang. Tapi buat saya, justru kamu gantiin semua bebannya Melisa tanpa pernah nyusahin saya."


Juwita tersenyum sendu. "Aku nyusahin."


"Enggak pernah."


"Biarpun sering nangis?"


"Saya ini orang berpendidikan biarpun enggak sekolah sampe sarjana. Kalo saya tau pertahanin puluhan perusahaan, ribuan karyawan, masa saya enggak bisa ngerti itu bukan mau kamu?"


Adji mundur selangkah, mengusap-usap perut Juwita sayang.


"Kamu juga pasti berat bawa-bawa anak saya. Apalagi nanti kalo dia udah lebih besar di dalem. Saya enggak bisa bantu bawa, masa saya juga enggak bisa bantu ngerti?"


Bibir Juwita langsung cemberut. Tergoda melupakan seluruh kekesalannya pada Adji.

__ADS_1


Bapak-bapak tiga anak ini yah, selalu saja punya cara buat bikin orang meleleh. Padahal kayaknya dia tidak niat, tapi kalau sudah ngomong panjang lebar, Juwita sampai mau nangis.


"Sekarang ayo makan. Pokoknya kamu mesti habisin sate lima porsi."


"Itu sih keterlaluan."


"Ohya? Mau tanding?"


Juwita mencubit pinggangnya dan Adji cuma tertawa kecil.


*


Diluar dugaan, Juwita ternyata sanggup juga makan sate lima porsi. Perutnya tidak sedang susah diajak kompromi, jadi makanan yang masuk tidak ada tanda-tanda mau keluar lagi.


Setelah beberapa waktu ia disiksa oleh hormon yang bikin muntah-muntah, akhirnya Juwita bisa makan. Jadi ya sekalian saja.


Habis makan, Adji mengajak Juwita jalan-jalan sebentar. Memang kalau dipikir lagi, mereka ini jarang pacaran kecuali di kamar tidur.


Jarang keluar berdua untuk romantis-romantisan, karena itu ketika ada kesempatan, Adji memanfaatkan.


Tidak banyak sih yang bisa dilihat tengah malam begini. Mereka cuma kesana-kemari bergandengan, lalu mampir ke minimarket untuk beli camilan.


Waktu keluar dari minimarket, Juwita melihat beberapa anak jalanan tidur di pinggiran, membuat perasaan Juwita mendadak sedih.


"Aku kalo ngeliat anak-anak susah bawaannya selalu pengen nangis."


Juwita memeluk lengan Adji dan menyembunyikan wajahnya.


"Aku tuh sering mikir, aku udah bantu apa buat mereka? Aku tuh selalu pengen biar di sekitar aku enggak ada lagi anak kecil yang waktunya habis nyari uang karena susah."


Mendengar perkataan Juwita, Adji jadi ingat tentang hadiah yang mau ia berikan.


Adji langsung mengajak istrinya pulang ke rumah. Karena memang mereka sama-sama tidak mengantuk, Adji bisa langsung mengajak Juwita bicara soal hadiah itu.


"Kamu masih inget soal janji saya kemarin? Kalau kamu hamil, saya kasih kamu hadiah."


Juwita mengerjap. "Iya."


"Kalo gitu saya kasih sekarang."


Adji membuka koper uang di tangannya yang saat itu terbuka, Juwita melotot.


"Ini buat kamu."

__ADS_1


"KAMU SINTING, YAH?!" teriak Juwita histeris.


__ADS_2