Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
75. Kemarahan Banyu


__ADS_3

"Baru juga nikah," celetuk Oma Sarah yang diam-diam Banyu dengar.


Juwita menyuruh mereka pulang untuk mandi, ganti baju dan pergi ke sekolah daripada duduk diam di rumah sakit.


Tentu saja awalnya mereka tidak mau, tapi Juwita berbuat curang dengan membawa-bawa kondisinya.


Katanya jika Banyu dan Abimanyu tidak naik kelas, dia mau menyusul Mama saja.


Kan kampret.


Di rumah kebetulan Oma dan Opa berkumpul dengan Ayah dan Ibunya Juwita. Karena kedatangan Oma dari Amerika, Oma Putri beserta keluarga datang.


Katanya sih menanyakan keadaan Juwita, tapi ujung-ujungnya malah bicara tidak jelas. Mengomentari sesuatu yang tidak seharusnya.


"Makanya kubilang sama Adji jangan nikah sama anak kecil. Ini bukannya bantu ngurus anak, malah bolak-balik rumah sakit juga. Kan sama aja sama Melisa." Begitu kata Oma Putri.


Bukan Banyu namanya kalau tidak gampang emosi. Dan bukan Banyu namanya kalau tidak tahu bicara pedas. Jadi Banyu datang, mendekati mereka.


"Terus emang Oma bantu apa?"


Mereka menoleh kaget, tapi Banyu tidak peduli. Rasanya terlalu emosi buat bersabar atas keluarganya.


"Emang Oma bantu apa sih buat kita selama ini? Iya, Oma yang ngurusin Papa waktu kecil. Itu doang. Itu doang. CUMA ITU DOANG. Terus Oma ngomong ngoceh seakan-akan hidup Papa tuh urusan Oma semua. Mama Oma hujat, sekarang Juwita Oma nyinyir. Mau Oma Putri tuh apa, sih?"


"Banyu!" Oma menggeleng, melarang ia bicara.


Walau Banyu tetap tidak peduli.


"Oma kalau enggak puas sama hidup Papa karena dulu Oma ngurusin, Oma minta uangnya aja. Berapa sih dulu Oma keluar buat Papa? Sepuluh miliar? Dua belas miliar? Dua puluh miliar? Tiga bulan uang Papa aja udah kelebihan. Jadi enggak usah banyak omong!"

__ADS_1


Oma Putri tercengang. Lalu menggeleng tak habis pikir. "Kamu kira kamu lagi ngomong sama siapa?"


"Sama orang enggak tau diri!"


Banyu menepis tangan Opa yang mau menghentikannya.


"Denger yah, Oma, jasa Oma itu bahkan enggak bikin Papa kaya! Papa punya duit habis Papa nikah sama Mama, habis Papa berusaha sama Mama! Oma tuh cuma ngurusin Papa, ngomelin Papa, ngomentarin Papa, yang semuanya jangankan berguna, buat dipikirin aja enggak penting!"


"Banyu, udah!"


"Mending Oma pulang! Sana pulang! Enggak ada gunanya Oma di sini! Enggak ada yang butuh!"


Banyu memberontak, berlalu pergi bersama umpatan kasar.


"Gobllok!"


Demi Tuhan, semua keluarganya yang cuma tahu berkomentar itu sangat mengganggu.


Juwita begini salah, Juwita begitu salah. Mama begini salah, Mama begitu salah.


Bukannya mendoakan Juwita bisa segera pulang, bisa segera sembuh, Oma malah berkomentar terang-terangan di depan Ayah dan Ibu-nya Juwita.


Dia pikir dunia ini milik dia?


*


"Kenapa?" Juwita bertanya bingung, karena selepas mengangkat panggilan, ekspresi Adji jadi kusut macam cucian tidak disetrika. "Rumah kenapa? Ibu kenapa-napa?"


Adji menggeleng. "Banyu ... Banyu neriakin Oma Putri. Katanya dikatain gobllok."

__ADS_1


"Hah?" Buset itu anak, kerasukan apa pula dia?


"Ya kamu tau keluarga saya gimana. Oma Putri bilang kamu nyusahin, terus Banyu denger, dia marah sampe nyuruh Oma Putri pulang."


"Udah sinting." Juwita menggeleng miris. "Terus?"


"Ya gimana. Oma Putri marah, langsung pulang." Adji mengulurkan tangan, mengusap-usap tangan Juwita di atas perutnya. "Menurut kamu gimana?"


"Susah sih," jawab Juwita lelah. "Mulut orang-orang di keluarga kamu emang bikin emosi. Aku juga belum tentu sabar. Tapi, keterlaluan juga sampe neriakin orang tua. Nanti tegur."


Adji malah menggeleng. "Kamu aja."


"Lah?"


"Buruan sembuh. Anak saya makin liar kalo enggak dipukul sama kamu."


Juwita tertawa samar, meski langsung meringis sakit di kepalanya.


"Kenapa?" Adji langsung panik.


"Enggak pa-pa. Kamu nih overreacting tau enggak." Juwita tersenyum. "Aku mau minta sesuatu tapi kami enggak boleh nolak, Mas."


"Asal kamu enggak minta cerai, minta libur jadi istri atau minta planet, saya kasih."


"Kalo pesawat roket?"


"Kamu jadi astronot dulu kalo mau minta itu."


*

__ADS_1


__ADS_2