Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
part 6


__ADS_3

Elis melipat tangan memandangi Zayn yang turun dari atas sana. "Maksud kamu apa?" tanyanya tanpa basa-basi.


Zayn tertawa. "Tante, jangan salah paham. Kalo mau manipulasi orang, kita harus tau mana tempat yang perlu dielus mana tempat yang harus dipukul."


"Jadi maksudnya kamu mau baik sama anak itu?"


"Yap. Saya si Om Baik Hati, Sang Penyelamat Dari Nenek Sihir Jahat."


"Zayn!"


"Itu serius." Zayn duduk santai di sofa hingga mau tak mau Elis ikut duduk. "Tante udah jadi nenek sihir di mata anaknya Abimanyu. Makanya kalo saya jahat sama dia udah enggak ada gunanya juga. Jadi mending saya baikin dia aja."


"Untungnya apa coba?"


Zayn tersenyum lebar. "Mutusin hubungan emosional sama keluarganya."


"...."


"Tante, dia itu diculik, dibawa tiba-tiba, disiksa tiba-tiba. Tiap malem dia pasti nangis-nangis berharap keluarganya dateng nyelametin dia. Kalo misal penyelamat itu ternyata ada di sini, saya, Om Baik Hati Walaupun Orang Asing, kira-kira dia masih bakal mikirin keluarganya?"


"...."


"Kemungkinannya kecil. Manusia, disituasi mendesak kayak gitu, dia enggak peduli mau keluarga mau orang asing, asal dia aman dia bakal lari ke tempat yang dia rasa bikin dia aman."


Zayn meraih secangkir teh tarik di meja, menenggaknya sampai habis.


"Olivia udah mulai gerak, Tante."


"Mereka udah tau anaknya Abimanyu di sini?"


"Kalo secepat itu sih butuh bantuan Tuhan. Tapi enggak. Mereka belum tau." Zayn mengerling. "Buat sekarang."


Elis mengerutkan kening, mulai berpikir keras. "Kalo gitu lebih baik kita pindah-pindah."


"Enggak. Tante tetep di sini aja."


"Kalo Abimanyu tau, dia bakal langsung dateng nyelametin anaknya kan?"


"Udah jelas. Tapi dia enggak bakal tau secepat itu."


Zayn menjatuhkan kepalanya ke belakang, menatap langit-langit rumah bernuansa mughal ini.


"Timnya Olivia dibilang saingan sama Narendra soal kemampuan intel mereka. Apalagi ditambah Abimanyu. Dibikin parah sama Rose. Si Cacat kayaknya malah udah tau kalo saya yang bawa anaknya Abimanyu."


Perempuan itu terlalu cerdas walaupun cacat dan sering sekarat. Otaknya pasti langsung menyimpulkan dan mungkin malah sudah tahu alasan dibalik tindakan ini.

__ADS_1


Tapi ... kepintaran tidak menjamin segalanya. Kepintaran itu tidak mutlak.


"Tante, ayo biarin Abimanyu tau soal anaknya."


"Apa?"


"Nanti, kalau dia udah selesai nyari ke semua lubang cacing di dunia sampe akhirnya dia tau Nabila di sini." Zayn terkekeh. "Tante enggak mau liat ekspresinya? Waktu anak yang dia cari-cari ke seluruh dunia akhirnya ketemu tapi anak itu udah enggak mau sama mereka karena ngira dia udah dibuang."


Elis langsung memicing. Tentu saja dia sangat ingin melihat. Ia sangat ingin berteriak mengatai Abimanyu dan Rara tentang dosa mereka.


"Kalo Tante mau liat, jangan terlalu gerah liat saya baik-baikin anaknya Abimanyu. Kalo bisa sih dia sampe nganggep saya bapaknya. Terus Rahwana, gimana kalo bikin Nabila suka sama dia?"


"Saya enggak sudi!"


"Cuma sepihak, Tante. Soalnya perempuan itu paling lemah sama laki-laki."


Dan begitu pula sebaliknya. Kalau bisa sih Nabila menggantungkan seluruh hidupnya pada Rahwana, karena dengan begitu dia akan semakin lupa terhadap orang tuanya, dan perasaan bahwa rumahnya adalah Rahwana akan semakin terbentuk pelan-pelan.


Dan sisanya adalah membiarkan Rahwana mengendalikan gadis kecil itu. Membuatnya mau melakukan apa saja perintah Rahwana.


*******


"Princess." Banyu mendekati Rose di meja tempat perempuan itu bekerja. Biasa disebut Meja Strategi.


Banyu meletakkan segelas air kelapa muda di dekatnya. Di tengah meja, layar besar tengah menampilkan papan catur digital yang Rose gerakkan hanya lewat isyarat tangan.


"Pulang sebentar. Katanya Rara demam tinggi."


"Begitu. Katakan padanya pulang dua jam lagi."


Banyu tidak menjawab karena tidak perlu. Pria itu justru menarik kursi lain, duduk memandangi permainan catur Rose yang sepertinya tengah melawan Damar di belahan pulau sana.


"Princess—"


"Ada dua kemungkinan." Rose menjawab sebelum ditanya. "Rencana paling awalnya, kemungkinan adalah menyiksa anak itu lalu membiarkan Abimanyu tahu dan meminta tebusan. Tebusannya tentu saja aku."


"Tapi kurasa orang ini punya kedekatan khusus dengan Sakura sebelum dia mati. Jadi bisa juga tebusan yang dia minta adalah kepala Abimanyu."


Rose tersenyum kecil. "Dia mungkin akan menyiksa anak itu sampai Abimanyu bersujud di tanah menyerahkan kepalanya sendiri."


Kemungkinan itu cukup besar. Rose tahu karena dulu ia pernah melihat pria itu tersenyum.


Senyum kecil yang dia berikan saat perang dulu membuat Rose tahu seberapa besar kegilaan yang bisa dia perbuat.


"Lalu kemungkinan kedua, dia akan mengulur-ulur waktu dan menahan anak itu bertahun-tahun lamanya. Sampai dia dewasa, jika memang bisa. Lalu dia akan memunculkannya dalam wujud yang berbeda."

__ADS_1


Rose menopang dagu. Tangannya memberi isyarat agar bidak catur bergerak, sementara bibirnya terus berbicara.


"Besar kemungkinan dia akan membuat anak itu luar biasa membenci Abimanyu dan istrinya. Bukankah itu balas dendam paling menarik bagi orang tua? Anak yang mereka cari sekian lama ditemukan dan ternyata anak itu membenci mereka dan menyalahkan mereka. Jika aku adalah dia, akan kupilih cara ini."


".... Princess." Banyu menahan gemetar di bibirnya dengan menggigit bibir itu.


Diraih tangan Rose yang dingin, menggenggamnya kuat-kuat seolah gadis rapuh itu jauh lebih tegar daripada dirinya sendiri. "Aku enggak peduli Abimanyu dibikin sujud ke tanah tapi kalo bisa, Princess, kalau kamu bisa ... tolong jangan biarin Bila disiksa terlalu lama. Dia masih kecil."


Rose terdiam. Matanya memandangi Banyu yang kini menundukkan keningnya pada tangan Rose, seperti tengah berharap.


Lama Rose hanya diam, sebelum tangannya bergerak mengusap-usap kepala Banyu.


"Aku yang paling tahu rasanya tersiksa sendirian," gumam Rose. "Hanya karena aku tertawa, bukan berarti aku membiarkannya."


Banyu sedikit lebih lega.


"Tapi ... kamu juga harus tahu, Banyu." Rose menarik tangannya. "Kadang-kadang saat kamu tersiksa ... dunia melarang siapa pun datang menolongmu."


Rose sering merasakannya dulu.


Terlampaui sering hingga ia menganggap itu sebagai sistem dari dunia ini.


*


Ini pertama kali Nabila terbangun dengan badan yang sangat ringan. Entah karena pengaruh obat demam, ataukah karena kemarin ia makan es krim, atau mungkin karena ia memakai bantal, ataukah karena si Om Baik Hati.


Nabila buru-buru terbangun, turun dengan harapan si Om Baik Hati masih ada.


Tapi ....


"Ngapain kamu di sana? Buruan ke sumur ambil air, terus cuci baju."


Si Om sudah pergi.


Nabila tertunduk kecewa. Agak terlalu kecewa hingga ia lupa ... tempat ini adalah neraka.


Sebuah cubitan keras kembali ia rasakan di telinganya. "Kamu jadi kegirangan cuma karena kemarin dibelain, hah? Zayn ke sini cuma sesekali. Mau dia ngelindungin kamu pun, kalo dia udah pergi, enggak ada yang bakal peduli sama kamu!"


Nabila berusaha berteriak, mengekspresikan rasa sakitnya tapi yang keluar hanya suara napas yang terengah-engah kesakitan.


Elis mendorong tubuh anak itu, membiarkannya terjatuh di lantai.


"Ngeliat muka kamu aja usah bikin saya emosi!"


Ringan di tubuh Nabila mendadak hilang, digantikan rasa sakit baru atas kemarahan Elis.

__ADS_1


*


__ADS_2