Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
part 15


__ADS_3

"Kenapa? Ini rasanya enak loh? Di pasar enggak ada yang jual. Cuma Om Zayn yang punya."


Nabila kembali menggeleng, tak mau dengan pemberian Rahwana itu.


Kenapa Nabila menolak? Itu karena ... karena ia harap Zayn memberikannya sendiri.


Tadi Nabila memang ingin, saat ia melihat Rahwana memakannya. Tapi kemudian Elis datang dan bertanya, hingga Nabila mendengar bahwa itu pemberian Zayn.


Om Baik Hati pasti akan memberikannya pada Nabila juga. Nabila cuma harus menunggu sampai ia diberikan. Makanya Nabila tidak mau punya Rahwana.


Rahwana pergi meninggalkan kamar Nabila dengan wajah tak senang, sementara Nabila kembali berbalik, memeluk sari rusak yang ia pikir pemberian Zayn. Sari baru yang dibelikan Zayn tidak mau Nabila keluarkan begitu saja karena seringkali Elis datang membangunkannya lalu nanti dia melihat itu dan merusaknya lagi.


*


"Bisu enggak mau, Om!" Rahwana lagi-lagi protes pada Zayn yang ditemuinya diam-diam. "Bisu enggak mau biskuit aku!"


Zayn mengerutkan kening, heran. Masa sih? Setahunya bocah itu tidak punya masalah dengan biskuit cokelat. Tapi yah kalau dia tidak mau, berarti mungkin dia tidak suka lagi.


"Kalo gitu coba kasih yang lain." Zayn mengeluarkan permen dari saku jaketnya.


Memang Zayn suka camilan dan membawa-bawa ke mana pun camilan itu di kantongnya, jadi tak sulit ia menemukan hal lain.


"Nih, permen bentuk binatang. Pasti Bisu suka."


Rahwana menatap berbinar permen di tangannya. Permen itu tidak keras, tapi kenyal-kenyal seperti karet. Rahwana langsung tersenyum lebar, mendongak pada Zayn.


"Bisu pasti suka, Om!"


"Pasti. Sana pulang. Kalo dia udah makan, kasih tau Om."


Zayn juga harus terus memantau perkembangan anak itu, termasuk bagaimana dia bereaksi terhadap hal-hal kecil.


Besoknya Zayn duduk di pohon pertemuannya dengan Rahwana, menikmati marshmallow sambil memikirkan perkembangan masalah antara dirinya dan Rose sekarang.


Perempuan itu sudah terang-terangan mengajukan perang dengan semua penentang Mahardika. Bahkan walaupun mereka coba melancarkan serangan dengan menyebut mereka otoriter, penguasa tirani dan sebagainya, Rose sedikitpun tidak gentar terhadap serangan negatif dari rakyatnya.


Mungkin Zayn harus memikirkan cara agar hubungan Rose dan Abimanyu memburuk.


"Om!"


Pikiran Zahn dibuyarkan oleh seruan Rahwana. Pria itu menunggu sampai Rahwana berhenti di depannya, hanya untuk berkata, "Bisu enggak mau juga."


Zayn bahkan terkejut. Mana ada anak kecil menolak permen!


"Bisu kemarin dipukulin?" tanya Zayn, memikirkan mungkin dia sedang terluka jadi terlalu malas makan sesuatu.


"Enggak, Om. Bisu cuma dimarahin aja sama Mama, enggak sampe dipukulin. Tapi biarpun dimarahin Bisu biasanya tetep mau kok dikasih permen."


Lalu kenapa ....

__ADS_1


"Bisu jadi aneh, Om," adu Rahwana frustrasi. "Jangan-jangan Bisu marah yah sama aku karena aku bilang kita suami istri?"


Itu tidak .... Atau mungkin?


Zayn berdecak kesal. Benci pada sesuatu yang diluar dugaannya begini. Anak Abimanyu itu, jangan bilang dia memikirkan sesuatu yang tidak berguna di kepalanya?


Atau dia sudah mulai sadar seharusnya dia tidak menerima kebaikan siapa-siapa di sini, karena semua orang adalah musuhnya?


Tapi seharusnya dia tidak sepintar itu.


"Kamu sama Bisu enggak boleh marahan, Rahwana." Zayn menegaskan itu padanya. "Dia itu istri kamu. Harus selalu sama kamu. Ngerti?"


"Iya, Om."


"Sini, Om temenin liat Bisu. Biar Om yang tanya."


Zayn pergi menuju kediaman itu walau sebenarnya berencana tidak muncul dulu sementara waktu. Saat Zayn datang, Nabila tampak sedang sibuk mengelap tembok pagar dengan air agar debunya hilang.


Ketika melihat Zayn, Nabila seketika berbinar, loncat turun dan berlari menghampirinya.


Gadis kecil itu melingkarkan tangannya pada kaki Zayn, mendongak dengan mata kecilnya yang berbinar.


Detik itu, Zayn dibuat tercengang oleh kesadaran yang menimpanya.


Jangan bilang ....


"Sayang." Zayn merogoh sebutir permen dari sakunya, persis sama dengan permen Rahwana. "Om punya permen, kamu mau enggak?"


Dia mau.


Tidak. Lebih tepatnya dia mau permen dari tangan Om Baik Hati-nya.


*


Zayn mendadak ragu memberikan permen itu, sementara Rahwana seketika mendelik marah.


"Aku kasih kamu kemarin kamu enggak mau," kata Rahwana protes. "Giliran Om Zayn kamu mau! Bisu lebih suka Om Zayn daripada aku, kan?"


Nabila malah langsung mengangguk. Hal yang jelas membuat Rahwana semakin marah dan akhirnya berlari pergi, meninggalkan mereka.


Nabila sempat melihat Rahwana sebentar, tapi tak punya keinginan mengejar karena merasa tidak berbuat kesalahan. Ia memang menyukai Om Baik Hati daripada Rahwana. Bersama On Baik Hati, Nabila merasa aman dan nyaman.


"Kamu mau permen?" tanya Zayn sekali lagi.


Nabila mengangguk.


".... Gitu." Zayn malah mengantongi permen itu, membuat Nabila kebingungan. "Ikut Om dulu, kalo gitu."


Dengan senang hati Nabila lakukan. Pergi mengikuti Zayn yang berjalan sampai akhirnya dia berhenti di bawah sebuah pohon, duduk di atas permukaan tanah merah. Zayn melipat satu kakinya ke atas, sementara satu lagi terlipat menyamping di tanah.

__ADS_1


Angin berembus kencang sampai suara dedaunan terdengar. Nabila melindungi wajahnya saat debu beterbangan dari arah angin, memburamkan pandangannya.


"Nak."


Nabila berusaha melihat Zayn yang barusan memanggilnya.


"Katanya di dunia ini, semua orang punya jodohnya masing-masing." Zayn menangkap sebuah daun yang terbang, memegangnya di antara telunjuk dan ibu jari. "Orang asing entah siapa yang bakal jadi berarti buat hidup kita."


Angin kencang perlahan berhenti, membuat Nabila akhirnya bisa melihat jelas Zayn.


Pria itu menggoyang-goyangkan daun di tangannya.


"Om dulu pikir jodohnya Om itu enggak ada. Soalnya Om enggak percaya sama kata orang soal jodoh."


Nabila hanya mendengarkan, tak benar-benar mengerti.


"Tapi suatu waktu Om ketemu sama perempuan yang bikin Om ngerasa ... mungkin dia orangnya." Zayn tertawa kecil. "Yah, mungkin cuma perasaan enggak berdasar sih. Dia menarik buat Om, terutama dari kepribadiannya. Dia gila."


Daun di tangan Zayn dilepaskan, membuatnya langsung diterbangkan oleh angin.


"Tiba-tiba dia pergi."


Nabila tertegun melihat tatapan dingin Zayn. Seperti seekor serigala yang menatap mangsanya, dia meletakkan dagu di lututnya, lalu tersenyum.


"Jodohnya Om dibuat gila sama seseorang, dibuat kacau sampe enggak tertolong lagi, dan Om cuma bisa ngeliat dia jatuh ke jurang."


Nabila mendadak merasa kerongkongannya kering. Mungkinkah karena udara panas walau angin kencang?


"Aneh enggak sih, Nak? Menurut kamu, ngeliat dia bunuh diri itu aneh? Tapi kamu tau, tulus dari hati, alasan Om enggak narik tangannya waktu itu ... semata karena Om enggak mau ngeliat dia berjuang lagi. Dia udah terlalu capek karena seseorang."


Tatapan Zayn terasa semakin dingin pada Nabila.


"Om ... janji sama dia ... bakal nyakitin semua yang udah nyakitin dia. Enggak peduli kalau orang lain bilang itu enggak adil atau enggak waras."


"...."


"Kamu, menurut kamu gimana? Kalau Om marah sampe mau nyakitin orang-orang yang nyakitin jodoh Om dulu, menurut kamu Om jahat? Om salah?"


Nabila membuka mulutnya, tapi kemudian kembali terkatup. Anak itu menunduk, menatap hamparan tanah merah di bawah mereka cukup lama.


Lagi-lagi suara angin terdengar.


Nabila lantas menatap Zayn di sana. Gadis kecil itu bukan menggeleng, bukan mengangguk, melainkan tersenyum hingga kedua matanya melengkung.


".... Terserah Om, kamu mau bilang gitu?"


Nabila mengangguk.


"Gitu." Zayn tertawa kecil. Merogoh sakunya kembali, mengeluarkan permen yang dia janjikan untuk Nabila.

__ADS_1


*


__ADS_2