
"Kamu enggak nyariin Bila!" Rara kini hanya bisa mengamuk ketika dia melihat Abimanyu pulang. "KAMU ENGGAK NYARIIN BILA! KAMU ENGGAK MAU NYARIIN KARENA OLIVIA ENGGAK MAU!"
Abimanyu yang juga merasa buntu atas segalanya jelas tak punya kesabaran pada omongan itu sekarang. Dadanya kembang kempis, memerah menatap Rara yang tampak kacau.
"Kamu sesuka itu nyalahin aku, Ranaya? Segala sesuatu yang enggak beres di hidup kamu selalu kamu salahin ke aku!"
"KARENA ITU KENYATAAN!" Rara merasa ingin menjerit setiap kali ia mengingat tangan-tangan kecil di kotak bersama foto anaknya.
Kemarin Juwita datang memberitahu bahwa tangan itu bukan milik Nabila. Itu palsu. Tapi segalanya tetap terasa menakutkan. Rara tidak percaya pada apa pun sampai ia bisa melihat anaknya.
"KAMU HARUSNYA ENGGAK JADI PAPANYA BILA, ABIMANYU! KAMU ENGGAK PERNAH BECUS JAGAIN SESUATU!"
"KAMU—"
"Abimanyu." Juwita menarik anaknya itu agar tidak meladeni Rara, sebab keduanya sedang sama-sama kalut. Percuma mereka bertengkar juga. Keadaan tidak membaik tapi malah memburuk.
Abimanyu langsung meninggalkan Juwita begitu saja, tak mau mendengar apa pun dari siapa pun sekarang. Pria itu berjalan menuju kamar anaknya, duduk di tempat yang biasa diduduki Nabila, meraih bingkai foto mereka bertiga saat semuanya masih baik-baik saja.
"Bila." Abimanyu menunduk, menjatuhkan kening di lututnya sendiri, bersembunyi dari tembok sekalipun agar tak melihat ia menangis.
Padahal kemarin dia masih ada di sini. Kemarin gadis kecilnya masih berada di sini, menunggu Abimanyu pulang walau cuma sebentar.
"Papa, kemarin Patricia pamerin kamarnya yang seperti kamar tuan putri. Terus Patricia bilangin Bila katanya Bila enggak bisa punya kamar begitu, soalnya rumahnya Bila kecil. Emangnya kamar tuan putri enggak bisa dibikin kalo rumahnya kecil yah, Papa?"
"Kata siapa? Temenmu ngomong begitu soalnya dia bodoh." Abimanyu saat itu membalas pongah. Tidak mau anaknya merasa dia tidak bisa mendapatkan sesuatu yang dia mau. "Mana sini model kamar princess-nya. Papa bikinin berkali-kali lipat lebih bagus."
"Tapi kata Patricia harganya mahal, Papa."
"Terus kenapa? Kata siapa Papa miskin?" Abimanyu meraih badan kecil anaknya, mencium kedua pipinya hingga dia mengikik geli. "Listen up, Baby-nya Papa. Enggak ada sesuatu di dunia ini yang enggak Papa kasih buat kamu. Tiap kamu ngerasa kamu enggal bisa, selalu inget, you got me. Kamu punya Papa yang akan kasih satu dunia buat kamu bahagia."
Kini Abimanyu cuma bisa mengingat semua itu, menangisinya sambil mendekap boneka kesayangan putrinya.
"Kamu punya Papa, Baby." Abimanyu merintih. "Kamu punya Papa. Tapi kenapa kamu masih susah di sana?"
Abimanyu harus pergi ke mana untuk menemukan bayi kecilnya yang malang?
*
Sepertinya sudah akan masuk musim hujan. Nabila menebak begitu dari pergerakan angin juga hawa dingin malam ini. Di tepi jendela memandangi kekosongan, Nabila terdiam bersama sepi.
Nabila bertanya-tanya apa sekarang ada orang yang memikirkannya.
Setidaknya Nabila berharap ada. Karena itu sudah cukup membuatnya senang.
__ADS_1
Suara pintu terbuka di atas membuat Nabila mendongak, menemukan Rahwana ternyata juga sedang keluar, membuang bungkusan makanan begitu saja. Rahwana berencana masuk dan menutup pintu balkonnya lagi, tapi langsung terhenti saat melihat Nabila.
Di saat bersamaan Nabila mengingat sesuatu.
"Kamu harus baik sama Rahwana." Itu kata Om Baik Hati. "Dia orang yang akan selalu bantuin kamu di sana. Kamu mungkin mau Om selalu ada, tapi enggak bisa. Rahwana yang selalu ada. Jadi lebih baik kamu enggak bikin Rahwana marah."
Nabila melempar senyum cerah, melambaikan tangannya pada Rahwana.
Niatnya cuma ingin berkata bahwa Nabila akan bersikap baik.
Tapi beberapa saat kemudian Rahwana turun, membawa banyak biskuit, lalu berkata, "Kali ini aku maafin kamu tapi kalo kamu bikin aku marah lagi, nanti aku enggak mau maafin kamu yah, Bisu."
Nabila mengangguk. Dan Rahwana tersenyum cerah.
"Ohiya, Bisu, kata Mama besok Fina udah pulang. Katanya dia bakal tinggal di sebelah rumah, jadi bisa kerja di sini lagi. Kamu hati-hati yah, soalnya Fina kan jahat sama kamu."
Nabila sekali lagi mengangguk.
*
Sepuluh tahun waktu berlalu.
"Bisu! Tempat air kenapa masih kosong?!"
"Tangan sama kaki udah besar masih aja lelet kayak anak kecil," omel Fina sambil memotong-motong sayuran. "Masak kan urusan kamu, kenapa jadi aku yang harus ngurusin?! Heh!"
Nabila hanya berusaha bekerja cepat saja. Ini masih pagi jadi pekerjaan rumah bisa dibilang masih sangat banyak. Lina dari kemarin kebetulan sedang sakit hingga harus tetap diranjang jadi pekerjaan Nabila akan dua kali lipat.
Fina sebenarnya sudah berhenti bekerja sebagai pembantu sejak lima tahun lalu, karena pekerjaan suaminya terlalu tinggi buat dia malah melayani seseorang, tapi karena hubungan lamanya dengan Elis juga permintaan Lina, Fina bersedia membantu.
Walau itu membuat Nabila merasa neraka.
"Bisuuu!" teriak Elis yang tampaknya sudah turun dari atas.
Nabila belum selesai dengan air tapi jelas harus beranjak pergi.
"Kamu dari mana aja sih?! Pagi-pagi udah bikin marah!"
Nabila hanya menunduk.
"Sana buatin minum. Camilan buat Rahwana juga."
Nabila bergegas pergi, berpindah lagi membuatkan minum juga makanan. Minuman untuk Elis ia letakkan di atas meja ruang tengah, sedangkan untuk Rahwana harus ia bawakan ke kamar karena sekarang dia mungkin masih lelap tertidur.
__ADS_1
Bangun pagi memang kelemahan Rahwana.
Nabila mengetuk pintu kamarnya, lalu pelan-pelan masuk tanpa harus mengusik orang di dalam. Ia letakkan semuanya di meja, baru akan pergi tanpa suara saat tiba-tiba dihentikan.
"Mau ke mana?"
Nabila menoleh ragu-ragu hanya untuk melihat Rahwana terduduk di tempat tidur, tanpa memakai atasan sama sekali. Wajah ngantuknya terlihat sangat polos, berbanding terbalik dengan tatapan matanya yang tajam memandangi Nabila.
Sebelum dia bicara lagi, Nabila buru-buru kabur, meninggalkan kamar Rahwana untuk kembali bekerja.
*
Nabila sudah terlelap saat merasakan seseorang menyelinap di kamarnya, ikut berbaring di karpet tipis yang telah ia tiduri selama sepuluh tahun di sini.
Perempuan itu pura-pura terlelap, tapi seseorang yang seenaknya masuk tampak tidak tertipu, menarik perut Nabila agar tubuh mereka berdekatan.
"Tadi kenapa kabur?" bisik suara berat yang rendah itu.
Nabila tetap pura-pura tidur.
"Bisu, kamu kenapa akhir-akhir ini enggak mau ngeliat aku sih? Emangnya aku salah?"
Tentu saja pemilik suara itu adalah Rahwana. Seseorang yang tak peduli berapa kali Nabila usir, tetap saja datang.
Pernah sekali Nabila mengunci pintunya dari dalam, menggunakan lemari kecil yang ia dorong sampai ke pintu. Biar Rahwana tidak masuk seenaknya.
Itu sangat tidak sopan dan memalukan. Sekarang dia sudah besar dan Nabila merasa itu salah kalau dia terus-menerus datang tiap malam.
Tapi Rahwana malah nekat manjat lewat jendela, lalu memaksa Nabila berjanji tidak akan mengunci pintunya lagi.
"Kamu enggak boleh begitu sama suami kamu, Bisu," katanya waktu itu. "Suami istri emang normal tidur bareng. Masa gitu aja kamu enggak tau?"
Nabila hari itu cuma melotot. Tentu saja ia tidak bodoh lagi. Ia sudah dewasa dan mengerti. Makanya Nabila merasa Rahwana yang pura-pura tidak tahu bahwa mereka ini bukan suami istri sungguhan.
Dia saja yang terus-terusan menyebutnya begitu.
"Bisu." Tangan Rahwana dengan sengaja naik, melewati dada Nabila untuk sampai ke dagunya, memaksa itu berpaling. "Kamu kenapa, hm?"
Nabila berusaha keras tidak melihat senyum tengil Rahwana.
Karena entah kenapa, sekarang tiap kali melihat senyumnya, Nabila merasa terbakar.
*
__ADS_1