
Adji memahami alasan Juwita mau pergi. Dia tak sanggup menanggung beban harus memilih. Itu tidak semudah itu memang, memutuskan ini agar seperti ini.
Makanya Juwita memilih dirinya sendiri. Dia memilih agar dirinya yang jadi badjingan, meninggalkan keluarga sebab kalau dia harus menyuruh Abimanyu pergi, maka dia harus menjawab pertanyaan tadi seumur hidup.
Pertanyaan anak-anak mengenai 'kenapa harus berpisah?'. Pertanyaan 'kenapa harus ada yang pergi?'. Dan keluarga ini tidak akan baik-baik saja jika sampai jawaban jujur seperti 'karena Abimanyu suka sama Ibu' didengarkan oleh adik-adik Abimanyu.
Ya, berada di sini memang berat. Serasa mereka dipaksa berpisah pelan-pelan karena hubungan ini menyakiti diri sendiri dan orang lain.
Tapi Adji tidak akan pernah memilih pasrah.
"Juwita." Maka sekalipun tahu itu masih sangat sulit, Adji terus berusaha datang pada istrinya. "Udah siang. Ayok turun, makan."
Wanita itu hanya terdiam kosong memeluk bantal guling.
"Mbak Icha di bawah udah masak. Kesukaan kamu semua."
Juwita menoleh. "Mbak Icha siapa?"
"ART baru. Kamu kan yang minta. Mas udah panggil dia, bersih-bersih sama masak. Ayok, turun dulu makan."
".... Enggak laper." Juwita kembali memeluk bantal guling. "Mas mending bawa pulang anak-anak. Kasian mereka nyariin kita. Aku udah enggak pa-pa."
__ADS_1
Ya, tentu saja dia tidak baik-baik saja. Adji bukan pria yang memaksa istrinya menjadi superhuman hanya karena dia seorang ibu.
Anak-anak pasti bingung bahkan sedih, tapi Juwita adalah pusat hidup mereka. Jika Juwita tidak baik-baik, membawa anak-anak pulang pun hanya akan membuat mereka bingung.
"Mas bawain makanan naik, yah." Adji mengecup pundak Juwita sebelum beranjak turun.
*
Abimanyu sering merasa bahwa tidak ada yang mengerti perasaannya. Namun Abimanyu juga tidak ingin menyalahkan siapa-siapa atas hal itu, terutama Banyu.
Selama ini yang benar-benar bisa mengerti Abimanyu hanyalah Mama dan juga Juwita.
Abimanyu cuma diam, menutup pintu mobil Sakura setelah Banyu memeluk Yunia yang tertidur lelap. Tak ingin berlama-lama di sana, Abimanyu menjalankan mobil itu pergi.
Sepanjang perjalanan pikirannya dipenuhi banyak hal.
Haruskah ia pergi sekarang? Haruskah Abimanyu menjauhi keluarganya agar Juwita bisa kembali bahagia? Tapi bagaimana dengan perasaan Abimanyu? Agar semua orang bahagia Abimanyu harus mati, begitu?
Apa ini pengorbanan yang pantas?
Tidak. Bukankah selama ini Abimanyu sudah berkorban? Ia diam dan diam demi kebahagiaan Juwita. Semua orang boleh mengejar cinta mereka sedangkan Abimanyu menahannya.
__ADS_1
Lalu haruskah selamanya ia menahan? Kenapa semua orang menyebutnya egois saat ia mau mendapatkan cinta itu?
"What am I suppose to do?" gumam Abimanyu detik setelah pintu mobil terbuka dan Olivia naik di kursi sampingnya. "Ngerelain dia karena gue cinta banget sama dia? Pasrah sama keadaan? Coba pindah ke hati lain? You think I didn't try anything?"
Abimanyu pernah mencobanya. Berpaling ke orang lain, berusaha jatuh cinta sampai menghabiskan waktu intim dengan mereka. Abimanyu membiarkan mereka merasa dicintai olehnya dan membiarkan mereka mencintai Abimanyu. Sangat banyak wanita. Abimanyu bahkan melakukannya secara sehat, melakukan ini dan itu tapi pada akhirnya selalu Juwita perasaan ini berlabu.
Dia selalu jadi sosok yang Abimanyu cari. Dia selalu jadi orang terakhir yang Abimanyu pikirkan.
"Semua orang cuma bilang gue nafsu ke Juwita," gumam Abimanyu seperti kelelahan. "Semua orang bilang gue cuma gila cinta sama Juwita. Ya, gue nafsu ke dia. Gue selalu nafsu ke dia. Tapi gue juga sayang sama dia. Gue sayang sampe gue rela lakuin apa pun buat dia."
Olivia hanya diam.
"Tapi gue juga pengen milikin dia. Gue juga pengen dia ngeliat gue. Emangnya kalo gue cinta sama dia, gue lakuin segalanya buat dia, otomatis gue enggak boleh berharap? Gitu maksudnya cinta?"
"Maybe it's not like that." Olivia menjawab setelah mendengar luapan emosi yang lemah itu. "Maybe satu-satunya masalah ya ... ya karena dia istri bokap lo."
"...."
"Lo cinta sama dia, sayang sama dia, tapi intinya ya dia nyokap tiri lo."
*
__ADS_1