
Acara cuma berlangsung sebentar, tidak sampai pukul sebelas siang. Karena tamu-tamu juga perlahan sudah pulang, Juwita jadi bisa santai sedikit.
Perut Juwita entah kenapa sakit karena berdiri terlalu lama. Tapi sebelum benar-benar berakhir, Juwita sudah berencana melakukan sesuatu.
Bertemu dengan Oma Putri.
Bersama Banyu.
Ada sesuatu yang harus anak ini lakukan, bukan karena apa pun tapi karena meringankan beban hati Juwita sebagai ibu tirinya yang selalu kena sorot.
"Kamu enggak perlu begitu kalau enggak mau." Adji sempat menahan Juwita. "Lagian buat saya, kamu atau Banyu enggak salah apa-apa. Biar aja kalau orang tersinggung."
Ya kalau orang lain sih biarkan. Tapi kalau keluarga Adji, Juwita tidak enak hati membiarkan. Dan, kalau harus sedikit licik, ini pun kesempatan.
Jika di depan semua orang ini Juwita dan Banyu datang lalu disambut tidak baik, maka semua orang juga akhirnya bisa melihat siapa yang perlu disebut antagonis.
"Cahku, Banyu. Sini." Juwita mengisyaratkan Banyu buat datang, sekaligus berbalik menyerahkan bunga ke tangan Adji. "Pegangin dulu yah, Masku."
Adji menghela napas. "Udah saya bilang mending buruan naik."
"Itu maumu."
"Emang."
Juwita menarik hidung Adji hingga dia meringis. Beberapa keluarga mereka yang masih ada di sana tertawa karena Juwita memperlakukan Adji malah seperti anak kecil.
Buru-buru Juwita kabur, tentu dengan Banyu berada dalam rangkulannya.
Kebetulan Oma Putri sedang bersama Mama, jadi Juwita tidak begitu canggung mendekat.
"Oma, Banyu mau ngomong."
__ADS_1
Juwita menepuk-nepuk punggung Banyu, meyakinkannya kalau minta maaf duluan itu tidak berarti dia kalah.
Anggap saja dia lebih waras dan lebih mementingkan kedamaian di atas pertikaian.
"Oma." Banyu mengikuti nasehat Juwita, walau agak terlihat dia tidak tulus. "Aku minta maaf kemarin ngomong kasar."
Ya, Juwita tentu masih ingat Banyu katanya mengatai Oma Putri dengan kalimat kasar saat Juwita masuk rumah sakit. Karena itu, Juwita berharap Banyu minta maaf.
Tapi ....
Oma Putri melihat ke arah lain, tidak berkata apa pun.
Dalam hati rasanya Juwita menghela napas berulang kali.
Ternyata benar ada yah orang begini? Dia memang tidak berpikir sesuatu seperti kedamaian boleh terjadi kecuali dia suka.
Bagaimana bisa yah orang seperti ini begitu pede merasa dirinya benar saat memusuhi keluarganya sendiri?
"Oma." Juwita bersuara lembut. "Banyu minta maaf udah kasar kemarin. Dia enggak sadar ngomong kasar begitu karena panik."
Juwita menipiskan bibir. Diam-diam memegang tangan Banyu yang nampaknya mau langsung marah karena sikap Oma Putri.
"Saya enggak butuh kamu nyuruh anaknya Melisa minta maaf. Saya enggak butuh kalian minta maaf. Enggak usah susah-susah. Saya juga enggak butuh minta uang ke Adji. Uang saya banyak."
Yang nanya siapa? Juwita rasanya mau bilang begitu.
Sumpah yah, Juwita bukan orang baik atau orang yang cuma bisa menangis saat terzolimi. Jika Juwita diam, itu semata karena ia memikirkan konsekuensi yang kena ke keluarganya.
Juwita menghela napas. "Saya enggak nyuruh Banyu minta maaf biar Oma seneng, kok. Saya cuma mau dia tau kalau dia salah ya minta maaf. Oma mau maafin enggak maafin enggak pa-pa, kok. Banyu juga enggak butuh."
Yang dengar juga pasti tahu kalau barusan Juwita melawan perkataan Oma.
__ADS_1
Oma Putri langsung mengangguk-angguk sinis. "Saya sejak pertama liat kamu emang enggak suka. Kamu yang ngajarin anaknya Melisa begini. Banyu ngomong enggak bener, Abimanyu mabuk-mabukan, besok apa? Oh, Cetta malah main sama pemulung. Itu kelakuan kamu semua itu."
"Ya gimana, Oma? Saya orangnya begini. Menurut saya semua manusia ya tetep manusia, mau pakenya baju bekas atau mobilnya lamborgini."
Juwita mengusap-usap kepala Banyu yang terlihat nyaman karena sentuhan Juwita.
"Anaknya Kak Melisa pada jujur semua, Oma, makanya begitu. Enggak bisa kayak yang lain gitu, kalau ngomong sama Oma harus pinter-pinter bohong."
Banyu menahan tawa. "Kan gue udah bilang enggak usah," ucapnya pada Juwita, tapi sengaja dikeraskan.
Juwita tersenyum kecil. "Jangan jadi pemicu masalah. Kita minta maaf aja, Sayang, biarpun orangnya enggak mau."
Ekspresi Oma Putri sudah sangat murka. "Kurang ajar yah kalian sama saya!"
Teriakannya memicu semua orang berpaling, memancing keributan.
Namun karena ada yang namanya belajar dari pengalaman, ada yang namanya paham dari pengalaman, Juwita tidak akan membiarkan hal itu berakhir dengan kesenangan mereka saja.
Usaha Juwita berdamai diabaikan, jadi yasudah mari sepakati sesuatu yang lebih bermanfaat.
"Saya sama anaknya Kak Melisa ataupun Mas Adji enggak pernah ada yang kurang ajar sama Oma."
Juwita bicara tegas biar semua orang dengar.
"Selalu Oma yang cari-cari masalah, cari-cari kesalahan biar Oma bisa teriak 'kurang ajar ya kalian' dan semua orang ngomongin kami. Terutama saya."
Juwita membuka tangannya ketika Abimanyu ikut mendekat, disusul Cetta yang memegangi gaunnya sebelum Adji pun datang, berdiri di belakang mereka.
Dalam posisi dikelilingi keluarga kecilnya, Juwita tersenyum lebar pada kubu bermasalah itu.
"Saya udah maafin Oma karena ngomongin saya dari kemarin, jadi kalau bisa mulai sekarang kita masing-masing aja. Oma silakan sama yang Oma suka aja, kami sama yang mau nerima kami aja. Oke, Oma? Oke."
__ADS_1
Adji yang menyaksikan itu cuma tersenyum bangga.
*