
Minta izin pergi dari Adji pastinya akan membutuhkan waktu lama. Juwita tahu akan terlibat diskusi dan bujukan untuk tetap tinggal serta harapan bahwa semua baik-baik saja tapi tidak.
Tidak ada yang baik-baik saja.
Maka besok paginya Juwita mengemasi kopernya, mengambil sejumlah perhiasan mahal agar terkesan ia benar-benar kabur. Ia harus jadi istri tidak tahu diri yang pergi menelantarkan keluarganya agar tidak dicari oleh siapa pun lagi.
Tapi saat Juwita menarik kopernya turun, Abimanyu datang menangkap tangannya.
"Lo mau ke mana?"
"Ke neraka!" Juwita menarik tangannya kasar. "Aku mau ke neraka biar kalian semua bisa ke surga! Ngerti kamu?!"
Abimanyu mengetatkan rahangnya. "Juwita, Sakura enggak bakal ngomong apa-apa. Dia takut cerai jadi—"
"Ini bukan soal Sakura bakal ngomong apa, Abimanyu!" teriak Juwita di wajahnya agar dia mengerti.
Demi Tuhan, sedikit saja mengertilah!
"Ini soal kamu suka sama orang yang harusnya enggak kamu suka! Kamu kira kita bakal kayak di film, hah?! Kamu ngerayu, kamu ganteng, kamu muda, kamu nafsu terus lama-lama aku mau?! Enggak ada yang mau sama kamu! AKU ENGGAK MAU SAMA KAMU, NGERTI?!"
"Juwita, lo kenapa—"
"He, bisa enggak sih kamu ngerti kerjaan orang tua?!" Juwita mendorongnya kasar. "Bisa enggak sih kamu berenti ngurusin diri sendiri mulu, hah? Aku masukin nasi ke mulut kamu sementara kamu sibuk mikirin gimana mulut kamu bisa makan yang lain! Itu kamu! Setan yang ngerusak semuanya!"
__ADS_1
"...."
"Kamu yang mestinya pergi jauh-jauh tapi aku punya hutang sama bapak kamu! Ibu aku udah enggak ada sekarang kalo bukan karena uang dia jadi aku, orang tau diri, sadar kalo aku pergi seenggaknya kalian enggak ngeliat aku lagi! Ini bukan soal perasaan doang, ngerti kamu, Bocah?!"
Suara Juwita yang menggelegar bisa didengar oleh siapa pun. Siapa pun ... di rumah itu.
Lila berdiri di pembatas tangga melihat ibunya tampak sangat marah. Bertahun-tahun jadi anaknya, tidak pernah Lila melihat ibunya semarah itu.
Sama halnya dengan adik-adik Lila yang cuma bisa menatap nanar.
"Ngerti enggak sih kamu?" rintih Juwita, terisak-isak menunjuk anaknya di atas. "Aku ninggalin mereka semua biar kamu tenang, kamu ngerti? Aku sekarang enggak bakal liat mereka lagi biar kalian enggak ...."
Ucapan itu tak selesai sebab tangisannya menguat. Padahal Juwita tak mau melihat anaknya saat pergi, namun saat ia mendongak, mereka semua begitu polos menyaksikannya.
"Udah." Juwita meraih pegangan kopernya lagi, menariknya berjalan. "Bilang sama Papamu aku enggak mau pulang lagi."
Di depan pintu, Banyu berdiri, menghalangi jalan. "Juwita—"
"Enggak ada yang mau aku omongin sama kalian. Enggak ada yang mau aku negosiasi. Jadi Banyu, minggir karena aku bukan urusan kamu. Kamu juga bukan urusan aku."
"Juwita, please."
"Aku juga minta sama kamu, PLEASE BANYU, PLEASE!" jerit Juwita frustrasi. "Sampe kapan kamu mau maksa aku ngurusin kalian? Anak-anak enggak tau syukur kayak kalian, sampe kapan aku mesti buang-buang waktu?!"
__ADS_1
Banyu menatapnya putus asa. "Seenggaknya lo usir Abang, Juwita. Kenapa jadi lo—"
"Enggak sekalian kamu nyuruh aku ngeracunin dia?" balas Juwita murka. "Enggak sekalian kamu nyuruh aku nusuk dia pake piso, hah? Enggak tau diri! Buat kamu anak yang dari kecil dianter sekolah pake mobil, yang apa aja bisa kamu beli pake uang, kamu ngerti apa soal aku?!"
"...."
"Kamu ngerti rasanya ngutang? Ngerti kamu rasanya mesti bales budi? Kalo aku lahir jadi kamu, Banyu, ngeracunin Abimanyu juga aku lakuin dari dia lahir! Tapi dia anak bapak kamu dan nyawa Ibu aku itu masih ada hari ini karena bapak kamu!"
Di saat situasi itu menjadi tak terkendali, tidak ada siapa pun yang sadar bahwa Adji sudah berdiri di teras.
Wajahnya terlihat lelah, kentara kalau Adji bergegas pulang setelah melewati penerbangan yang cukup menguras energi. Di sampingnya, ada seorang wanita yang merupakan ART baru mereka.
Adji mengambil napas sebelum melangkahkan kakinya ke rumah yang ia pikir baik-baik saja.
"Semuanya keluar," perintah Adji dingin. "Banyu, bawa adekmu ke rumah Neneknya."
"Pa—"
"Enggak usah banyak omong. Sana."
Adji melangkah dan berhenti di depan Juwita. Wanita itu langsung mengumpat lirih, tampak jelas dia sudah tidak bisa berpikir jernih.
"Saya juga ngomong sama kamu," gumam Adji pada Abimanyu. "Keluar. Saya enggak peduli ke mana."
__ADS_1
*