
Dan saat mengatakan itu, Juwita mengangguk yakin, meskipun sambil mengerucutkan bibirnya samar.
Bahasa tubuhnya tidak nyaman. Seperti tidak mau, namun jawabannya justru penuh keyakinan. Seolah dia sebenarnya tidak mau, tapi dia sendiri pun sudah memutuskan dengan keputusan bulat.
"Aku mau nikah lagi. Secepatnya malah." Juwita menegaskan tanpa tahu bahwa Adji dengar. "Tapi sama yang sepadan aja."
"Enggak mau sama yang kaya lagi?"
"Bukan enggak mau sih, Mbak. Ya enaklah punya suami kaya. Enggak pusing mikirin uang bulanan. Tapi yah, tuntutannya juga banyak. Apalagi kalau keluarganya kaya-kaya. Ya aku mah apa."
"Keluarga suami aja tuh yang jelek. Bukan kamunya yang enggak pantes. Jangan ngomong begitu ah."
"Bukan ngerendah, Mbak. Cuma kayak, orang nilai sesuatu dari yang keliatan aja. Aku enggak ngerasa aku bodoh kok, apalagi enggak pantes sama orang kaya. Cuma, dari sudut pandang mereka, aku cuma anak Ibu, anak Ayah."
Juwita memeluk ibunya waktu mengatakan itu. Dia bangga pada dirinya sendiri, bangga pada apa yang dia memiliki. Dan karena itulah dia mau meninggalkan siapa pun yang melecehkan kebanggaannya itu.
"Seakan-akan Ibu sama Ayah bukan siapa-siapa. Enggaklah. Aku udah enggak mau sama yang begituan."
Adji terdiam di tempatnya.
__ADS_1
Sejak awal, Juwita benar-benar sangat sayang pada orang tuanya. Dia datang ke pelukan Adji demi orang tuanya, dan dia sekarang memutuskan pergi juga karena orang tuanya.
Juwita tidak salah. Keluarga Adji menilai dia rendah, karena ayah dan ibunya bukan siapa-siapa.
Cuma pedagang di pasar kotor, penghasilan tak menentu yang kalau di mata keluarga Adji, tidak ada bedanya dengan pengemis.
Tapi justru karena itu.
Justru karena itu Adji menyukai. Melisa menyukainya. Dan anak-anak menyukainya.
Juwita tidak menetapkan nilai pada sesuatu secara berlebihan. Dia memanusiakan semua orang dengan cara yang lembut dan tegas.
Walau secara teknis itu sebenarnya sama—sama-sama bekerja, tetap saja berbeda.
Namun, Adji dipaksa untuk membuka sudut pandangnya lebih luas setelah mengenal Juwita. Seseorang bisa pantas bersanding dengan mereka yang berstatus tinggi bukan hanya karena dia pun punya status yang tinggi.
Justru rasanya Juwita hadir buat mengingatkan, setinggi-tingginya Adji dalam hal pekerjaan, manusia ujung-ujungnya sama dan akan selalu sama.
Yang paling penting adalah mereka menghargai atau tidak menghargai.
__ADS_1
"Ngapain di sini?"
Adji tersentak saat tiba-tiba Bima sudah berdiri di sampingnya, memegang kantong berisi ... siomai?
"Saya—" Adji mau bilang kalau ia datang untuk melihat keadaan istrinya saja.
Tapi sebelum itu, Bima sudah duluan berkata, "Gue denger Juwi udah minta cerai. Kok masih di sini? Kenapa? Mau ngajak ribut?"
Adji dibuat diam.
Walau sejurus kemudian Bima malah tertawa.
Pria itu menepuk-nepuk punggung Adji dengan cara yang rada kasar. "Becanda, bro, becanda. Serius amat, sehhhh. Nikmatin idup, dong. Banyak ketawa panjang umur."
Adji tidak merasa itu lucu atau harus ditertawakan. Tapi yasudahlah, dia kan pamannya Juwita, jadi secara teknis posisinya sama dengan mertua Adji.
'Saya mau ngomong sama istri saya."
*
__ADS_1