
"Ibu kan enggak pa-pa di rumah sakit dulu. Istirahat dulu, lah." Juwita pagi-pagi sudah harus berceramah karena Ibu berkata ingin pulang saja alias sudah tidak betah di rumah sakit.
Sebenarnya, kondisi Ibu memang sudah membaik. Operasi pun sudah berlalu cukup lama dan dokter sudah membolehkan jika Ibu ingin dirawat jalan. Tapi menurut Juwita, jika Ibu bisa di rumah sakit ya di rumah sakit saja.
Setidaknya sampai Ibu sembuh. Tidak lucu bagi Juwita melihat Ibu pulang, buka toko lagi, tahu-tahu malah muntah darah lagi.
"Bu, Ibu. Dengerin Juwi. Enggak usah mikirin biaya, oke? Enggak usah. Ibu kok hobi kali nyusahin diri sendiri. Anak Ibu ini udah besar loh, Bu, enggak nyusahin lagi. Biar aku yang cari uang. Ibu tidur-tiduran aja."
"Ibu capek di rumah sakit terus, Nak. Lagian kamu fokus aja sama keluargamu. Urusin suamimu, anak-anak suamimu. Ibu sama Ayah enggak pa-pa."
"Ibu lama-lama aku iket di rumah enggak mau diem."
Ibu malah tertawa padahal Juwita serius.
"Udah, nurut aja kamu kata Ibu. Nanti malem ajak keluargamu ke rumah makan-makan."
Juwita berdecak sebal. Tidak mungkin ia tidak tahu kalau Ibu takut merepotkan Juwita lebih jauh lagi. Takut jika Juwita memoroti harta Adji demi pengobatannya, yang sebenarnya memang fakta.
Tapi Juwita tidak jadi parasit sebab di antara dirinya dan Adji memang ada perjanjian bersama. Walau Juwita akui ia tak bicara pada Ibu, sebab urusannya akan jadi panjang.
Juwita beranjak dari bak mandi, keluar memakai handuk waktu Adji pun sudah terlihat siap berangkat kerja.
Dia bilang harus datang sebelum jam setengah delapan, jadi pagi ini memang lebih cepat bersiap.
"Kenapa Ibu kamu?"
"Mau pulang. Enggak betah katanya di rumah sakit."
__ADS_1
Juwita mengerucutkan bibir di depan cermin. Tak mengelak ketika Adji datang mencium tengkuknya.
"Aku kayak cewek open BO, yah? Servisin om-om biar dapet duit."
"Emang enggak boleh?" balas Adji santai. "Saya request cosplay kucing nanti malem. Kalo cantik tambahin dua juta."
Juwita tergelak menyikut rusuknya. Mau meladeni candaan dia tapi masih canggung.
"Kamu aja yah yang bilang ke Ibu soal rumah. Kalo aku mah Ibu pasti banyak alesan."
"Yaudah."
"Tapi kamu beneran enggak pa-pa?"
"Kenapa?"
"Enggak pa-pa."
"Masa?"
"Kamu kan minta buat Ibu kamu. Biaya berobat. Saya juga punya Ibu, jadi saya paham rasanya mau ngasih segalanya buat orang tua."
Adji mengusap-usap kepala Juwita.
"Kamu mau jadi istri saya, layanin di ranjang, akur sama anak-anak itu udah cukup. Yang penting jangan terlalu sering ngomel-ngomel."
Juwita kembali mengerucutkan bibir.
__ADS_1
Mungkin itu justru memancing Adji, tapi sebelum sesuatu terjadi, suara teriakan Cetta sudah terdengar.
"Oke, Komandan. Saya bertugas dulu."
"Pake seragam dulu."
Juwita memakai daster asal-asalan, buru-buru keluar kamar.
Masih pagi, dirinya sudah dihadapkan pada pemandangan Cetta menangis kencang karena Banyu menyembunyikan ular kecilnya.
*
Tidak lupa kan kalau alasan Abimanyu mau ikut ke lamaran kemarin karena Sandy Purnawirawan? Atlet voli yang Juwita yakin semua penggemar bola voli pasti tahu. Dia adalah teman Juwita.
Atau lebih tepat sebenarnya senior. Mereka cukup dekat untuk bisa minta tolong bertemu, dan Sandy sudah mengiyakan.
Katanya Juwita boleh datang kapan saja ke stadion tempat dia latihan.
Tapi Abimanyu tidak sabar.
"Lo kan udah janji!"
"Ya aku emang janji, Bocahku, tapi kita mesti pulang dulu jemput Ibu sama Ayah. Besok kita ketemu Sandy."
Abimanyu berdecak jengkel, pergi dengan wajah kesal luar biasa.
Kalau bukan anak tiri, sudah Juwita sleding dia. Kentara sekali wajahnya tidak mau ikut menemui orang tua Juwita.
__ADS_1
...*...