
Author butuh waktu buat kepikiran bikin cerita mereka lagi :)
***
"Juwita."
Panggilan dari Banyu langsung membuat Juwita berpaling dari akuarium ikan peliharaan Lila.
Banyu yang dulunya hanya sepantaran bahu Juwita kini tinggi menjulang saat berdiri di sampingnya, sampai-sampai Juwita harus sedikit mendongak.
Malam-malam begini memang jadi waktu paling sering mereka bertemu. Saat Juwita sudah selesai dengan semua urusannya sebagai istri juga ibu kandung dari tiga anak perempuan, maka malamnya Juwita berinteraksi dengan anak tirinya.
Yah, walau sekarang tersisa Banyu dan Cetta saja.
"Lo kenapa?"
Juwita mengerutkan bibirnya dan kembali melihat ikan peliharaan anak pertamanya berenang kesana-kemari. "Abi."
Kata itu sudah cukup memberitahu Banyu masalahnya. "Bang Abi belum sempet pulang? Yakan lo tau sendiri dia lagi sibuk ngurus skripsi. Entar kalo senggang juga pulang."
Jawaban yang sangat dingin sampai Juwita meringis.
Soal kuliah anaknya itu sih Juwita paham-paham saja. Apalagi Abimanyu kuliah di kota lain, jadi memang sulit kalau dia harus sering pulang tanpa alasan jelas.
Tapi, sebagai ibunya, sekalipun ibu tiri, ya masa Juwita tidak boleh merindukan anaknya?Dia sangat sibuk belakangan sampai rasanya dia lupa pada rumah.
__ADS_1
"Lo tuh kenapa baperan banget sih? Anak lo tiga padahal."
Enam kalau tiga anak tirinya dihitung. Tapi masalahnya bukan itu!
"Cahku."
Banyu mendengkus. "Udah gue bilang jangan manggil gue bocah."
Tentu saja Juwita tidak mengindahkan protesan itu. "Aku kok ngerasa Abi berubah, yah?"
"Cowok emang suka berubah-ubah, Bunda. Kadang jadi superman, ironman, jadi buaya juga bisa."
Juwita tetap cemberut. "Maksud aku tuh, pacar Abi itu loh."
Juwita menahan kepalan tinjunya penuh kesabaran yang ingin menerobos batas. Ia tak bisa membantah soalnya memang kadang Juwita cemburu kalau anak laki-lakinya sibuk pacaran, tapi masalahnya bukan itu.
Juwita benar-benar merasa bahwa Abimanyu jadi semakin jauh. Biasanya paling tidak dia menelepon dua hari sekali, sekadar bertanya Juwita sedang apa, adik-adiknya bagaimana.
Tapi sejak pacaran dengan anak itu, Abimanyu perlahan lupa menelepon. Lebih banyak Juwita yang menelepon, lalu kadang baru sebentar bicara, Abi sudah cari alasan agar teleponnya ditutup.
"Udahlah." Banyu mengusap-usap kepalanya seolah Juwita anak kecil. "Sana naik, istirahat. Jangan malah lo sibuk mikirin Abang yang sibuk tidur di kosannya, lo malah kurang tidur. Sana."
".... Fine." Juwita memejam ketika Banyu mencium puncak kepalanya. "Mimpi indah, Bocah."
"Mimpi indah gue mimpi basah, jadi oke."
__ADS_1
Meski rusuknya langsung mendapat sikutan, Banyu tertawa, mengawasi Juwita naik sampai menghilang di lantai tiga.
Banyu mengeluarkan ponsel lipat di kantongnya setelah itu. Memutuskan untuk mengirim pesan pada Abimanyu agar dia tahu Juwita khawatir.
^^^Woy, lo sibuk?^^^
^^^Juwita begadang mikirin lo.^^^
^^^Kangen kayaknya.^^^
Tell her I'm busy.
^^^Se-busy apa sih sampe enggak nelfon dia?^^^
^^^Look, dia dari kemarin cemberut mikirin lo ngapain^^^
^^^and it's stressing her out.^^^
^^^Just call her or anything.^^^
^^^Lo kayak sengaja ngindar, don't u know that?^^^
Banyu menatap farum chat-nya dan Abimanyu yang sialannya hanya membaca dan tidak membalas lagi. Sejujurnya Juwita benar. Abimanyu bertingkah aneh belakangan ini.
*
__ADS_1