Menikahi Duda Beranak Tiga

Menikahi Duda Beranak Tiga
Cinta


__ADS_3

Semakin lama Adji hidup, semakin ia menyadari bahwa secinta apa pun kalian pada seseorang, rasa bosan dan muak bisa saja ada. Dan Adji merasakannya secara langsung saat ia berselingkuh dari Melisa yang ia cintai, bahkan sampai sekarang, di sudut hatinya.


Tapi, Adji belajar satu hal baru dari kejadian ini. Bahwa mungkin, ia kalah dari anaknya jika saja Juwita tidak menganggap anak itu sebagai 'anak'.


Mungkin saja, jika saja Juwita hanya menganggap Abimanyu sebatas 'anak suaminya' dan bukan 'anaknya', dia akan terpikat. Perasaan Abimanyu terlihat sangat besar sampai-sampai Adji terdiam.


"Juwita."


Mungkin ini isyarat bagi Adji untuk bertindak lebih agresif alih-alih menunggu kebosanan itu datang dan bersabar.


"Mas?"


Tatapan Adji tertuju padanya. Matanya, bibirnya, bintik hitam kecil di bawah matanya.


Adji merasa cemburu. Bukan karena takut Juwita direbut darinya namun kenapa bukan dirinya yang merasakan kuat cinta itu? Bagaimana jika nanti Juwita merasa bosan, merasa bahwa Adji mencintainya dengan cara yang sangat biasa dan hanya menyuruhnya untuk melahirkan anak demi anak?


Bagaimana jika cinta besar itu datang dari orang lain dan Juwita tergoda padanya?


"Mas? Kamu kenapa?"


"Maaf." Adji berbisik lemah. "Maaf cuma nyuruh kamu sabar."

__ADS_1


Juwita mengerjap kaget. Tak terlalu mengerti sebab Adji tiba-tiba mengatakannya tanpa alasan. Meski kemudian Juwita berpikir bahwa mungkin Adji merasa sedih karena Abimanyu tidak akan kembali lagi.


"Mas, aku yang harusnya minta maaf. Maaf udah misahin kamu sama anak kamu."


"Abimanyu bukan anak kecil. Dia emang harusnya milih soal hidup dia sendiri." Adji menyentuh pipi Juwita. "Mas enggak ngomongin soal itu."


".... Terus apa?"


Adji menunduk, mencium kecil bibir istrinya itu.


"Mau enggak kamu ngajak Mas jalan tapi ...."


Juwita memiringkan wajah. "Tapi?"


"Maksudnya anak-anak?" Juwita belum menangkapnya. "Lebih bagus ngajak anak-anak juga, Mas. Sekalian liburan keluarga."


Ya, liburan keluarga dan bersama anak-anak tentu saja sangat bagus. Namun Adji ingin sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuatnya benar-benar yakin bahwa ia mengikat hati wanita ini dan bukan hanya tentang kewajiban.


Jangan hanya karena 'anak-anak' dia bertahan pada Adji. Jangan hanya karena 'hutang budi' dia berusaha terus mencintai Adji.


Semakin Adji memikirkannya, semakin ia merasa seperti pecundang. Abimanyu memang terlihat gila dan bodoh saat dia mencintai Juwita, tapi perasaan menggebu-gebu di hatinya itu adalah sesuatu yang menyenangkan hingga dia tak berhenti.

__ADS_1


Bukankah sepantasnya itu yang hadir di antara mereka?


"Kayaknya bagus kalau kita pindah rumah." Adji memutuskan untuk tidak mengatakannya dulu karena Juwita tampaknya terlalu terbiasa jadi 'ibu rumah tangga' sampai-sampai dia lupa rasanya jadi gadis yang jatuh cinta. "Temenin mas cari rumah, gimana?"


"Eh? Kok mendadak?"


"Ngubah suasana."


"Tapi aku udah betah di sini, Mas. Masa tiba-tiba pindah? Enggak mau ah. Di sini aja."


"Juwita." Adji tersenyum. "Keputusan suami harus dijawab?"


Juwita cemberut. Bibirnya mengerucut dan nampaknya berharap Adji batal berkata demikian, tapi karena Adji cuma tersenyum, akhirnya dia menghela napas.


"Iya, Mas, karepmu."


Adji tertawa kecil. Menarik tubuh Juwita dalam pelukannya, mengusap-usap sayang punggung istrinya itu.


Dia sangat kecil sejujurnya tapi dia benar-benar bertahan sejauh ini. Adji ingin memberi dia kebahagiaan yang membuat semua rasa sakitnya itu hanya seperti mimpi buruk sesaat yang sangat mudah terlupa seiring waktu.


Kini giliran Adji menunjukkan cintanya.

__ADS_1


*


__ADS_2