
Tapi semangatnya langsung patah karena Adji. "Papa enggak ngajak kamu. Makan aja sendiri."
"Lah?"
"Siapa yang suruh kamu jailin Juwita begitu? Yang masak sarapan siapa kalau bukan dia? Kamu yang usir kan, yaudah makan sendiri."
Abimanyu mendongak. "Aku enggak ikutan loh. Banyu doang."
"Kalian sepaket."
"Lah, Pa? Kok jadi—"
"Serah kalian." Adji berjalan cepat menaiki tangga, meninggalkan kedua anaknya mengumpat kesal.
Kalau yang satu ini, jelas pelajaran.
Karena Mbak Uni tidak ada, dan pembantu rumah tangga juga tidak ada di rumah ini, sedangkan tidak ada satupun dari mereka yang bisa masak; setidaknya mereka harus tahu kalau Juwita itu dibutuhkan.
*
Juwita kali ini tidak pura-pura marah atau pura-pura kesal. Karena ia sungguhan kesal.
Matanya fokus menatap televisi, tidur di ranjang tak lupa berselimut ketika Adji datang menggendong Cetta.
Pria itu duduk di kasur, meletakkan Cetta yang menangis.
__ADS_1
Anak itu langsung menjatuhkan wajahnya ke paha Juwita, terisak-isak.
"Kita makan di luar aja, gimana?" Adji bertanya hati-hati. "Ayok. Kamu mau makan apa?"
Juwita mengusap kepala Cetta karena kasihan. Tahu sebenarnya anak ini cuma disuruh. Tapi tetap saja.
"Juwita." Adji mengulurkan tangan ke wajahnya. "Udah, yah? Kita keluar makan. Kalo anak-anak nyebelin enggak usah kamu ajak ngomong juga enggak pa-pa."
Perasaan Juwita masih buruk. Meski begitu tangannya terus mengusap kepala Cetta agar berhenti menangis.
Ternyata dia bisa merasa bersalah juga kalau diberitahu terus terang.
Juwita ikut menunduk, meletakkan wajahnya di punggung Cetta. "Belum mandi kamu?" tanyanya, menghentikan tangis anak itu. "Mandi dulu sana. Habis itu keluar makan."
"Asal kamu janji enggak bawa kura-kura sama uler lagi. Kalo langgar, enggak aku ajak ngomong selamanya."
Cetta menyengir dengan wajah basah air mata. Memang bocah murahan. Tapi, Juwita juga murahan urusan beginian, jadi mereka sebelas dua belas.
"Sana mandi. Yang bersih, yah."
Kata Adji, Melisa punya kebiasaan membiarkan anaknya mandi dan tidur sendiri sejak kecil. Jadi Cetta di usia enam tahun juga sudah tidak perlu ditemani mandi, meski masih harus dicek sesekali.
Anak itu berlari keluar, turun untuk mandi. Sementara Juwita dan Adji lagi-lagi ditinggal dalam diam.
Baru saja Juwita mau bicara, Adji mendahuluinya.
__ADS_1
"Saya enggak banyak omong karena pengen kamu sama anak-anak lebih alami deketnya." Adji tampak merasa bersalah. "Kalau kamu enggak tahan, saya bisa suruh anak-anak buat enggak banyak tingkah."
Juwita menggeleng. "Saya juga paham mereka berarti enggak lagi akting depan saya. Cuma, yah, namanya kesel."
"Kamu mau sabar?"
"Malah ditanya." Juwita meninju pelan lengan Adji. "Emang harusnya. Eh, tapi lain kali kayaknya mereka mesti dikasih pelajaran. Awas aja Abi kalo main voli lagi. Kukasih spike yang bikin tangannya patah."
Adji terkekeh. "Kamu mau tau kelemahan Banyu?"
"Udah tau."
"Apa?"
"Enggak suka diejek dapet nilai delapan puluh." Juwita melipat tangan, tersenyum iblis. "Awas aja dia. Kalo aku dapet kertas ujiannya delapan puluh, aku jelek-jelekin abis-abisan!"
Sekali lagi, Adji tertawa. "Iya, sih. Sebelas dua belas sama Abi kalo kalah."
"Emang ada lagi?"
Adji tersenyum misterius. Membisikkan sesuatu ke telinga Juwita yang langsung membuatnya tersenyum lebar.
Hoho, bocah setan itu akan ia buat menjerit kalau begitu.
*
__ADS_1