
Di sisi lain tanpa Juwita tahu, Adji duduk di sudut restoran itu, mengamati semuanya dari jauh.
Ada bagian dari diri Adji yang penasaran apakah Juwita tergoda oleh pria muda tampan itu, bagaimanapun, Juwita memang berada di usia yang cukup rentan buat berpaling hati.
Tapi dilihat dari bagaimana istrinya bersikap, Adji tahu dia tidak berpikir membuka hati. Juwita malah terlihat sibuk melamun, memikirkan sesuatu yang mungkin tentang Adji.
Harus Adji, sih.
Adji cuma duduk di sana mengamati. Cuma mau melihat bagaimana Bima memanas-manasinya dan bagaimana Juwita merespons permainan Bima itu.
Ketika satu jam akhirnya berlalu, Adji mengeluarkan ponsel. Mencari kontak Juwita buat pura-pura menghubunginya.
Ternyata diangkat.
"Halo, Mas?"
"Kamu lagi di mana?"
".... Ini di luar sama Mas Bima."
Juwita dari jauh terlihat langsung menutup wajahnya, berpaling ke arah lain. Gesturnya menunjukkan dia gelisah, tidak nyaman, dan sedih.
Adji mau bilang dia lucu sekali, berpikir kalau mereka benar-benar cerai cuma karena omongan orang.
Tapi Bima benar. Adji bukannya tidak bisa melakukan apa-apa buat membungkam mulut keluarganya.
__ADS_1
Mungkin karena Adji belum melakukan itu, Juwita jadi merasa kalau bisa semudah itu bersama dan semudah itu berpisah.
Apa Adji usili saja dia sedikit? Pembukaan buat kejutan yang Adji siapkan.
"Saya udah urus surat-surat yang dibutuhin."
Itu jujur.
Adji jujur.
Ada surat-surat yang ia urus karena dibutuhkan.
Tapi Adji tidak pernah bilang surat cerai, yah? Tidak. Tekankan itu bahwa Adji tidak pernah sekalipun mengucapkan kata cerai, pisah atau sejenisnya pada Juwita.
Makanya Adji senyum justru saat Juwita tersekat. Wanita itu mendadak beranjak, keluar dari restoran meski masih dalam jangkauan mata Adji.
"Gitu, yah." Juwita cuma membalas begitu padahal terlihat mau mengatakan banyak hal. "Yaudah."
Adji menunggu dia bilang 'kamu kok segampang itu sih langsung ngurus?' seperti halnya perempuan lain.
Biasanya perempuan memang begitu, kan? Dia yang minta cerai, begitu disetujui dia juga yang merasa tersakiti. Terus dia mungkin bakal mengungkit-ungkit hal yang pernah terjadi, terus menjadikan diri mereka korban sendirian sementara Adji adalah penjahatnya.
Buat Adji, Juwita bakal lucu kalau dia begitu. Justru Adji mau lihat Juwita menuntut agar tidak ditinggalkan.
Soalnya memang tidak pernah ada niat Adji meninggalkan.
__ADS_1
Namun Juwita ternyata cuma memendam itu sendiri.
"Aku enggak tau prosedur cerai tuh gimana." Juwita bergumam. "Kalo ada sesuatu yang perlu, Mas bilang aja. Aku enggak bakal bikin masalah."
Adji sempat diam.
Memang. Dia tidak pernah bikin masalah. Orang-orang yang selalu merongrong dia sebagai pelampiasan masalah hidup banyak orang.
Membuat Juwita seakan-akan selalu bermasalah.
"Yaudah." Adji menjawab dingin seolah-olah memang lagi membahas perceraian.
Biarpun sekali lagi, Adji tidak pernah bilang cerai. Talak tidak pernah jatuh, satu kalipun.
"Minggu depan kamu dateng ke hotel Salantika, kita ketemu notaris. Buat surat kontrak kita yang kemarin."
Juwita ternyata menangis di sana.
"Iya," jawabnya serak, sambil berusaha menghentikan tangisannya. "Nanti aku dateng. Jam berapa?"
"Jam setengah tiga pagi."
".... Sore?"
"Pagi. Notaris saya orang sibuk, jadi cuma punya waktu jam segitu."
__ADS_1
Nah kalau yang ini, sepenuhnya kebohongan Adji doang. Tapi sekali ini saja tidak apa. Karena kalau Adji tidak bohong, nanti malah ketahuan niatnya apa.
*