
Juwita sedang membuat puding untuk anak-anaknya ketika mendengar suara motor masuk ke garasi. Tahu itu Abimanyu, adik-adiknya langsung berlari keluar kecuali Yunia yang tidur siang di sofa.
Itu hanya kebiasaan lama Juwita menyambut kedatangan anak tiri pertamanya. Itu sudah sejarah. Kini Juwita fokus pada pekerjaannya saja, tidak peduli Abimanyu melakukan apa.
Toh dia punya istri. Karena bagi Juwita tugas istri adalah melayani suaminya, maka Sakura yang harus melakukan itu.
"Juwita." Tapi suara Abimanyu memaksanya berpaling. "Gue haus."
"Oh." Juwita hanya menjawab sambil lalu. "Suruh Sakura beliin kamu air di supermarket."
"Lo yang bilang kayak dulu." Abimanyu tersenyum mengejek. "Kayak dulu gini kan, Mama?"
Juwita menahan umpatan dan berbalik ke kulkas untuk mengambilkan Abimanyu botol airnya. Anak itu malah duduk di kursi seberang meja tempat Juwita bekerja, hingga mau tak mau Juwita melihat dia bahkan ketika menunduk.
Untungnya ada Mbak Icha dan Mbak Sumi di depan televisi, tengah menonton. Paling tidak ada jaminan Abimanyu tidak terlalu dekat.
Juwita mengulurkan tangan, berniat mengambil pisau buah di dekat tangan Abimanyu tapi mendadak ia mencium sesuatu.
"Abimanyu." Juwita melotot. "Kamu masih main cewek?!" tanyanya berbisik tapi penuh penekanan.
__ADS_1
Anak ini berbau perempuan. Parfum perempuan yang bukan parfum Sakura. Mereka tinggal bersama jadi Juwita jelas mulai hafal aroma parfum menantunya. Itu wangi lembut, bukan wangi ... ugh, terlalu menggoda begini.
Abimanyu menatapnya tanpa ekspresi. "Emang gue pernah bilang enggak?"
"Kamu punya istri!"
"Siapa yang minta istri, Juwita?"
"Kamu kira bisa menang pake logika cacat kayak gitu?" Juwita menunjuk anak-anaknya yang kini fokus bermain ponsel. "Kamu mau ngapain kalo mereka besar, ketemu makhluk kayak kamu, hah?!"
"Ceramah kayak gitu udah enggak mempan ke gue, Mama." Abimanyu tersenyum getir. "Tapi tenang aja. Gue sama mereka beda."
Abimanyu beranjak pergi, meninggalkan Juwita yang memijat pelipisnya.
*
Abimanyu membuka pintu kamarnya dan masuk tanpa menyapa Sakura. Pria itu meloloskan jaket dan kaus dari badannya, lalu masuk ke kamar mandi.
Sementara Abimanyu melakukannya, Sakura mengambil jaket Abimanyu. Mencium aroma yang jelas-jelas bukan miliknya di sana.
__ADS_1
Sakura tahu Abimanyu selalu lama saat mandi, maka perempuan itu beranjak bersama jaket Abimanyu, pergi menemui Juwita.
"Hasil didikan Tante juga?" kata Sakura, mendorong jaket Abimanyu di atas meja.
Tentu saja Juwita yang baru saja tenang setelah menenangkan diri kembali naik darah.
"Maksud kamu apa?"
Walau itu ditahan karena selain ada anak-anak juga ART, anak menantunya ini sangat merepotkan.
"Abimanyu selingkuh, selain dari Tante. Atau Tante cuma mau nontonin berhubung Tante itu cuma mama tirinya?"
Juwita mengeraskan rahang. "Kamu makin hari jadi makin kurang ajar, Sakura. Kamu pikir ngomong begini—"
"Jangan sok jadi korban." Sakura melotot. "Yang terpaksa masuk ke keluarga gila ini aku, bukan Tante. Tante itu yang ngancurin semuanya jadi mending Tante sadar diri perbaikin kesalahan Tante."
Juwita menggigit lidah. Karena ia rasa kalau tidak, maka sekarang juga ia menjadi gila dalam arti sesungguhnya.
Anak kurang ajar ini, Juwita tahu dia merasa terluka dan dibodohi tapi kenapa dia melampiaskan seluruhnya pada Juwita? Kenapa dia bersikap seakan-akan Juwita yang harus bertanggung jawab atas seluruh kesialan di hidupnya?
__ADS_1
Sabar, Wi, sabar. Juwita mengingatkan diri. Ada anak-anak. Sabar. Lawannya juga anak-anak jadi sabar aja.
*