
Adji tiba-tiba membeku. Menoleh pada Juwita yang terlihat polos mengatakannya.
"Saya tau makin kita jago makin kita ditinggalin. Saya juga paham kalo kita di puncak, sembilan puluh sembilan persen yang deketin kita cuma penjilat. Tapi, emangnya enggak boleh? Kan emang hukum alam."
Entah kenapa Adji tak dapat membalas.
"Yah, saya juga paham sih kamu enggak mau Abi jadi sombong. Maksud saya, yang saya liat dari Abi kayaknya bukan sombong. Dia itu, apa ya?"
Adji merasakan jantungnya luruh saat Juwita tersenyum.
"Cuma enggak suka kalah?" Gadis itu terkekeh. "Orang kayak gitu nyebelin banget kalo kita seumuran, tapi kalo ngeliat dari jauh, bakal langsung bisa dibedain mana yang serius sama hidupnya mana yang enggak."
"...."
"Anak kamu kayaknya sayang banget sama waktu remajanya, makanya dia mau menang terus. Emangnya salah?"
*
Dulu, Adji pernah berpikir bahwa punya anak kecil itu merepotkan. Saat Adji senang, ia sangat berharap anaknya lambat dewasa agar tetap bermain dengan ceria bersama Adji.
Tapi, saat Adji lelah, ia berharap anaknya cepat dewasa agar tidak menyusahkan.
Setelah Abimanyu mulai remaja disusul Banyu, Adji mulai menerima kenyataannya bahwa ... jadi orang tua adalah pekerjaan tanpa masa akhir.
Anaknya kecil, dia sangat merepotkan minta main dan main. Saat anaknya besar, Adji yang sudah kerepotkan memikirkan hidupnya jadi ikut repot memikirkan bagaimana masa depan anaknya nanti.
__ADS_1
Sampai-sampai Adji lupa kalau itu tetap hidup anaknya.
Pikiran Adji langsung bercabang memikirkan ucapan sederhana Juwita. Seolah dia berkata seharusnya Adji lebih menerima Abimanyu dan tidak menjadikan rasa takutnya sebagai alasan menghentikan pertumbuhan anak itu.
Turun ke bawah, Adji melihat Abimanyu tidak bersemangat karena gagal ikut ternamen.
Terus terang Adji merasa sedikit 'senang' dia gagal, karena pikir Adji itu bisa memberi dia pelajaran.
"Kakak."
Suara Cetta membuat Adji menoleh, tersenyum melihat anaknya akrab dengan Juwita.
"Apa, Sayang?" Juwita membalas manis, tak lupa tersenyum lebar.
"Cetta punya hadiah."
Cetta mengulurkan bayi kura-kura yang membuat Juwita langsung menjerit.
"AAAAKKKKHHHH!"
Senyum Adji berubah masam. Langsung ia melihat anak keduanya, Banyu, tengah pura-pura main PS padahal bahunya teeguncang oleh tawa.
Bocah ini. Dia selalu menyuruh adiknya berbuat nakal lalu lepas tangan.
"Cetta, sini."
__ADS_1
Anaknya datang dengan wajah ceria, karena dia cuma mengikuti bagaimana semua orang tertawa melihat Juwita histeris.
"Kura-kuranya sini."
Cetta memberikannya, dan Adji memulangkan itu ke akuarium.
Juwita berusaha keras menetralkan napasnya karena terkejut pagi-pagi. Waktu Adji mau mendatanginya, tiba-tiba Juwita berseru.
"Kalian bertiga, sampe nangis darah juga enggak bakal aku ajak ngomong lagi!"
Lalu Juwita dengan mata terluka melihat Cetta.
"Kamu jahat sama Kakak! Kita enggak temenan lagi! Putus aja!"
Juwita beranjak pergi, naik ke lantai tiga sebelum sarapan selesai dibuat.
Pandangan Adji langsung tertuju pada putra bungsunya. Bibir dia mulai maju, matanya berkaca-kaca sebelum semua berubah jadi tangisan.
Abimanyu minum susu, menganggap tangisan adiknya musik pagi hari. Banyu malah pura-pura tuli, tidak mau tanggung jawab.
"Sini, Nak." Adji mengambil Cetta yang menangis sedih. Karena dia yang paling kecil, selalu dia korbannya. "Enggak marah Kakaknya, Nak. Becanda tadi."
Adji menepuk-nepuk punggung Cetta.
"Jangan dengerin Banyu lagi, yah? Enggak usah dengerin dia lagi. Kita ke Kakak aja. Ayok, makan di luar bertiga."
__ADS_1
"Yes, makan di luar." Banyu beranjak.
*